
Setelah rapat usai, permaisuri dan kaisar berjalan meninggalkan ruangan, disusul dengan bangsawan lainnya.
Ratu yang mendengar rapat unik itu, bertanya ke pelayan pribadinya, Vi. "Kekerasan rumah tangga dan seksual? Hal konyol apa yang dikatakan anak usia lima belas tahun? Apa dia ingin mencari muka?"
Vi yang berdiri di belakang sofa ratu, tertawa. "Yang Mulia, mungkin dia putus asa karena tidak punya apa pun setelah keluar dari duke Vilvred."
"Anak seperti itu memang pantas dihukum karena sudah menimbulkan kehebohan, untung saja pangeran mahkota sudah menyatakan berpisah."
"Dewa Helcia masih melindungi pangeran mahkota."
"Putraku memang anak yang diberkati, tidak ada keraguan lain."
"Ya, Yang Mulia Ratu."
Di istana permaisuri. Para dayang menyambut permaisuri dan salah satu membantu melepas mantel.
"Permaisuri, apakah tidak ada pertanyaan kenapa anda keluar?"
"Tidak, kaisar pun tidak bertanya. Sepertinya mereka memang melupakan pangeran pertama."
"Jika memang terjadi sesuatu pada pangeran pertama- saya tidak tahu apa yang terjadi."
"Mereka orang-orang serakah, suatu hari semua akan terkuak."
"Benar."
"Apakah Daniela mengunjungi tempat ini?"
"Tidak, Yang Mulia."
"Sayang sekali, aku kira dia berkunjung. Padahal aku ingin menyambutnya." Kata permaisuri sambil duduk di sofa dan menikmati teh yang disediakan para dayangnya. "Jika anak itu datang ke sini, beritahu aku."
"Baik."
"Ha- hatiku sedang membaik sekarang karena bisa melihat wajah pucat para pendukung kaisar."
"Rata-rata yang mendukung kaisar, juga mendukung pangeran mahkota. Kebanyakan dari mereka mengikuti metode kaisar dengan memiliki istri lebih dari satu, tapi karena hanya kaisar saja yang boleh, maka mereka menjadikannya simpanan."
"Yah, begitulah pria. Aku terkejut, Daniela berani membahasnya di rapat bulanan bangsawan."
"Duke Aelthred memang berani seperti ibunya."
"Ha-" permaisuri menghela napas. "Aku jadi merindukannya."
"Beliau sudah tenang karena anda menjaga anaknya dengan baik."
"Aku masih belum bisa menjaganya dengan baik. Semoga putraku bisa mengatasinya dengan baik."
"Anda masih ingin menjodohkan mereka berdua?"
Permaisuri tersenyum. "Bukankah bagus mereka berdua bersama?"
__ADS_1
"Tapi, Aelthred dikenal sebagai keluarga pemberontak, tidak cocok dengan pangeran pertama."
"Siapa yang mengatakannya?"
"Semua bangsawan pasti akan berpikiran sama, tidak mungkin keturunan pemberontak menjadi pasangan pangeran pertama saat menjadi kaisar."
"Bagaimana jika mereka menikah sebelum putraku naik tahta?"
"Yang ada malah disuruh cerai, permaisuri."
"Tidak, mereka tidak bisa ikut campur jika kuil turun tangan bela Daniela."
"Masalahnya kuil ada di pihak netral, jika memang lady ingin menarik pihak kuil, sepertinya harus berusaha keras. Terutama pendeta agung tidak suka dengan politik."
"Kita lihat saja ke depannya, apakah Daniela bisa menarik minat pendeta agung ke sisinya."
Dayang pribadi permaisuri, menatap cemas permaisuri. "Yang Mulia, abda bersungguh-sungguh?"
"Untuk soal ini, aku tidak pernah main-main. Dulu aku tidak peduli dengan tahta, asalkan dua anakku selamat- tapi sekarang, mungkin aku sedikit berubah pikiran setelah melihat perilaku para bangsawan pria."
"Pria adalah pria, wanita tidak bisa mengusiknya."
"Termasuk, aku tidak diizinkan menjadi kaisar hanya karena seorang wanita?" tawa permaisuri. "Aku ingin melihat wajah pucat para penentang, apakah mereka masih bisa bangga dengan sikap mereka?"
______
Edrik yang baru pulang dari kuil, terkejut melihat kain putih polos, di depan perapian.
Edrik bergegas mendekatinya dan duduk di samping. "Hei, kenapa kamu ada di sini? Bukankah rapatnya masih lama? Aku sudah dengar di kuil kalau ibu akan membuat aturan yang kamu ajukan dan akan diresmikan dalam waktu dekat. Harusnya kamu bersyu-"
"Saya sudah melihat semuanya."
"Hah?"
"Saya memang terlalu menggebu-gebu, harusnya aku tidak terlalu percaya diri tadi. Begitu ayah muncul, entah kenapa kepala sepertinya kosong."
"Apakah kamu takut pada duke Vilvred?"
Daniela menggeleng. "Saya tidak bisa membantah semua perkataannya, sudah sejak kecil."
"Apakah begitu caranya duke mendidik kamu?"
"Saya disuruh mengalah dari Ella, semua perkataan ayah harus didengar dan saya juga ingin seperti Ella, mendapat kasih sayang dari ayah. Kenapa saya tidak memikirkan masalah ini dari awal?"
Daniela merasakan tepukan di atas kepalanya.
"Karena kamu konsentrasi membantu countess dan aku, kamu tidak memikirkan diri sendiri. Aku bisa membantu jika ada masalah pada dirimu, Daniela."
Daniela menatap Edrik dengan mata berkaca-kaca. "Aku hampir saja gagal tadi, jika permaisuri tidak datang- semua usahaku akan sia-sia."
"Tidak, semuanya adalah usaha kamu. Jangan hanya karena muncul makhluk aneh, kamu jadi sedih begini."
__ADS_1
Daniela menghapus air mata dan kembali menatap perapian. "Anda pasti marah jika saya gagal."
"Jika kegagalan kamu menyebabkan kehilangan banyak nyawa, aku akan marah."
Daniela menghela napas dan mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana pekerjaan di kuil?"
"Sangat menyenangkan, setidaknya aku bisa makan banyak." Edrik menepuk perutnya yang mulai buncit. "Besok aku harus olah raga banyak untuk menghilangkan lemak menyedihkan. Kemana-mana aku harus memakai topeng dan tidak bicara banyak, sangat menyedihkan."
"Setidaknya tidak ada yang boleh tahu anda ada di ibukota."
"Iya, aku tahu."
Daniela meregangkan badan. "Sebaiknya saya istirahat, anda juga harus istirahat besok supaya bisa bekerja di kuil dengan semangat."
"Tunggu! Aku masih harus kerja di kuil? Yang benar saja!" teriak Edrik yang menggema di dalam ruangan.
Daniela sudah terbiasa dan mengabaikannya.
"Kamu benar-benar wanita jahat!"
Perang masih belum selesai bagi Daniela.
Kediaman Vilvred.
"Duke." Kepala pelayan menyambut duke Vilvred setelah turun dari kereta kuda.
"Duchess, putra dan putriku?"
"Duchess istirahat di dalam kamar, putri anda baru keluar bertemu dengan teman-temannya dan saat ini sedang istirahat di dalam kamar, putra anda seharian bermain dengan lincah jadi tidak perlu khawatir. Beliau pasti akan menjadi pewaris yang hebat dan sehat untuk Vilvred."
"Ada masalah di rumah?"
"Damai seperti biasanya."
Langkah kaki duke berhenti ketika mendengar jawaban dari kepala pelayan. "Damai? Apakah selama ini Daniela membuat masalah?"
"Tidak pernah, duke. Meskipun ada satu atau dua cerita, tidak perlu anda tahu."
"Keegoisan anak kecil?"
"Duke."
"Tidak apa, aku mengerti. Anak seperti itu memang tidak perlu diurus, dia seperti ibunya yang pembangkang." Duke Vilvred bergegas masuk ke dalam.
Kepala pelayan menghela napas. Kasihan sekali duchess sebelumnya dan lady Daniela, kenapa duke tidak pernah sekalipun melihat kebaikan mereka berdua?
Salah satu pelayan yang mengikuti kepala pelayan, bertanya. "Tuan besar terlihat membenci duchess sebelumnya dan lady Daniela, bahkan di tempat ini tidak ada foto mereka berdua seolah tidak pernah ada. Apakah anda tidak merasa aneh?"
"Kita hanya pelayan, tutup mata dan mulut jauh lebih baik. Jangan sampai pihak luar tahu masalah ini."
"Baik."
__ADS_1