AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
TUJUH PULUH SATU


__ADS_3

"Pangeran pertama, anda baik-baik saja? Biar saya pukul pelan-pelan bagian ini." Kata Zuu sambil memukul pinggang Edrik dengan perlahan.


Marquess Bill bertanya pada Daniela. "Duke, bagaimana bisa anda kemari?"


"Memangnya tidak boleh?" Tanya Daniela yang masih kesal dengan kelakuan Edrik. "Karena dewa sialan, aku harus menghadapi pedang pangeran kejam!"


Marquess Bill mengerutkan kening. "Dewa? Apakah anda dikirim dewa?"


Daniela menutup mulut dan berusaha mencari alasan. "Uhm- ya- mungkin bisa dibilang begitu?"


Marquess Bill tidak paham. "Bagaimana?"


Daniela tersenyum cerah. "Pendeta agung yang mengirim saya ke sini, dia bilang saya harus membersihkan sesuatu-"


Sayangnya Daniela lupa apa yang dikatakan dewa waktu itu.


"Membersihkan?" Tanya Marquess Bill.


Daniela bertanya pada Marquess Bill. "Apakah di sekitar sini ada patung dewa?"


"Patung dewa di wilayah ini hanya satu di dalam kuil, di belakang anda." Tunjuk Marquess Bill.


Daniela balik badan dan terkejut. "Wow, ternyata langsung dikirim ke tempat ini."


"Duke, mengapa anda pakai gaun dan mahkota Permaisuri?" Tanya Marquess Bill penasaran.


"Hm? Anda tahu semua yang saya pakai milik Permaisuri?"


"Meskipun anak saya lebih muda dari Pangeran Pertama, usia saya dua puluh kali lebih tua dari Permaisuri," sahut Marquess Bill.


"Ah." Angguk Daniela yang langsung minta maaf.


Marquess Bill semasa muda sibuk di istana dan diangkat menjadi penasehat kerajaan, tidak memiliki waktu untuk berhubungan romantis, dia baru bisa menikah di usia empat puluhan setelah jatuh cinta pada anak dari dokter ayahnya sendiri.


Daniela bicara jujur ke Marquess Bill. "Tetua Vilvred memberikan pinjaman mahkota ke saya, meskipun saya menolak- mereka tetap memaksa, akhirnya permaisuri meminjamkan gaun dan mahkota ini."


Marquess Bill sudah tahu fakta mengenai permaisuri sangat menyayangi Daniela.


Daniela menatap patung dewa yang sangat besar itu. "Sekarang, bagaimana cara membersihkan patung ini?"


Zuu yang sedari tadi membantu Edrik untuk menurunkan rasa sakit, bertanya pada Daniela. "Di saat seperti ini, anda mau membersihkan patung?"


Daniela mengangguk. "Ya."


"Anda bukan pendeta, bagaimana caranya anda membersihkan?" Tanya Zuu tidak mengerti.

__ADS_1


Daniela menjadi bingung. "Memangnya harus pendeta yang membersihkan?"


Marquess Bill langsung paham pembicaraan antara Zuu dan Daniela yang terlihat menyambung tapi sebenarnya tidak. "Duke, apa yang anda pikirkan ketika harus membersihkan patung?"


"Apa? Tentu saja membersihkan patung dari atas sampai bawah." Jawab Daniela dengan percaya diri.


Zuu mengangguk setuju. "Tentu saja, membersihkannya harus secara keseluruhan."


"Duke, apakah menurut anda- membersihkan patung yang diperintah adalah menggunakan air dan kain lalu mengelap sampai mengkilat?" Tanya Marquess Bill yang tidak sabar.


Daniela mengangkat kedua alis dan menatap Marquess Bill. "Tentu saja, apakah ada yang lain?" Tanyanya dengan heran.


Marquess Bill menggeleng tidak percaya. Anak berusia lima belas tahun tetaplah memiliki pengalaman dan pemikiran terbatas.


Mulut Zuu menganga lebar ketika sudah paham bahwa percakapannya dengan Daniela sedari awal tidak sama.


Daniela menatap Marquess Bill dan Zuu bergantian. "Memangnya ada cara membersihkan yang lain? Apakah selama ini para pendeta menggerakkan sapu dan pel lalu menggosok patung menggunakan mana?"


Meskipun Daniela pernah menjadi wanita dewasa, ruang lingkupnya masih terbatas.


Di kehidupan pertama sebagai anak Duke, yang bisa dilakukannya hanyalah bersenang-senang di sekitar wilayah dan ibukota, begitu menjadi permaisuri pun, tidak pernah keluar istana dan hanya ingin mencari cinta kaisar supaya tidak ditendang dari istana.


Di kehidupan kedua sebagai anak perempuan yang lahir dari keluarga religius, Daniela tidak pernah diizinkan keluar dari rumah sembarangan, bahkan berhubungan dengan lawan jenis tanpa izin keluarga, ditentang.


Edrik berdiri sambil memegang pinggangnya. "Kamu dikirim pendeta agung tanpa diberikan instruksi?"


Daniela cemberut.


Edrik berjalan mendekati Daniela lalu berdiri di belakangnya.


"Apa yang kamu lakukan?!" Teriak Daniela lalu memanggil dewa di dalam hati.


Dewa masih tidak menjawab panggilannya.


"Diamlah!" Edrik angkat kedua tangan Daniela lalu diarahkan ke patung dewa. "Di medan perang, aku melihat salah satu pendeta tinggi membersihkan patung dewa hanya seperti ini."


Daniela mengerutkan kening tidak percaya lalu mendongak ke belakang.


Edrik menundukkan kepala, menatap lurus Daniela. "Apa?"


Daniela menyuarakan pikirannya lalu terkikik geli. "Ternyata bibir Pangeran Pertama ciumable."


Hah? Ciumable?


Edrik, Marquess Bill dan Zuu terkejut.

__ADS_1


"Ci- cium?" Tanya Zuu.


"Abel? Apa itu abel?" Tanya Marquess Bill. "Apakah bahasa anak muda zaman sekarang?"


Daniela menggeleng tidak percaya pada dirinya sendiri. "Tidak, lupakan saja!"


Edrik ingin mengatakan sesuatu lalu ditahannya ketika melihat Daniela berjalan mendekati patung dan hampir menyentuh patung, sontak Edrik meraih tangan kurus anak perempuan itu. "Apa yang kamu lakukan?"


Daniela mengerutkan kening dan menatap bingung Edrik. "Aku hanya ingin membersihkan patung."


"Jangan menyentuhnya dengan tangan kosong, jika patung ini benar tercemar- kamu bisa tertular." Edrik menarik mundur tubuh Daniela. "Apakah pendeta agung tidak pernah beritahu soal ini?"


Daniela otomatis menggeleng, karena yang melemparnya adalah dewa bukan pendeta agung.


Punggung Daniela bersentuhan dengan bagian depan Edrik. Untuk tinggi badan Daniela yang hanya 158cm, punggung hanya bersentuhan sampai perut jika berdampingan dengan Edrik yang memiliki tinggi badan 190cm.


Edrik mulai memberikan instruksi. "Pejamkan mata dan rasakan sesuatu di sekitar tangan."


Daniela menutup mata dan merasakan mana mengalir di tangannya.


"Rasakan perlahan dan-"


Tanpa sengaja pinggang belakang Daniela menyentuh bagian bawah Edrik, dan mana di sekitar tangan terlepas.


Mana yang tadinya berkumpul di sekitar tangan Daniela, tanpa sengaja menghancurkan patung dewa.


Zuu dan Marquess Bill tidak tahu harus berkomentar apa melihat patung dewa yang sudah hancur berkeping-keping.


Di kepala Daniela bisa terdengar suara dewa yang marah sekaligus menangis.


"Tidaaaaak! Wajahku yang tampan! Apa yang kamu lakukan pada tubuh dan wajahku yang tampan?! Apakah kamu ingin membunuh aku untuk balas dendam? Aku sudah berbaik hati memberikan berkah yang tidak diterima semua orang, tapi kamu malah menghancurkannya!"


"Sabar dewa! Anda sendiri dari tadi kemana? Dia berusaha memanggil anda."


"Aku? Aku sedang keluar sebentar dan tidak aku sangka- bukannya memperbaiki malah menghancurkan patungku!"


Daniela juga tidak terima disalahkan lalu balik badan dan menunjuk Edrik tanpa takut. "Apa yang sudah kamu lakukan padaku?!"


Edrik menatap tidak mengerti Daniela. "Aku hanya ingin membantu, tidak aku sangka malah menghancurkan patung dewa."


"Ta- tapi- i- itu-" Daniela tidak tahu harus mengatakan apa.


"Itu?" Tanya Marquess Bill.


"Itunya Pangeran Pertama menyentuh pinggangku!" Tunjuk Daniela ke bagian tengah ************ Edrik.

__ADS_1


__ADS_2