AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
TIGA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Pendeta agung menunduk untuk melihat Daniela. "Tidak ada yang bisa memukul kamu lagi, kamu bisa tenang."


Daniela mengangguk singkat lalu mendadak merasakan sakit di lengan atas kanannya.


Daniela cepat-cepat menggulung lengan baju dan melihat bekas luka seperti disayat benda tajam.


"Ah, anda terluka!" Teriak salah satu lady.


Lady lain langsung mengerumuni Daniela.


"Duke Vilvred menyakiti anda?"


"Ya, ampun. Kapan duke menggunakan pedang? Ini seperti disayat benda tajam."


"Apakah anda baik-baik saja? Tidak sakit? Lukanya terlihat baru."


"Sebaiknya cepat-cepat diobati."


"Jangan dibiarkan, luka ini bisa menimbulkan bekas."


"Pendeta tinggi, tolong obati."


Para lady bicara bersamaan.


Daniela didorong pendeta Rohan untuk mengikuti pendeta agung yang sudah berjalan terlebih dahulu.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan duke Aelthred. Kami akan segera mengobatinya, para lady silahkan ikuti pendeta lainnya."


Daniela menyentuh luka yang sudah mengering itu, agak perih. Apakah pangeran pertama sedang terluka sekarang? Aku ingin minta tolong ke pihak kuil tapi tidak mungkin, kuil pasti akan curiga mengenai kondisiku.


Di ruang kerja pribadi pendeta agung, Daniela didudukan di sofa lalu pendeta agung mengobati Daniela dengan sebuah cairan dan kain bersih.


"Cairan ini adalah air suci yang sudah didoakan lalu kainnya juga bersih." Pendeta agung melepas topengnya dan diserahkan ke pendeta tinggi Rohan.


Pendeta tinggi Rohan izin undur diri karena harus membersihkan kekacauan yang sempat dibuat duke Vilvred.


Daniela yang mendengar itu sontak menutup lukanya. "Yang benar saja! Apakah tidak bisa menggunakan kekuatan suci?"


"Buat apa membuang-buang tenaga hanya untuk mengobati luka?"


"Bukankah luka kecil ini justru gampang diobati dengan kekuatan suci?"


Pendeta agung menjentikkan jari di dahi Daniela. "Apakah kamu belum belajar sesuatu di kuil? Jangan terlalu mengandalkan kekuatan suci."

__ADS_1


"Kenapa?" Daniela menggosok dahinya yang kesemutan. "Apakah kekuatan suci hanya bisa dipakai secara terbatas?"


"Tidak, kekuatan suci bisa digunakan kapan pun. Masalahnya manusia dilarang terlalu sering mengandalkan anugerah dari dewa, supaya jika terjadi sesuatu di masa depan, kita tidak akan menyalahkan para dewa." Pendeta agung menarik tangan Daniela yang terluka lalu memeriksa lengan atasnya kemudian pipi yang ditampar duke. "Duke terlalu kuat menggunakan kekuatannya, padahal kamu hanya seorang anak perempuan. Apakah dia berharap kamu anak laki-laki?"


Daniela teringat dengan sakit hatinya lalu menunduk.


"Ada apa? Apakah kamu masih mengharapkan duke menyesal dan ingin kamu kembali?"


Daniela menggeleng cepat, air matanya perlahan keluar ketika pendeta agung membersihkan luka dengan air suci.


"Apakah saya tidak pantas lahir di dunia ini?"


"Siapa yang bilang begitu?"


"Ayah. Dia terlihat membenciku sejak lahir."


"Tentu saja dia akan membenci kamu, dia mencintai anak perempuan kepala pelayannya lalu tiba-tiba ibu kamu muncul dan menghalangi cinta mereka. Saat ini tidak ada yang menyalahkan cinta seorang duke dan anak kepala pelayan, mereka menganggapnya romantis lalu membenci orang-orang yang menghalangi cinta mereka."


"Aduh!"


Pendeta agung menekan lembut luka Daniela dengan kain bersih. "Tahan."


Daniela menatap lurus pendeta agung yang bersabar membersihkan lukanya. "Saya tahu ayah membenci saya, tidak ingin saya lahir. Tapi, saya berharap ayah berubah pikiran- rupanya pikiran itu terbawa sampai sekarang."


Daniela menggeleng singkat. "Tidak, saya tidak takut pada duke. Hanya saja saya tidak bisa melawan, sekalinya melawan malah hati kecil yang diutarakan. Saya sangat kesal."


"Kamu tumbuh di keluarga Vilvred, meskipun sudah memutuskan pergi- tetap saja masih ada yang tersisa. Tidak mudah dilepas begitu saja, butuh waktu untuk melepasnya."


Daniela menghapus air mata dengan punggung tangan lalu terisak. "Saya ingin melawannya, saya ingin melawan mereka yang sudah menyakiti saya dan ibu."


"Ya, benar. Lawan saja atau lebih baik menghindarinya untuk sementara waktu."


"Menghindar?"


"Sepertinya melawan duke Vilvred adalah kelemahan kamu saat ini, jalan terbaik adalah menghindar."


Daniela menggeleng. "Tidak, saya tidak bisa menghindar begitu saja. Di masa depan pasti akan melawan ayah dan orang-orang dewasa, saya-"


Pendeta agung menepuk kepala Daniela. "Kamu masih berusia lima belas tahun, jangan berpikir berat melawan mereka. Kumpulkan pengetahuan terlebih dahulu baru bisa melawan mereka semua."


"Pengetahuan?"


"Kamu bisa minta ke permaisuri mengenai daftar bangsawan dan bisnis apa saja yang mereka kembangkan."

__ADS_1


"Bisnis? Apakah saya harus balas dendam dengan mengganggu bisnis mereka? Yang benar saja! Saya baru lepas dari belenggu keluarga Vilvred dan harus menggunakan otak untuk melawan mereka?" Tanya Daniela tidak percaya.


Yang jadi masalah adalah Daniela baru sadar bahwa dirinya tidak memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman. Hanya mengandalkan sifat percaya diri dari kehidupan modernnya.


Daniela menyadarinya saat berada di rapat bulanan bangsawan dan menghadapi ayahnya.


"Sejak awal saya memang ingin mengembangkan bisnis dan berhubungan baik dengan mereka tapi- tapi-"


"Tapi ketika kamu bertemu dengan duke Vilvred, semua menguap begitu saja. Kamu jadi tidak percaya diri melawan."


Daniela tidak bisa membantahnya, dia memang masih takut menghadapi duke karena terbiasa.


Daniela di kehidupan manapun memang tidak terlalu dekat dengan dewa dan jarang ke kuil, tapi dia sangat menghargai serta menghormati ayah kandungnya karena hanya orang itu keluarga yang tersisa. Perasaan itu tanpa sadar sudah tertanam di benaknya sejak kecil.


"Apakah kamu tahu bagaimana cerita kematian duchess sebelumnya?"


Daniela mengangguk singkat. Ibunya meninggal dalam kesepian, tidak ada yang merawat karena duke sibuk mengurus kekasihnya, begitu juga para pelayan di sana.


"Setelah kamu tahu hal itu, apakah kamu masih mengharapkan cinta dari pembunuh ibu kamu?"


"Saya-"


Pendeta agung mengangkat tangan Daniela yang sempat ditarik duke. "Kamu lihat ini? Apakah kamu pernah melihat duke melakukan hal yang sama ke adik kamu?"


Daniela menggeleng singkat.


"Lalu apa yang kamu harapkan padanya? Duke Vilvred sudah mencuri harta, status dan bahkan nyawa keluarga Aelthred."


Daniela menarik napas dan menahannya sebentar untuk mengumpulkan amarah sekaligus sedih di dirinya lalu menghembuskan perlahan.


"Jangan mengharapkan cinta pada pembunuh dan pencuri, mereka tidak akan pernah peduli pada nasib orang lain dan hanya memikirkan kerugian diri sendiri."


Daniela menggigit bibirnya.


"Pikirkan saja kebangkitan keluarga Aelthred, bersamaan dengan itu pasti akan muncul orang yang benar-benar mencintai kamu. Cinta tidak perlu dikejar, cinta akan datang sendiri. Sama dengan anugerah dewa yang diberikan ke para pendeta."


Daniela bertanya ke pendeta agung. "Kenapa anda membantu saya sampai sejauh ini? Saya jelas merugikan pihak kuil dan tidak memberikan apa-apa. Tapi kenapa anda-"


"Apakah harus dipertanyakan lagi?"


"Ya?"


"Hal yang sudah jelas, apakah perlu dipertanyakan lagi?"

__ADS_1


Daniela tidak tahu harus menjawab apa, masalahnya dia bingung hal apa yang sudah jelas itu?


__ADS_2