
Edrik berangkat bersama Zuu pagi-pagi buta di saat Daniela sudah tertidur lelap di depan perapian seperti biasanya.
Zoe terpaksa menjaga Daniela sesuai perintah.
Daniela yang berangkat ke kuil tiga jam kemudian, tidak bertanya ke Zoe mengenai keberadaan pangeran pertama.
Daniela melihat Andi berdoa di samping tempat tidur sambil menautkan kedua tangannya dan menggumam kecil.
Daniela yang mengantar makanan bersama pendeta tinggi rahul, tidak berani mengganggu doa Andi.
Pendeta tinggi Rahul mengerutkan kening. "Andi."
Andi terkejut dan balik badan.
"Apakah kamu berdoa sepanjang malam?"
Andi menundukkan kepala dengan gugup, kelakuannya seperti anak kecil yang ketahuan mencuri.
Daniela menoleh ke pendeta tinggi Rahul. "Bukankah tidak apa berdoa sepanjang malam? Dewa pasti akan maklum."
"Tidak wajar jika menyakiti diri sendiri. Sekarang Andi, bisa dijelaskan alasan sesungguhnya kamu berusaha bunuh diri?"
"Sudah aku bilang, dewa benci padaku dan aku harus mati. Dewa sudah mengutuk aku!"
"Dan siapa yang mengatakan itu? Dewa?"
Andi terdiam dan tubuhnya mengerut.
Daniela yang berdiri di samping pendeta tinggi Rahul, menjadi kasihan melihat sosok Andi. Teringat dengan agama ekstrim di dunia modern dan ajaran kuno yang tidak cocok dengan hak asasi makhluk hidup.
"Boleh aku bertanya kepada Andi?" tanya Daniela ke pendeta tinggi Rahul, mereka berdua rekan sekarang, jadi tidak ada kecanggungan saat bicara non-formal.
Pendeta tinggi Rahul sudah diberikan saran oleh pendeta agung, jadi dia mempersilahkan Daniela untuk bicara ke Andi.
Daniela duduk berhadapan dengan Andi, tidak berani terlalu dekat. "Andi, aku masih muda dan tidak terlalu paham tentang agama tapi sebagai yang lebih tua, tentu kamu paham agama yang dianut masyarakat Helcia."
"Tentu saja, dewa Helcia adalah segalanya untuk kita," jawab Andi dengan bangga. "Tanpa dewa, kita tidak akan bisa hidup, dewa juga yang memberikan kehidupan untuk kita."
"Jika memang dewa memberikan kehidupan untuk kita, kenapa dewa ingin kematian untuk kita? Bukankah itu sia-sia?"
Andi mengerutkan kening dan melempar tatapan konyol ke Daniela. "Apakah kamu tidak paham tentang sifat baik dan jahat manusia? Dewa sangat membenci kejahatan! Hal ini sangat mendasar untuk kehidupan kita."
__ADS_1
"Ah, aku paham sekarang." Daniela mengangguk. "Dewa benci pada kejahatan."
Andi mendengus keras untuk mengejek Daniela.
Daniela tersenyum kecil. "Lalu, apakah dewa memiliki kehormatan dan harga diri tinggi?"
"Apa?"
"Dari perkataan kamu- seolah, jika kita bertemu dengan orang yang sudah menyalahi aturan dewa bagi pikiran kita, wajar untuk membunuhnya demi dewa. Itu berarti, dewa memiliki kehormatan dan harga diri tinggi?"
Andi menjadi bingung lalu mengalihkan tatapannya ke pendeta tinggi Rahul.
Pendeta tinggi Rahul tersenyum. "Dijawab saja, saya juga penasaran."
Andi menjelaskan dengan raut wajah ragu. "Dewa paling tinggi diantara manusia, dewa juga yang menciptakan semua kehidupan. Sebagai manusia, kita harus bisa menciptakan kebaikan dan tidak membuat kejahatan, jika melakukan hal jahat- dewa akan marah dan menghukum sesuai aturan."
"Aturan seperti apa yang ditetapkan dewa? Berikan aku salah satu contohnya." Tanya Daniela dengan raut wajah penasaran.
Andi melirik pendeta tinggi lagi. "Menghina dewa, merusak ajaran dewa dan mengotori kuil suci dewa."
"Bagaimana jika tidak sengaja? Apakah akan mendapatkan hukuman para dewa?"
"Tentu saja, para pendeta akan mewakili dewa."
"Bagaimana bisa kamu tidak mengerti? Apakah kamu anak kecil yang tidak pernah berhubungan dengan orang lain?"
Pendeta tinggi Rahul ingin mengatakan sesuatu, lalu terdiam ketika Daniela bicara lebih dulu.
"Aku bangsawan dan baru belajar di kuil, masalah hubungan dengan orang lain. Aku kira kamu paham bagaimana anak bangsawan dibesarkan."
Andi terbelalak. "Kamu tidak terlihat angkuh."
Daniela tersenyum kecil. "Terima kasih, jadi bisa dijelaskan? Aku masih belum paham."
"Seperti merusak patung dewa, mencoret dan memakinya." Jawab Andi yang tidak tahu bahwa jawabannya menohok Daniela.
Pendeta tinggi Rahul batuk kecil untuk menahan tawanya.
Daniela tersenyum untuk menyembunyikan rasa syukur dan makiannya di dalam hati. "Oh, begitu."
"Dewa pasti marah karena kelakuan mereka yang berusaha menginjak harga dirinya." Tekan Andi.
__ADS_1
Daniela menghela napas panjang.
------------
Edrik yang sudah tiba di wilayah Fei, dan Zuu yang disambut viscount dengan ramah, masuk ke dalam rumah. Butuh waktu lima belas jam tanpa berhenti untuk sampai ke dalan wilayah viscount dan satu kali melewati portal untuk menghemat waktu. Perjalanan santai membutuhkan waktu hampir tiga hari.
Zuu bertanya ke viscount. "Paman, apakah mendengar berita akhir-akhir ini?"
"Berita? Ah, ngomong-ngomong siapa pria tinggi berjubah ini? Apakah dia juga salah satu pasukan pengawal pangeran pertama?"
"Ya." Zuu menjawab singkat, tidak canggung dengan kebohongan, berbeda dengan saudara kembarnya yang anti kebohongan.
Viscount Fei menatap Edrik dari atas sampai bawah. "Hmm- pangeran pertama memang sangat jeli dalam memilih orang, ototnya terlihat kuat dan besar."
Edrik tidak menyangka paman Zuu sangat ramah, berbeda dengan keyakinannya selama ini karena sang paman tega menukar putranya dengan keponakan, untuk dikirim ke medan perang.
Zuu menjadi tidak nyaman karena pamannya bertindak tidak sopan terhadap pangeran pertama, meskipun dia tidak tahu identitas asli sang pangeran. "Paman, berhentilah mengucapkan omong kosong."
"Ah iya, maaf. Zuu, bagaimana dengan kabar saudara kembar kamu? Apakah masih di ibukota?" tanya viscount yang mengalihkan tatapan ke Zuu. "Aku dengar pangeran pertama hilang, kalian pasti kerepotan di ibukota."
"Pangeran pertama hilang, bukan berarti meninggal. Tidak apa, masih ada waktu untuk mencari."
"Kalian terlihat santai sekali, aku khawatir kaisar mencari celah ke kalian berdua. Kalian 'kan salah satu bawahan setia pangeran pertama."
"Ada permaisuri yang selalu melindungi kami." Jawab Zuu.
Viscount Fei menghela napas panjang. "Sangat disayangkan, permaisuri tidak pernah aktif semenjak pangeran pertama menghilang. Oh, ya. Sewaktu rapat bulanan bangsawan, paman melihat lady bernama Daniela."
"Paman ikut rapat bulanan bangsawan?"
"Rapat wajib dihadiri oleh bangsawan manapun, bahkan setingkat baron. Meskipun ada pembahasan tidak penting, setidaknya kami bisa meningkatkan hubungan sosial dan kerja sama." Omel Viscount Fei.
Edrik yang mengikuti dari belakang, mengangguk.
"Oh, ya. Mengenai lady bernama Daniela- sebaiknya kamu hindari orang itu di ibukota."
Edrik dan Zuu terkejut.
Zuu bertanya ke pamannya. "Kenapa? Apakah dia membuat masalah ke paman?"
"Tidak, tapi paman tidak suka cara berpikir dia yang terlalu vulgar. Dia bahkan menunjukan bekas luka mantan countess. Paman jadi kasihan pada count Ava yang dirugikan banyak." Viscount menggeleng sedih sambil berjalan mendahului Zuu dan Edrik. "Wanita itu sangat berbahaya, dia bisa menghancurkan seseorang. Kamu harus hati-hati, Zuu."
__ADS_1
Edrik bertanya dengan suara rendah ke Zuu. "Apakah paman kamu punya pemikiran patriarki?"
"Jika dilihat sekarang, sepertinya memang begitu." Jawab