
Count Ava melempar makanannya yang tidak enak. "Bagaimana bisa koki membuat makanan hambar? Apakah kalian cari mati?!"
Kekasih count dan putra mereka hanya duduk ketakutan di kursi, tidak berani melakukan tindakan apapun selama count marah.
"Count, keuangan kita sedang bermasalah." Kepala pelayan mengingatkan count Ava.
Count Ava memijat kepalanya yang sakit. "Gara-gara Lily aku menderita kerugian banyak."
"Sa- sayang, tidak usah terlalu dipikirkan. Uang bisa dicari lagi, lebih baik fokus pada masa depan anak kita."
"Apakah kamu khawatir anak kamu tidak bisa menjadi count?"
Kekasih count terkejut lalu menundukkan kepala dengan ketakutan. "Bukan seperti itu, aku hanya tidak ingin kamu marah-marah terus."
"Bagaimana bisa aku tidak marah? Aku kehilangan hampir separuh harta dan kamu menyuruhku tidak boleh marah?!"
Kekasih count memeluk putranya dengan erat. "Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu."
Salah satu pelayan buru-buru masuk ke ruang makan dan melapor pada kepala pelayan.
Kepala pelayan terkejut dan melapor pada count. "Orang tua anda datang, mereka menunggu di ruang tamu."
Count Ava menghapus makanan di bibir dengan napkin dan melemparnya ke sembarang tempat. "Kalian jangan sampai muncul di depan orang tuaku! Masuk ke dalam kamar sana!"
Kekasih dan putra count buru-buru melarikan diri.
Count Ava pergi menemui orang tuanya yang mendadak datang ke ibukota.
Begitu masuk, count Ava disambut tatapan menusuk oleh orang tuanya.
"Kamu masih belum berubah, mencoreng nama keluarga kita." Tegur ayah count.
Count Ava duduk di sofa dengan santai, berhadapan dengan kedua orang tuanya. "Kalian sudah mendengarnya?"
"Kami mendapat rekamannya." Ibu count menatap tajam putranya.
"Rekaman?" tanya count tidak mengerti.
"Kamu tidak tahu kalau Lili mengirim bukti rekaman kekerasan yang kamu lakukan padanya?"
Count pernah mendengar alat perekam dan memastikan istrinya tidak punya uang untuk membeli peralatan tidak berguna seperti alat rekam. "Apakah kalian yakin itu wajahnya?"
"Kami tidak mungkin tidak mengenal tempat tidur yang kamu gunakan dengan Lili, kami juga tidak mungkin tidak kenal suara kamu. Apa kamu tahu alasan hakim dan kaisar mengizinkan kalian cerai secepatnya?" Tanya ayah count yang berusaha menahan amarahnya.
__ADS_1
"Karena hukum sialan yang dibuat lady Aelthred dan diresmikan permaisuri." Count Ava yakin dengan jawabannya.
"Mantan istrimu mengirim semua bukti ke kaisar dan pengadilan." Kata ibu count.
Count terkejut. "Bagaimana bisa? Lili selalu berpikiran kuno, tidak mungkin mengirim hal itu ke kaisar dan pengadilan."
Kedua orang tua count menghela napas.
"Biarkan saja masalah Lili mau berpikir apa, pikirkan nama baik keluarga kita. Kamu sudah merusaknya dan harus diperbaiki lagi." Tegur ayah count.
Count Ava menatap tidak percaya ayahnya. "Aku sudah kehilangan sebagian besar harta dan ayah menyuruhku memperbaiki kerusakan yang dilakukan Lili?"
"Ini karena kamu tidak pernah menghargai Lili!" Ayah count memukul lengan sofa.
"Ibu setuju aku memiliki kekasih lain supaya bisa mendapatkan anak laki-laki, kenapa sekarang aku yang disalahkan?"
Ayah count mengalihkan tatapan ke istrinya dengan marah. "Kamu tidak bisa berubah? Bagaimana bisa menghancurkan pernikahan anak sendiri?"
Ibu count berkelit. "Aku melahirkan putraku dengan susah payah, bagaimana bisa aku tega melihat dia menderita? Lagipula Lili tidak bisa punya anak laki-laki untuk dijadikan penerus."
Ayah count memijat keningnya. "Kalian berdua memang keras kepala."
Ibu count tidak terima disalahkan. "Aku melakukan semuanya demi anak kita, apakah kamu tidak ingin melihat anak kita bahagia?
"Kamu mau kabur lagi? Bukankah kamu ingin bekerja di kuil? Aku tidak mau berlama-lama di kuil!"
Daniela mengorek kupingnya yang gatal. "Iya, saya minta maaf, pangeran pertama. Lagipula anda juga sudah mendapatkan uang banyak dari saya."
Edrik menunjuk Daniela dengan marah. "Kamu- hanya karena memberikan aku uang jadinya kamu bisa menginjak aku?"
"Saya tidak mungkin melakukan hal itu, kenapa anda jadi berpikiran aneh?" Keluh Daniela.
Pendeta agung meletakan teh di atas cangkir di meja. "Duke Aelthred, saat ini sudah ada yang memanggil anda duke. Apakah anda mulai melupakan kuil?"
"Tidak, saya hanya ingin cari uang lagi? Lagipula pangeran pemalas ini hanya tidur di rumah dan tidak melakukan apa pun, kenapa tidak diberdayakan saja?" Daniela menunjuk Edrik dengan tidak sopan.
Edrik terbelalak dan siap mengomeli Daniela.
Tanpa sengaja pendeta tinggi Rahul menjatuhkan teko di dekat Edrik, buru-buru Daniela membantu pendeta tinggi dan tanpa sengaja tangannya tergores.
"Aduh!" Daniela menghisap jari telunjuk kanannya yang tergores.
"Biar saya, anda duduk saja." Pendeta tinggi Rahul membereskan pecahan teko. "Jangan sentuh apapun jika tidak ingin terluka."
__ADS_1
Daniela kembali ke tempat duduknya.
Pendeta agung melihat bekas darah di pegangan cangkir. "Pangeran pertama, apakah anda terluka?"
Edrik mengerutkan kening lalu melihat jari telunjuknya yang tiba-tiba terluka. "Hah?"
Daniela terbelalak ngeri, lupa dengan hukuman dari Dewa Helcia.
Pendeta agung menyerahkan sapu tangan ke Edrik. "Hanya luka kecil, tidak apa."
"Aneh, padahal tadi baik-baik saja. Bagaimana bisa aku tidak merasakannya?" tanya Edrik pada dirinya sendiri.
Daniela keringat dingin. Edrik adalah jenderal perang, paling ditakuti musuh dan pastinya sering mendapatkan luka di medan perang.
Hanya luka gores saja sudah bisa dirasakan orang lain, bagaimana jika luka besar?
Daniela bergidik ngeri, tidak berani membayangkan jika mereka benar-benar terhubung.
Daniela menggeleng pelan untuk menghalau pikiran buruknya.
Pendeta agung melihat keanehan Daniela. "Lady, apakah anda menyembunyikan sesuatu?"
"Tidak, saya tidak menyembunyikan apapun." Jawab Daniela dengan tegas.
"Kalau begitu, kamu sudah harus kembali ke kuil." Edrik tidak sabar mengusir temannya, Daniela.
Daniela menepuk dadanya dengan bangga. "Apakah anda berdua tidak bangga dengan pencapaian saya? Lalu apakah kalian punya kenalan untuk menjual perhiasan?"
"Lady akan menjual semua perhiasan peninggalan Aelthred juga?" tanya pendeta agung.
"Ya, sebagian. Makanya saya butuh ahli perhiasan untuk memilah, mana yang akan dijual atau dipakai." Daniel menghela napas.
Pendeta agung ingin menjawab.
"Kamu beritahu saja Zuu." Sahut Edrik.
"Zuu? Apakah bisa?" tanya Daniela dengan tidak yakin.
"Dia bisa diandalkan." Jawab Edrik.
Daniela mulai berpikir. "Saya ingin menjual perhiasan untuk renovasi rumah, sisanya untuk membayar kuil. Apakah Zuu juga bisa diandalkan tentang ini?"
"Tentu saja bisa." Angguk Edrik.
__ADS_1
"Baik, saya akan beritahu masalah ini ke Zuu. Terima kasih pangeran pertama." Kata Daniela sambil menjabat tangan Edrik dengan antusias. "Dengan cara ini, kita tidak perlu tidur satu kamar lagi."