
Zuu segera berdiri begitu melihat Edrik turun dari panggung dan berjalan mendekati dirinya. "Pangeran pertama, luka anda-"
Edrik melihat luka di tangannya. "Hanya luka kecil, tidak perlu berlebihan. Bagaimana keadaan wanita itu?"
"Ksatria segera mencari dokter terdekat."
"Paling dekat dari sini, kuil. Kenapa malah dibawa ke dokter?" Tanya Edrik tidak mengerti.
"Pangeran pertama, apakah anda lupa mengenai ajaran yang disebar pendeta tinggi di wilayah viscount Fei?"
Edrik melupakannya.
"Anda juga harus segera diobati, untung saja lukanya tidak terlalu parah. Saya akan menyelidiki pria itu."
Edrik mengangguk, senang memiliki bawahan yang cepat tanggap.
-----------
Di klinik dokter.
"Untung lukanya tidak terlalu dalam, hanya dibersihkan dan dibalut saja." Kata dokter sambil menangani luka Edrik.
Edrik melihat sekeliling klinik yang kecil, bersih tapi agak tua. "Kenapa kliniknya seperti ini? Apakah tidak ada tempat yang lebih bagus untuk merawat pasien?"
Dokter pria yang berusia setengah baya, menghela napas. "Bagaimana bisa saya memperbaiki tempat ini atau mencari tempat lain, masyarakat di wilayah ini tidak ada yang mau berobat, mereka mengandalkan kekuatan doa pendeta.
"Sebenarnya saya tidak masalah mengenai hal itu, tapi pasti tidak semua bisa ditangani oleh pendeta, misalnya patah tulang. Hanya pendeta sekelas pendeta agung atau pendeta tinggi di bawahnya yang bisa menanganinya."
"Anda tidak memberitahu mereka?"
"Saya ditertawakan, bahkan dituduh bawahan iblis. Dokter di wilayah ini hanya tersisa saya."
"Bagaimana dengan wanita yang dicambuk? Dia pasti butuh pengobatan juga." Tanya Edrik penasaran.
Dokter menggeleng miris. "Bagaimana saya bisa mengobati sementara saya seorang pria, saya sarankan keluarga yang mengobati tapi tidak ada yang mau melakukannya karena berpikir seorang wanita yang pernah mendapat hukuman cambuk sama saja kotor."
"Ah, sama seperti para bangsawan yang menganggap bekas luka adalah hal yang menjijikan." Edrik melihat sang dokter sudah menyelesaikan pekerjaannya. "Bagaimana dengan bayi?"
"Bayi?"
"Yah, bayi atau anak-anak terluka. Apakah mereka mendapat perlakuan sama?"
__ADS_1
"Jika mereka terluka dan pendeta tinggi sedang sibuk, para orang tua datang ke tempat saya dan memastikan anak-anak mereka tidak meninggalkan bekas luka. Yang paling disayangkan adalah vaksin."
"Vaksin?"
"Yah, terutama bayi membutuhkan vaksin untuk melindungi dari virus. Orang tua tidak percaya lalu-"
"Jika ada benda asing masuk tubuh, hal itu juga dilarang."
"Benar, saya pernah mencoba berikan penjelasan untuk para orang tua tapi sia-sia. Mereka tidak mau mendengar dan bahkan mencemooh saya, padahal daya tahan tubuh masing-masing anak berbeda."
"Apakah pihak kuil tidak bisa diajak kerja sama?"
"Kerja sama bagaimana? Pihak kuil selalu mengatakan ini itu." Dokter menggeleng putus asa. "Saya bertahan di tempat ini karena kasihan melihat anak-anak kecil yang tidak tahu apa pun dan menjadi korban."
"Apakah anda sudah meminta bantuan ke ibukota?"
"Saya minta tolong dengan cara apa? Perbaiki klinik saja tidak ada uang, apalagi mengirim surat untuk meminta bantuan. Jika ada uang sedikit, saya lebih memilih beli obat-obatan."
"Bagaimana caranya anda bisa mendapatkan obat? Jika mereka semua percaya pada kuil, tentu saja mereka tidak akan percaya pada obat."
"Ya, mereka beralih ke herbal. Hanya saja tanaman obat pun bisa menjadi racun jika tidak sesuai dengan takaran. Satu bulan sekali ada pedagang yang membantu bawa pesanan saya, saya juga boleh berhutang."
"Saya mencari tanaman herbal dan menjualnya."
Zuu yang berdiri di belakang edrik dan mengawasi jalannya pengobatan, terkejut. "Anda terlalu tua untuk mencari tanaman dan pasti harus naik gunung."
"Lalu apalagi yang harus saya lakukan untuk menyelamatkan mereka semua? Saya memang bukan pahlawan atau pelindung dari kejahatan, hati nurani saya terlalu besar untuk melihat orang sakit."
Edrik berjanji pada dokter. "Saya akan mencoba bicara pada kuil, berjanjilah anda tidak akan naik gunung lagi. Masalah obat, saya akan bantu distribusi. Anda tidak perlu khawatir."
Dokter menatap bingung Edrik. "Apakah anda bangsawan tinggi yang ditakuti pedagang dan kuil?"
Zuu berdehem. "Tidak, kebetulan saja kami juga memiliki hati nurani sehingga merasa mampu melakukan apa pun demi orang-orang sakit."
Dokter menghela napas lega. "Syukurlah kalau begitu, saya harap anda tidak berubah pikiran."
Edrik bertekad menyelamatkan rakyatnya.
"Tuan Zuu, ada pemilik anjing yang datang untuk mengucapkan terima kasih." Lapor ksatria yang ditugaskan untuk mencari pemilik anjing.
Zuu bertanya ke Edrik. "Apakah anda akan menemui mereka?"
__ADS_1
Edrik mengangguk singkat. "Aku ingin mendengar cerita lengkapnya."
Zuu dan ksatria itu membawa pemilik anjing bertemu dengan Edrik setelah meminjam salah satu ruang bersih.
"Ha- hallo."
Edrik mengangguk singkat lalu mempersilahkan wanita berusia sekitar empat puluh tahun keatas itu duduk. "Nama saya Ed, anda?"
"Rose." Jawab Rose sambil duduk di kursi kayu.
"Senang bertemu dengan anda, saya yakin anjing anda juga memiliki perasaan sama."
Rose bersujud di lantai dan bicara dengan nada gemetar. "Terima kasih sudah menyelamatkan Bo, saya khawatir ketika mendengar Bo lepas saat saya tidak ada di rumah. Saya sudah mencarinya dua hari, ternyata selama ini dia sembunyi di kuil.
"Tahu begitu, saya pergi ke kuil dan menyelamatkannya. Orang-orang kuil tidak suka dengan hewan, terutama anjing. Terima kasih, terima kasih."
"Anda bisa duduk, yang saya lakukan hanyalah hal biasa."
Rose kembali duduk setelah dibantu Zuu. "Tidak, anda sudah luar biasa membantu kehidupan Bo. Di wilayah ini tidak ada tempat untuk hewan dan juga pengikut selain Helcia."
"Kenapa anda tidak keluar dari wilayah ini bersama Bo?"
"Bagaimana caranya saya keluar? Saya tidak punya uang banyak untuk bisa nekat keluar bersama Bo, selain itu saya takut tidak bisa mendapat pekerjaan yang layak."
"Anda bekerja apa?"
"Saya hanya petani biasa, membantu suami. Biasanya Bo menjaga tempat kami, kata tetangga ada yang mengusik Bo sampai kabur jauh dan tidak bisa pulang."
"Anda tahu Bo tidak bisa dipelihara karena aturan tidak tertulis, kenapa masih dipelihara?"
"Saya menganut kepercayaan tentang alam, apapun yang kita lakukan di dunia pasti akan mendapat balasan. Kami tidak bisa menyakiti hewan atau mengusirnya begitu saja. Bo kabur dari jeratan seseorang, saya dan suami tidak bisa menutup mata begitu saja."
Zuu mengangguk. "Benar, ajaran kuil di wilayah viscount Fei tidak sesuai dengan ajaran kuil Helcia. Sepertinya memang pendeta tinggi di kuil ini bermasalah, kami sedang menyelidikinya."
Kedua mata wanita itu berbinar. "Apakah kalian dari perwakilan kuil Helcia?"
Zuu dan Edrik saling bertukar tatapan lalu menjawab bersamaan. "Ya."
"Bagus, kalau begitu apakah anda bisa mendatangkan pendeta agung untuk menyembuhkan anak-anak yang sakit juga?"
"Ya?" tanya Zuu dan Edrik bersamaan.
__ADS_1