AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
ENAM PULUH LIMA


__ADS_3

Jantung Daniela berdebar kencang ketika pendeta agung menyebut pengadilan dunia. Dia tidak menyangka rencana kali ini harus memakai pengadilan dunia.


Kaisar juga tidak ingin melibatkan pengadilan dunia, selama pangeran mahkota bisa naik tahta- dia tidak akan keberatan.


Pangeran mahkota menggeleng tidak percaya, posisinya jatuh begitu saja dengan alasan konyol. Di pertemuan bangsawan, dia pasti akan menjadi ejekan.


Ella juga tidak mau pangeran mahkota turun karena jika dirinya tidak bisa menjadi pendamping biasa, dirinya hanya akan menjadi anak haram keluarga duke Vilvred. Memakai nama keluarga Vilvred saja sudah dilarang keras oleh tetua meskipun duke Vilvred berusaha keras sekeras apa pun.


Ratu berlutut dan memohon pada kaisar ketika melihat raut wajahnya. "Yang Mulia, tolong jangan turunkan putra kita dari posisi pangeran mahkota." Mohon-nya.


Dari tindakan ratu, bangsawan pihak netral pun bisa melihat keserakahan ratu dan kaisar yang ingin memiliki tahta yang bukan miliknya.


Jika Daniela bisa menebak, para bangsawan netral kemungkinan besar cenderung memilih permaisuri yang bisa berdiri tegas dan pangeran pertama yang menjaga kedamaian kekaisaran.


Kaisar tidak berdaya dan memijat kening. "Turunkan posisi pangeran mahkota, nikahkan mereka berdua dan juga permaisuri berjanji menjaga mereka berdua."


Daniela menyembunyikan senyumnya. Dengan begini tidak akan ada pertumpahan darah di masa depan, pangeran mahkota juga tidak perlu mati.


"Kenapa kamu malah menyelamatkan pangeran mahkota? Bukankah bagus jika dia mati karena kena penyakit menular?"


Jika pangeran mahkota mati, maka pangeran pertama yang akan dituduh dan akan muncul perang berdarah antar bangsawan, rakyat juga turun tangan. Apakah anda ingin melihat itu semua, dewa?


Tidak ada jawaban dari dewa.


"TIDAK!" Jerit Andi yang membuat semua orang di dalam ruangan otomatis menoleh. "Tidak bisa dibiarkan begitu saja! Bagaimana bisa kalian semua membiarkan semua pendosa begitu saja dan dinikahkan? Pendeta agung, harusnya anda bisa mendengar kemarahan dewa!"


"Hah? Memangnya sedari tadi aku marah?"


Andi menangkupkan kedua tangan dan berdoa dengan suara lantang. "Dewa Helcia terkasih, maafkan manusia yang sudah melawan kehendak. Jika tidak ada yang bisa membunuh seorang pendosa, saya bisa melakukannya!"


Tiba-tiba Andi berlari menuju Ella yang masih berlutut di kaki ayahnya dan membawa belati.


Duke Vilvred sontak menyingkir untuk menyelamatkan diri, termasuk pangeran mahkota yang tadinya melindungi Ella.

__ADS_1


Ella menjerit ketakutan.


Daniela yang sejak kecil berlatih diam-diam menggunakan tangannya, mengambil kipas di tangan permaisuri dengan cepat dan menyelimutinya dengan mana berwarna biru hingga membentuk pedang.


Daniela melempar pisau itu dan meletakan ujung pedang yang terbuat dari mana ke leher Andi. "Jika kamu ingin membunuh orang lain, jangan di tempat ini. Kamu pikir dewa suka melihat perilaku kamu?"


Andi gemetar ketakutan.


"Bahkan dewa yang keren mengutuk keras perbuatan semua orang yang mengotori kuil. Aku, Daniela Aelthred, akan menghukum pendosa seperti kalian mewakili dewa yang keren."


Pendeta tinggi Rahul bertanya. "Dewa yang keren?"


Pendeta tinggi Rohan tersenyum kecil. "Anggap saja begitu."


Tidak lama awan berwarna hitam pekat muncul dan menimbulkan bunyi gemuruh, semua orang melihat atap bangunan kuil yang berlubang. Mendadak petir muncul dan menyambar di sekitar Andi, pangeran mahkota dan Ella satu kali.


Mereka bertiga menjerit ketakutan.


Hari itu juga, akan menjadi gosip panas di kekaisaran.


Sementara di wilayah Viscount Fei. Masyarakat berteriak marah ketika mendengar metode pengobatan yang akan dilakukan Marchioness Green.


"Bagaimana kami bisa membiarkan alat masuk ke dalam tubuh? Dewa melarang kita untuk menyakiti tubuh!"


"Obat yang dipakai apakah aman?"


"Viscount Fei! Keluarkan dia! Dia yang harus bertanggung jawab karena tidak bisa menekan penyakit di wilayahnya!"


"Kami yang dirugikan!"


"Bangsawan hanya bisa bersenang-senang dan menuntut banyak hal ke rakyat kecil seperti kami!"


"Bangsawan harus bertanggung jawab!"

__ADS_1


Edrik teringat dengan nasehat Daniela sebelum berangkat ke wilayah Viscount Fei.


"Berontak?"


"Normalnya rakyat biasa tidak akan bisa memberontak. Namun, berbeda jika dihadapkan dengan rakyat yang sudah dicuci otak oleh pendeta tinggi Rou. Mereka akan berani menuntut bahkan menyalahkan orang lain jika mendapat kerugian.


"Mereka tidak akan bercermin pada diri sendiri dan teriakannya seolah-olah mewakili rakyat kekaisaran Helcia."


Zuu yang mendengar itu, menambahkan. "Masuk akal, rakyat yang dicuci otak dan mulai menuntut banyak hal. Berbeda dengan rakyat yang tidak dicuci otak tapi paham masalah yang mereka hadapi, mereka cenderung mencari solusi bersama daripada sekedar menyalahkan dan menuntut."


Daniela mengangguk singkat. "Karena itu, pangeran pertama. Jangan emosi saat menghadapi mereka, lawan dengan logika. Jika tidak masuk akal bagi mereka, tangkap dan adili, anggap sebagai pemberontak."


"Bukankah itu sangat kejam?" Tanya Zuu.


"Lebih baik bertindak kejam tapi banyak nyawa selamat daripada hanya diam menerima dan semua orang mati. Jika sudah ada banyak kematian, kaisar akan memerintahkan tempat ini untuk dibakar dan membunuh orang-orang yang pernah masuk ke wilayah ini.


Kemungkinan terburuk, diantara orang-orang ada yang kena virus, tidak berani pergi ke dokter untuk mendapat perawatan dan pada akhirnya akan menyebar di kekaisaran," kata Daniela. "Ingat, pangeran pertama. Saat ini permaisuri membutuhkan perawatan intensif dari kuil."


Edrik menjadi gila saat mendengarnya. Tidak hanya kehilangan banyak rakyat, mungkin dia juga bisa kehilangan ibunya.


Edrik membuat tim khusus untuk menyiksa pendeta tinggi dan para pendeta muda lainnya untuk mendapatkan hukuman sekaligus bukti.


Saat ini Edrik berdiri di atas panggung dan melihat teriakan marah rakyat.


Edrik bicara dengan lantang dan tegas. "Jika kalian tidak ingin anak kalian diobati, aku akan membunuh anak itu sebelum penyakit menular ke wilayah lain. Aku akan menggali tanah dan menjadikan satu tubuh mereka dengan penderita lainnya!"


Rakyat yang tadinya marah mulai ketakutan ketika melihat dan mendengar Edrik, bahkan mereka semua dikelilingi para ksatria bertubuh besar untuk mengintimidasi.


"Kalian semua menyiksa hewan bahkan anak kecil yang tidak tahu apa pun, seorang perempuan yang kalian tuduh tapi tidak ada buktinya. Apakah dengan moral seperti itu, aku akan menyelamatkan kalian semua?!" Kata Edrik.


Panggung yang tadinya dibuat untuk menghukum orang lain, dijadikan pijakan Edrik untuk menekan sekaligus intimidasi mereka.


"Kalian semua seenaknya menyalahkan para bangsawan setelah semuanya sudah menjadi lebih parah! Siapa yang tidak mau diobati dokter? Siapa yang tidak mau divaksin? Dan siapa yang sudah menyiksa orang dengan alasan dewa? Apakah kalian bisa mendengar perintah dewa?!"

__ADS_1


__ADS_2