AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
MASA LALU EDRIK I


__ADS_3

POV EDRIK


Kenapa ayah terlihat marah ke ibu?


Kenapa ibu menerima semua kemarahan ayah tanpa membantah?


Kenapa ayah tidak mau melihat aku?


Kenapa ibu menangis tanpa mengatakan apa pun?


Kenapa semua orang hanya diam dan melihat saja, lalu menertawakan ibu?


Kenapa semua orang menatap dingin aku?


Sejak kecil aku hanya menuruti perintah ibu dan ayah.


"Berlatihlah pedang, untuk menjaga diri." Perintah ibu.


Aku menurut.


"Kamu akan belajar politik? Kenapa? Bukankah kamu hanya menyukai pedang? Belajar pedang saja! Biarkan adik kamu belajar lain." Perintah kaisar.


Aku menurut.


Lalu tidak lama ibu marah ke ayah karena aku tidak mendapat pendidikan resmi.


Aku hanya berdiri di pojok ruang sambil menundukkan kepala, mendengar pertengkaran mereka berdua sementara para pengikut hanya diam melihat kaisar dan permaisuri bertengkar.


Tidak lama para pengikut mengusirku keluar supaya masalah tidak rumit karena pertengkaran permaisuri dan kaisar terlihat semakin memanas. Masih teringat jelas di otakku, perkataan mereka.


"Pangeran pertama tidak memiliki pendirian tetap, bagaimana nantinya dia menjadi pangeran mahkota?"


"Kaisar terlihat benci melihat pangeran pertama belajar pendidikan resmi daripada pedang."


Aku melihat kedua tanganku dengan sedih. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Apakah ayah membenciku?


Aku menggosok mata sekuat tenaga, menghapus air mata yang akan mengalir.


Aku hanya mengikuti perintah orang tua, kenapa mereka jadi bertengkar dan orang-orang menyalahkan aku?


Apa yang mereka harapkan dari anak laki-laki berusia sepuluh tahun?


"Kakak!"


Aku mengangkat kepala dan melihat tubuh Isak yang mungil dan gemuk, lari mendekatiku dengan senyum seperti matahari.


"Kakak, kenapa ada di taman sendirian?"


"Aku-"

__ADS_1


"Kakak habis berlatih pedang lagi? Kakak memang hebat, kata orang-orang kakak akan menjadi pangeran mahkota yang hebat."


Aku tidak percaya, mereka pasti hanya menjilat.


"Benarkah?"


"Hm." Isak mengangguk cepat. "Suatu hari nanti kakak akan menjadi pangeran mahkota yang hebat."


Aku tersenyum. "Apakah kamu tidak ingin menjadi pangeran mahkota?"


"Tidak, itukan posisi untuk kakak. Kenapa aku harus mengambil posisi kakak?"


Aku hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Isak.


Semua orang menilai aku adalah anak berbakat di bidang apapun, terutama pedang. Rupanya ayah tidak suka aku menutup kehadiran Isak dan menyuruh aku hanya belajar pedang.


Aku tidak bisa membantah karena orang tua selalu mencari jalan kebaikan untuk anaknya, tapi ternyata aku salah.


Seiring berjalannya waktu, aku mulai mengerti bahwa ayah jauh lebih mencintai Isak daripada aku.


Saat aku bertanya kepada ayah, apakah dia menyayangi aku? Dia hanya diam dan tidak menjawab apa pun. Justru ratu yang menjawab dengan tawa di balik kipas mahalnya.


"Pangeran pertama sangat pendiam, tidak memiliki banyak teman dan bahkan seperti memikirkan hal lain ketika bicara dengan lawan bicara. Tidak bisakah anda mencontoh Isak yang dianggap matahari?"


Aku bisa melihat anggukan dari ayah yang setuju dengan pendapat ratu saat kami makan malam dan permaisuri harus istirahat karena terlalu lelah dengan perjalanan panjang.


"Ibaratnya, anda adalah kegelapan dan Isak adalah cahaya. Bukankah Helcia adalah cahaya matahari? Kenapa orang-orang harus mencintai kegelapan?"


Di kekaisaran, hanya kaisar yang membela ratu untuk saat ini. Entah di masa depan.


Aku mulai memikirkan diriku sendiri. Apakah aku tidak bisa menjadi cahaya untuk Helcia?


Setelah makan malam itu, perkataan ratu tertanam jelas di benakku. Aku adalah kegelapan dan bukan cahaya untuk Helcia.


Apakah ayah terlalu malu karena punya anak seperti aku?


"Kakak, kenapa kakak diam saja?"


Ternyata dari tadi aku melamun. "Maaf, aku tidak mendengar."


"Kakak selalu begitu, apakah ada yang kakak pikirkan?"


"Tidak, kakak hanya lelah."


"Lelah? Kalau begitu kakak harus istirahat dan kembali ke kamar." Isak menarik tanganku untuk bangun dari rumput taman yang kami duduki.


Lihat, di kekaisaran hanya adik kandungku yang peduli. Tidak ada yang peduli padaku yang hanya kegelapan Helcia.


"Isak."


"Ya?"

__ADS_1


"Bagaimana jika kamu menjadi pangeran mahkota? Sepertinya posisi itu jauh lebih cocok untukmu."


"Kakak, jangan bicara hal yang mengerikan. Bagaimana bisa aku menggantikan kakak yang hebat?"


Aku meletakkan kedua tangan gemuk Isak ke pipi. "Tapi, orang-orang menganggap kamu matahari dan sepertinya memang kamu cocok menjadi pangeran mahkota daripada aku."


Isak terlihat sedih saat menatapku.


Di usia dua belas tahun, kaisar memanggil aku dan adik mungil di hadapan para bangsawan.


"Ada masalah di perbatasan, seharusnya pangeran kedua yang dikirim ke medan perang. Apakah kamu bisa, Isak?"


Isak hanya berlutut dan menundukkan kepala, tidak berani menjawab.


"Yang Mulia, mengirim anak berusia tujuh tahun ke medan perang. Apakah anda tidak keterlaluan?" tanyaku.


"Lalu siapa yang pergi? Kamu?" tanya kaisar kepadaku.


Permaisuri terlihat marah ke kaisar. "Apa yang dikatakan pangeran pertama benar, bagaimana bisa anda mengirim anak kecil ke medan perang?"


"Aku tidak menyuruh mereka terjun, hanya memimpin perang supaya otoritas kekaisaran ada. Permaisuri, kekaisaran sebelumnya tidak memiliki banyak kerabat, kenapa jadi menyalahkan aku? Apakah permaisuri ingin mengirim keluarga aku sebelum menikah ke medan perang dan memimpin?"


Ini bahaya!


Aku tidak setuju jika keluarga kaisar memimpin perang. Saat mereka menang, otomatis kaisar dan keluarganya bisa mendapatkan tempat tapi-


Aku melirik Isak yang masih menunduk ketakutan.


Aku bertekad dan bicara pada kaisar. "Saya yang akan pergi."


Kaisar mengerutkan kening. "Kamu yang pergi? Benarkah?"


Aku bisa melihat tatapan kecewa permaisuri kepadaku.


Kaisar tertawa. "Lalu bagaimana dengan posisi pangeran mahkota? Kamu tidak bisa meninggalkan kekaisaran begitu saja."


Aku bisa melihat bahwa ayah berusaha menjebak ibu dan aku, tapi keputusan ini sudah lama aku ambil. "Aku akan memberikannya ke Isak."


Isak mengangkat kepala dengan wajah penuh air mata dan ingus keluar. "Kakak!"


Aku tersenyum sedih. "Kamu matahari, Isak. Berbeda denganku yang hanya kegelapan."


Isak berlari memelukku dengan erat. "Tidak, jangan kakak yang pergi. Biar aku saja yang pergi."


Kaisar berdehem dan menasehati Isak. "Kakak kamu sudah berkorban dengan menggantikan kamu, Isak. Jangan lupakan kebaikan kakak."


Isak mengangguk dan memeluk aku dengar erat, berjanji akan menjadi pangeran mahkota yang baik, menggantikan posisi aku.


Aku hanya bisa tersenyum sedih, tidak berani melihat kesedihan di wajah ibu. Aku tahu ini adalah rencana ayah yang ingin mengusirku jauh dari kekaisaran karena dianggap tidak menarik.


Aku hanya anak pendiam, pemikir dan tidak pernah dekat dengan siapa pun, padahal aku hanya canggung menghadapi orang baru dan orang lain pun terlihat segan kepadaku. Aku tidak bisa berbuat banyak, ternyata kelemahan ini menjadi boomerang untukku.

__ADS_1


__ADS_2