AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
EMPAT PULUH TIGA


__ADS_3

Flashback Daniela, kehidupan pertama sebelum reinkarnasi.


Daniela didorong hingga terjatuh ke dalam ruangan sempit.


Duke Vilvred menatap dingin Daniela. "Kamu dihukum selama satu minggu di ruangan ini, makanan diberikan hanya satu hari sekali dengan roti dan air dingin, hanya boleh keluar jika ingin ke toilet dengan pengawasan para ksatria."


Daniela bergidik ngeri. Hukuman dikurung dan makanan sedikit masih bisa ditoleransi, tapi ke toilet sambil dilihat ksatria duke? Hal itu sangat memalukan.


Duke menutup keras pintu dan memberikan perintah ke kepala pelayan. "Jangan ada yang membantu dia, berikan uang juga ke pengasuh Daniela."


"Baik, duke."


Daniela selalu dihukum di tempat sempit ini, dan baru sekarang mendapat hukuman baru dengan diawasi ksatria. Apakah ayah juga ingin mempermalukan aku?


Daniela bersandar di dinding dan memeluk kedua kakinya lalu terisak. Aku memberikan kalung untuk pangeran pertama waktu itu dengan harapan dia selamat dan bisa bersama permaisuri, tapi kenapa sampai sekarang tidak ada kabar?


Daniela terisak. Apa lebih baik aku mati saja?


Duchess di ruang makan, bertanya ke duke. "Dimana Daniela? Kenapa masih belum muncul?"


Para pelayan tidak berani menjawab, duke mengiris steak dengan geram. "Tidak usah pedulikan, dia memang pantas dihukum."


"Dihukum lagi?" Tanya duchess tidak percaya. "Kesalahan apalagi yang dia lakukan?"


"Dia mengacau di istana permaisuri, kamu jangan ikut campur masalah pendidikan yang aku terapkan kepadanya." Tegur duke Vilvred. "Bagaimana dengan si bungsu? Demamnya sudah reda?"


"Kata dokter tidak ada masalah, hanya perubahan cuaca saja dia tidak kuat."


Duke Vilvred menghela napas lega lalu memberikan perintah ke kepala pelayan. "Berikan makanan dan perawatan terbaik untuknya, aku tidak mau terjadi sesuatu pada pewarisku."


Kepala pelayan membungkuk hormat. "Baik, duke."


Duchess Vilvred hanya bisa diam mengamati suaminya.


Tidak lama Ella datang dan bergabung dengan wajah kesal, duduk di sebelah duke, berhadapan dengan ibunya.


"Ada apa? Kenapa wajah kamu seperti itu?" Tanya duchess.


"Aku dengar kakak mengacau di istana permaisuri, aku diledek habis-habisan, pangeran mahkota tidak bisa menolongku." Kesal Ella.


"Dia sudah ayah hukum, kamu bisa tenang."


Kedua mata Ella berbinar lalu meredup. "Tapi, apakah tidak masalah kakak dihukum terus-terusan?"


"Itu membuktikan kakak kamu terlalu bodoh untuk mendapat pengajaran dari ayah." Sahut duke Vilvred.

__ADS_1


Ella mengucapkan terima kasih ke pelayan yang memberikan makanannya lalu bicara ke ayahnya. "Pangeran mahkota berjanji akan menikahi aku."


Duke Vilvred meletakkan garpu dan pisau di atas meja dengan kasar. "Ella! Berhentilah menjadi penghancur hubungan kakak kamu sendiri!"


"Tapi bu, kakak sendiri yang memulai. Pangeran mahkota juga tidak pernah peduli pada kakak, dia mencintai aku. Bukankah keluarga kita beruntung sekarang?"


Duke Vilvred tertawa bahagia. "Putriku memang bawa keberuntungan."


"Bagaimana dengan Daniela? Apakah dia sudah mengetahuinya? Ella, jangan bersikap kasar terhadap kakak sendiri."


Ella teringat lalu bangkit dari kursi. "Belum, tapi aku akan berdiskusi seperti biasa ke kakak."


"Dia sedang dihukum, kamu tidak perlu repot-repot menemuinya." Nasehat duke Vilvred.


"Tenang saja ayah," sahut Ella lalu berjalan meninggalkan ruang makan bersama pengasuhnya.


Duchess Vilvred bicara ke suaminya. "Duke, bisakah tidak menghukum Daniela terus-terusan?"


"Aku sudah bilang tidak perlu ikut campur masalah Daniela, kamu cukup mengurus dua anak kita yang lain."


"Tapi-"


Duke Vilvred memegang tangan duchess. "Aku berusaha keras supaya kita bisa bersama, jangan sampai dia mengganggu hubungan harmonis kita."


Duchess Vilvred sedikit ketakutan dengan perilaku duke Vilvred, ayahnya yang kepala pelayan keluarga berulang kali menyatakan tidak setuju atas pernikahan mereka berdua, tapi duke Vilvred menyebar gosip mengenai cinta sejati antara bangsawan dan rakyat biasa lalu diganggu oleh wanita bangsawan yang berasal dari keluarga pengkhianat.


Duchess Vilvred tidak punya kekuasaan apa pun, hidupnya hanya bergantung pada duke meskipun hati nurani sedikit sakit melihat perlakuan Vilvred terhadap Daniela.


"Suatu hari putri kita akan menjadi permaisuri dan para bangsawan tidak akan pernah mengejek kamu lagi, ratu juga akan melindungi kamu dan anak-anak kita. Tunggulah sebentar lagi."


Duchess Vilvred tahu kegilaan duke mengenai cintanya tapi dia tidak berani menghalangi dan hanya bisa mengikuti alur. "Terima kasih banyak, duke."


Duke Vilvred mencium tangan duchess lama lalu kembali makan.


Duchess melakukan hal sama.


Sementara Daniela yang tidak tahan ingin ke toilet, menggedor pintu. "Tolong, aku mau ke toilet."


Salah satu ksatria membuka pintu lalu menjambak dan menyeret Daniela menuju kamar mandi pelayan.


Di lorong, tanpa sengaja Ella melihat Daniela diseret seorang ksatria ayahnya sambil menjambak rambut sang kakak.


Ella terpana lalu tersenyum kecil. "Apakah aku tidak salah lihat?"


"Tidak, lady."

__ADS_1


"Dia mau kemana?"


"Katanya ke toilet, duke mengizinkan Daniela pergi ke toilet saja dengan diawasi ksatria."


Ella lari mengikuti ksatria dan kakaknya lalu tertawa kecil. "Gila! Ayah menghukumnya seperti itu? Kenapa? Padahal sebelumnya tidak pernah."


"Yang saya dengar, tidak ada pelayan yang mau membersihkan ruangan itu kecuali dibayar tinggi. Lagipula Daniela tidak ada harganya di rumah ini, duke tidak akan membayar tinggi dan mengizinkan dia ke toilet dengan pengawasan ksatria."


Ella tertawa keras begitu melihat pintu toilet dibuka dan ksatria berdiri di depannya. "Kakak, apakah kamu ingin menunjukan tubuh ke orang rendahan?"


Daniela yang tadinya tidak tahan buang air, sontak menutup roknya yang dibuka selutut. Ella bersandar di pintu.


"Astaga, bagaimana jika pangeran mahkota tahu hal ini?"


Daniela menunduk cemas. "Aku-"


"Tenang saja, aku tidak akan mengadu tapi sebagai gantinya-" Ella menarik tangan Daniela sambil tertawa.


"Tu- tunggu, aku belum selesai ke toilet."


Ella punya ide lalu menarik kakaknya hingga ke ruang makan. "Kakak, aku ingin menyampaikan kabar baik di depan orang tua kita dan kakak."


Daniela menggigit bibir sambil berusaha menahan buang air. "Bi- bisakah aku ke toilet dulu?"


"Tidak, jangan ke toilet. Aku harus mengumumkan sesuatu ke ayah, ibu dan kakak." Tolak Ella.


Begitu sampai di depan ruang makan, Ella membuka pintu dengan keras dan memanggil ayahnya.


"Ayah!" Panggil Ella.


Duke Vilvred tersenyum lalu senyumnya hilang ketika melihat sosok Daniela. "Mau apa dia di sini? Dia sedang dihukum!"


"Dia bilang mau mendengarkan pengumuman aku, benar 'kan?" Tanya Ella ke Daniela.


Kepala Daniela menunduk, masih konsentrasi menahan buang air.


Ella berdehem lalu mulai bicara. "Sebenarnya-"


"Astaga!"


"Kya!"


"Menjijikan!"


Para pelayan di ruang makan menjerit ketika melihat pemandangan memalukan.

__ADS_1


Daniela berusaha menahan tangis.


Wajah duke Vilvred semakin murka.


__ADS_2