AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
TUJUH PULUH DELAPAN


__ADS_3

Ratu tidak mau menyerah. Suatu saat pendeta agung akan berada di pihaknya. "Pendeta Agung, saya ke kuil dan minta bertemu dengan anda bukan untuk melakukan hal yang bisa menyinggung anda."


Pertama, mari luruskan salah paham dulu.


"Saya hanya ingin menjalin hubungan baik dengan Pendeta Agung yang dihormati banyak umat dan sudah membantu negara untuk melakukan banyak hal, saya juga sangat kagum dengan anda."


Kedua, mari puji pendeta agung setinggi-tingginya.


"Tapi saya khawatir di masa depan hubungan antara pengikut dewa dan umatnya, terputus karena tindakan dan salah paham dari orang lain."


Ketiga, mari kita jelaskan tujuan kedatangan.


Pendeta agung bertanya pada ratu. "Tindakan dan salah paham dari orang lain?"


"Ah, di luar ada banyak gosip yang tidak menyenangkan. Jadi, saya datang kemari untuk meluruskan salah paham dan menjalin hubungan dengan baik demi masa depan kekaisaran Helcia. Selain itu saya juga mendengar kabar, pihak kuil selalu mengunjungi Permaisuri padahal saya dan Kaisar juga ingin berhubungan baik dengan pihak kuil.


"Kami tidak mau di masa depan ada suatu hal yang bisa membuat hubungan kuil dan kekaisaran menjadi renggang."


Keempat, lemparkan sedikit ancaman.


Pendeta agung menatap lurus ratu dan menjawab dengan santai. "Apa yang diinginkan Ratu?"


Ratu menjadi senang karena maksudnya tersampaikan. "Saya hanya ingin menjalin hubungan baik dengan pihak kuil saja, sebagai ratu."


Artinya ratu ingin menjadi atasan pendeta agung.


Pendeta agung yang paham dengan maksud ratu, bertanya. "Apa yang bisa diberikan Ratu untuk kuil?"


"Ya?"


"Saya rasa pertanyaan tadi sangat jelas. Ratu ingin pihak kuil berhubungan baik dengan anda dan Kaisar lalu bagaimana dengan Permaisuri? Apakah anda ingin kuil menghindari Permaisuri juga?"


Ratu menggeleng pelan. "Tidak, tentu saja tidak."


"Yang Mulia, jangan berputar-putar. Saya tidak paham maksud anda." Tegas pendeta agung.


Ratu menggigit bibir dengan panik, sangat mudah mendekati para bangsawan yang haus kekuasaan tapi sulit mendekati pendeta agung yang bekerja atas nama dewa. Hanya saja dirinya membutuhkan pendeta agung demi mengembalikan posisi pangeran kedua sebagai pangeran mahkota.


Ratu sudah melihat bagaimana penghinaan yang dilakukan Permaisuri pada menantunya dan juga pihak kuil bekerja sama dengan permaisuri.


Ratu juga ingin mengambil pujian dari kaisar ataupun para bangsawan pengikut lainnya dengan menjalin hubungan baik pada pihak kuil. Tadinya ratu ingin menjalin hubungan baik dengan pesaing pendeta agung. Pendeta tinggi Rou, namun ternyata pendeta itu menghilang tanpa kabar.


Pendeta agung kembali menjelaskan. "Apakah anda tahu tujuan kuil datang secara rutin ke tempat Permaisuri?"


"Te- tentu saja tahu!" Ratu menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Jika anda tahu, kenapa anda masih menyudutkan kuil karena mengirim orang-orang ke Permaisuri? Apakah anda tidak ingin melihat Permaisuri kembali sehat setelah tertekan karena mengirim anaknya ke medan perang yang sekarang hilang tanpa jejak?"


"Pendeta agung, saya tidak bermaksud menyinggung anda! Saya hanya ingin tidak ada ketimpangan." Ratu semakin panik.


"Pihak kuil menerima hubungan baik dengan siapa pun tapi tidak menerima hubungan politik yang tidak sehat. Kuil tidak ingin kerja sama yang merugikan siapa pun." Tegas pendeta agung.


Ratu ingin mengatakan sesuatu lalu tiba-tiba salah satu dayang datang dan membisiki sesuatu di telinganya, dia sedikit tersenyum dan mulai tenang. "Baiklah, jika anda berpikiran seperti itu."


Dayang membungkuk hormat lalu berjalan mundur ke belakang hingga berjarak beberapa meter.


Pendeta agung bisa melihat dengan jelas kesombongan di wajah dayang ratu dan tidak berkomentar apa pun.


Pendeta agung menghela napas membayangkan bagaimana kekaisaran jatuh ke tangan mereka.


Pendeta agung mulai curiga dengan perilaku tenang ratu setelah mendapat bisikan dari salah satu dayangnya.


Apakah dia mulai membuat rencana busuk?


"Kamu tanya? Kamu bertanya-tanya?"


Pendeta agung hampir menyemburkan minumannya ketika mendengar suara di kepala. Dewa?


"Huh! Aku cuma ingin menyampaikan- hm- itu-"


"Dewa? Anda baik-baik saja?"


"Bagaimana ini? Dia tidak boleh tahu aku melakukan kesalahan."


"Tinggal bilang saja."


"Tapi aku sudah berjanji."


"Anda dewa, kenapa takut pada manusia?"


"Hei, dia bawahanku yang setia. Tidak mungkin aku mengecewakannya."


Pendeta agung tiba-tiba bangkit dan bicara ke ratu. "Jika tidak ada yang ingin anda bicarakan, sebaiknya saya kembali ke ruang doa. Dewa Helcia membutuhkan saya."


Ratu yang menatap punggung pendeta agung menggerutu pelan. "Memangnya aku tidak tahu dia berbohong? Huh!"


Pendeta agung bisa mendengar gerutuan itu tapi tidak membalasnya. Yang jadi masalah adalah dewa yang tiba-tiba muncul padahal tidak ada tanda apa pun.


Dewa, apa yang anda ingin katakan?


"..."

__ADS_1


... Dewa?


"Maaf, anda salah menghubungi orang. Terima kasih."


Pendeta agung berhenti melangkah, mengerutkan kening tidak percaya lalu memanggil dewa sekali lagi di dalam pikirannya.


Masih tidak ada jawaban.


Pendeta agung tersenyum, senyumnya mengerikan bagi semua orang yang melihat, untung dirinya memakai topeng.


Pendeta agung menarik napas panjang untuk mengeluarkan amarah yang tidak perlu.


Pendeta tinggi Rahul yang melihat pendeta agung dari kejauhan, bergegas menyusul. "Pendeta agung, besok acara pertemuan anda dengan Kaisar. Anda harus bersiap-siap."


Pendeta agung mengangguk dan mengikuti pendeta tinggi.


Sementara di kamar, pendeta tinggi Rou berjalan mondar mandir memikirkan langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya. Setelah kematian putri kandung, putranya melarikan diri ke ibukota, namun sekarang tidak ada kabar mengenai kondisi putranya bahkan kaisar tidak mengucapkan apa pun.


Pendeta tinggi Rou tidak sempat bertanya mengenai upacara kesucian kekasih pangeran mahkota karena terlalu lelah sekaligus tidak mau berdebat dengan banyak orang.


Terdengar suara ketukan pintu.


Pendeta tinggi Rou bergegas membukanya.


"Saya salah satu dayang Ratu, bisakah anda mengizinkan saya masuk?"


Pendeta tinggi Rou segera membuka pintu lebar dan sedikit menyingkir untuk memberikan jalan. "Tentu saja."


Dayang ratu masuk dan pendeta tinggi Rou menutup pintu kamar.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Sebelumnya anda pergi kemana? Kenapa tidak muncul sesuai janji?"


"Saya dihalangi Pangeran Pertama untuk keluar wilayah bahkan kuil kami dihancurkan."


"Dihancurkan?"


"Ya, Pangeran Pertama menghancurkan kuil yang penuh berkah dewa. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya, tapi baguslah Kaisar tidak membela dia."


"Apakah anda berada di sisi Ratu dan Pangeran kedua?"


"Ya, tentu saja. Ratu sempat menyelamatkan aku saat disudutkan Gabrial, setiap mengingat pendeta yang sering melakukan kejahatan itu- darahku langsung mendidih."


Dayang ratu puas melihat reaksi dan jawaban pendeta tinggi Rou lalu kembali bertanya. "Apakah anda menyuruh putra anda menggantikan posisi pemimpin upacara kesucian?"

__ADS_1


"Apa?"


"Anda mendengar pertanyaan saya, Pendeta Tinggi Rou."


__ADS_2