
Pendeta tinggi Rou melihat barisan orang-orang menuju satu tempat lalu ada banyak ksatria yang tidak dikenal berjalan melewatinya.
Pendeta tinggi Rou tidak pernah bertemu dengan pangeran pertama dan pasukannya, jadi tidak mengenal mereka. "Kenapa ada banyak tentara bayaran? Apakah tempat ini akan mendapat masalah?"
Salah seorang wanita yang menggendong anaknya yang berusia sekitar dua tahun, berlari menghampiri pendeta tinggi. "Pendeta tinggi! Tolong! Tolong selamatkan putriku!"
Pendeta tinggi Rou menatap jijik wanita yang berlutut di kakinya. "Apa-apaan ini? Apakah anda sudah gila?"
"Putri saya tiba-tiba demam dan tidakĀ bisa jalan, pendeta bilang kita tidak boleh memasukan barang berbahaya ke dalam tubuh. Kami percaya."
Orang-orang di sekitar jalan sontak menoleh ke sumber suara.
Pendeta tinggi Rou yang mulai ketakutan, bergegas lari ke dalam kuil.
"PENDETA!"
"PENDETA TINGGI!"
"TOLONG SELAMATKAN ANAK SAYA!"
Orang-orang yang melihat sosok pendeta tinggi sontak mengejarnya dan menutup pintu kuil.
Pendeta tinggi Rou membentak dua pendeta muda yang sedang berjaga. "JANGAN ADA YANG MASUK KE DALAM KUIL! TUTUP SEMUA AKSES!"
Dua pendeta muda kebingungan dengan perintah pendeta tinggi Rou.
"Tapi pendeta tinggi, di luar sana banyak yang membutuhkan pengobatan!"
"Apa kalian semua sudah gila? Apa aku garus mengobati mereka semua?!" Bentak pendeta tinggi Rou.
"Bukankah itu sudah menjadi tugas kita sebagai pendeta? Apakah kita harus diam sa-"
Pendeta tinggi Rou memukul salah satu pendeta yang masih keras kepala.
Pendeta muda yang dipukul, jatuh ke lantai, temannya hanya melihat dan tidak berani menolong.
"Kamu lihat di luar sana, mereka sakita karena ulah mereka sendiri, kenapa kita yang hanya pelayan dewa harus diributkan hal yang bukan menjadi tanggung jawab kita? Mereka hanya rakyat yang ingin mencari pembenaran sendiri!" Teriak pendeta tinggi Rou lalu mengeluarkan ancaman. "Siapa pun yang berani membuka pintu kuil untuk mereka, aku akan menghukum kalian di depan dewa."
__ADS_1
Tidak ada yang bisa membantah ancaman pendeta tinggi Rou, mereka hanya bisa pasrah menuruti perintahnya, mereka semua di dalam kuil tidak ingin mendapat hukuman dari dewa.
Zuu yang melihat situasi dari luar kuil hanya bisa menggelengkan kepala setelah berhasil merekam dengan menggunakan batu rekam atas perintah Edrik lalu bergegas melapor.
Edrik yang melihat Zuu berjalan menghampirinya dengan napas tersengal-sengal, bertanya. "Bagaimana?"
"Dia sempat keluar lalu melarikan diri ke dalam kuil, saya juga sudah merekam semua perilakunya. Pangeran pertama, saya juga sudah menempatkan ksatria yang menyamar di area kuil." Lapor Zuu setelah berusaha mengatur napasnya.
Edrik mengerutkan kening. "Bagaimana dengan rakyat yang meminta pengobatan di sekeliling kuil?"
Zuu melihat kanan dan kiri, memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka. "Rose berhasil menyebar gosip mengenai penyakit yang diderita anak kenalannya setelah anda bicara sedikit, rakyat menjadi panik terutama untuk orang tua yang memiliki anak masih kecil. Mereka panik dan bergegas mencari bantuan ke kuil."
Edrik mengangguk puas.
"Saya juga sudah menjaga area perbatasan supaya tidak ada yang bisa keluar dan masuk ke wilayah ini."
"Orang-orang kaisar pasti akan curiga, bagaimana dengan rombongan Marquess Bill?" Tanya Edrik. "Aku sudah cek rombongan mereka dan tidak ada masalah, terutama mata-mata kaisar- atau mereka yang terlalu lihai?"
"Saya juga sudah cek kondisi, sepertinya Marquess Bill kerja sama dengan duke Aelthred sebelum masuk ke dalam wilayah ini."
"Maksud kamu- Marquess mengelabui mata-mata kaisar?" Tanya Edrik tidak percaya.
Edrik tidak memperhatikan bagian itu. "Tu- tunggu! Mereka semua dokter? Bukan ksatria?"
"Yah, untuk berjaga-jaga Marchioness membawa murid-muridnya. Semua murid yang dibawa murni berasal dari jalan dan ditolong oleh Marquess, Marchioness dan kedua anaknya. Mereka semua sangat setia dan dijamin tidak akan berkhianat, jika berkhianat-"
"Jika berkhianat?"
"Marchioness akan mengusirnya."
"Hanya itu?"
"Marquess dan istrinya bukan ksatria seperti anda yang suka menghukum orang lain dengan darah, lupakan tentang hal itu. Saat ini kaisar pasti sudah mendengar bawahannya menghilang tanpa jejak dan berusaha mengejar, kita hanya punya waktu sedikit untuk menyamarkan posisi."
Edrik mengangguk. "Kita sengaja memutuskan komunikasi dengan pihak kekaisaran supaya kaisar tidak mengetahui posisi kita. Semoga Daniela bisa membuat kaisar sibuk."
Zuu mengangguk setuju.
__ADS_1
Sementara itu di luar kuil, penduduk mulai marah karena pendeta tinggi tidak keluar dari kuil. Mereka berusaha menggedor pintu kuil yang berdiri kokoh.
"PENDETA! KELUAR DAN SELAMATKAN ANAK SAYA!"
"MEREKA BILANG ANAK SAYA TERKENA VIRUS DAN TIDAK BISA DISEMBUHKAN!"
"PENDETA!"
"PENDETA TINGGI!"
"TOLONG SELAMATKAN HIDUP ANAK SAYA!"
Meskipun mereka berteriak sekuat tenaga, kuil tidak membuka pintu. Para ayah berteriak marah sambil mengutuk dan menyebut dewa Helcia sementara para ibu menangis putus asa, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Rakyat tidak hanya berkumpul di kuil, namun juga di rumah Viscount untuk minta bantuan karena ketakutan.
Viscount Fei menutup pintu dengan perlindungan dari pengawal pangeran pertama sesuai saran Zuu.
Viscount Fei yang duduk di ruang kerja sambil sedikit membungkuk dan memegang kepalanya dengan kedua tangan karena pusing menghadapi cobaan yang tidak selesai, bergumam. "Dewa Helcia, kesalahan apa lagi yang saya lakukan?"
Marquess Bill yang melihat situasi melalui jendela kantor Viscount Fei, menjawab dengan santai. "Karena anda tidak terlalu peduli dengan kondisi rakyat di wilayah, sehingga mereka yang serakah bisa mengambil kekuasaan anda."
"Kekuasaan? Siapa yang mau mengambil kedudukan saya sebagai Viscount? Apakah Cou-" Viscount Fei terdiam ketika melihat wajah dingin Marquess Bill di jendela.
Marquess Bill balik badan dan menatap lurus Viscount Fei. "Apakah Count dan bangsawan lainnya tidak menegur anda perihal ini? Kuil yang ada di wilayah anda sudah mencuci otak rakyat anda dan bahkan bisa menghancurkan kehidupan anda jika dibiarkan."
Viscount Fei terlalu sibuk dengan pekerjaan dan melihat tidak ada keluhan apa pun dari bawahannya, dia merasa aman. Tidak disangka justru pihak kuil yang melakukan kejahatan. "A- apa yang harus saya lakukan?"
Marquess Bill yang melipat kedua tangannya di belakang, menatap dingin Viscount Fei.
Viscount Fei bangkit dari kursi lalu berlutut di kaki Marquess Bill. "Anda penasehat kerajaan, apakah anda akan melaporkan hal ini kepada kaisar? Tolong jangan laporkan, saya tidak ingin kehilangan posisi. Tolong saya penasehat kerajaan!"
Marquess Bill bisa melihat sifat Viscount Fei yang hanya mengikuti arus dan cari aman. Situasi ini bisa dia manfaatkan dengan baik sekaligus dijadikan bidak catur untuk mencari keamanan.
Biar bagaimanapun Marquess Bill sudah membunuh orang-orang kaisar dan pasti akan ketahuan secepatnya, dia harus mencari tindakan aman untuk menyelamatkan semuanya dari kaisar.
Jika kaisar tahu tempat ini memiliki virus yang menyerang anak kecil dan tidak dapat disembuhkan, keputusannya pasti akan membakar habis wilayah ini.
__ADS_1
Marquess Bill berani bertaruh kalau Viscount Fei tahu konsekuensi jika kaisar mengetahui situasi wilayahnya, mau tidak mau Viscount pasti setuju diajak kerja sama.