
Pendeta yang mendapat pertanyaan itu, seketika memucat. Bagaimana bisa anak itu tahu mengenai kekuatan sucinya? Hanya pelayan pilihan dewalah yang bisa melihat kekuatan suci.
Ella melirik pendeta Rou dengan cemas, pasalnya pendeta itulah yang menjamin penyembuhan suaminya. "Pendeta?"
Pendeta Rou menatap marah Daniela. "Kamu siapa? Bagaimana bisa masuk ke dalam kamar pangeran kedua? Apakah ingin melukai pangeran?"
Daniela menggelengkan kepala dengan tidak berdaya. "Ah, bagaimana ya aku menjelaskannya? Yang memindahkan aku ke sini adalah dewa, tapi sepertinya aku paham alasan dewa melakukan itu."
"Ho- untuk mendapat kekuatan suci, harus melalui izin kuil. Sepertinya kamu bukan pendeta kuil."
"Memang bukan, aku hanya bangsawan biasa yang kebetulan menjadi pesuruh dewa."
"Daniela, kenapa kamu sejahat itu kepadaku?"
Daniela menghela napas panjang. "Terserahlah."
"Bahkan kamu sudah pandai berbohong, bangsawan mana kamu?"
Daniela menaikkan salah satu alis. "Oh, kenapa malah bertanya dengan cara tidak sopan, jika ingin mengetahuinya?"
Pendeta Rou mengangkat tangan, sebuah cahaya kecil berwarna gelap pekat mulai berkumpul di tangan pria itu.
Daniela menjadi panik. "Tunggu! Anda akan membunuh saya di sini?"
"Saya ingin tahu, apakah kamu benar-benar pesuruh dewa."
Daniela tidak siap dan mengangkat kedua tangannya untuk melindungi diri. "Tidak, aku tidak ingin mati, pendeta sialan!"
"Huh, dia benar-benar akan menyerang kamu?"
Daniela tidak tahu harus memukul kepala dewa atau diam saja, begitu mendengar pertanyaan seperti itu. "Bantu aku untuk berpindah!"
"Kekuatanku terbatas, maafkan aku."
Daniela berteriak di dalam hati. Gila, ini gila! Bahkan dewa sekalipun tidak bisa melindungi aku!
"Apa yang pendeta lakukan di sini? Membunuh seorang bangsawan?"
Daniela mendengar suara permaisuri dan bergegas pergi berlindung di belakang permaisuri yang berdiri di depan pintu kamar terbuka. "Permaisuri, tolong saya!"
Permaisuri yang melihat itu menjadi sakit, lalu memeluk Daniela dengan kasih sayang keibuan. "Daniela sayang, maafkan aku."
__ADS_1
Aura gelap di sekitar tangan pendeta Rou mulai hilang, dia berdehem dan menundukkan tubuh sebagai bentuk penghormatan terhadap permaisuri. "Saya memberi hormat kepada Permaisuri kekaisaran."
Ella juga membungkuk hormat, dia tidak bisa bersikap tidak sopan.
Permaisuri menghela napas panjang sambil memeluk bahu mungil Daniela. "Saya yang menyuruh dia pergi ke kamar pangeran kedua, untuk penyelidikan."
"Ya?" tanya pendeta Rou tidak paham.
"Sampai sekarang, pangeran kedua belum membuka mata. Saya jadi cemas, apakah seorang pendeta yang sudah diusir dari kekaisaran- mampu menyembuhkan seseorang."
Kedua tangan pendeta Rou mengepal di masing-masing sisi, menunjukkan senyum hormat. "Yang Mulia, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan pangeran kedua. Hanya saja membutuhkan waktu yang cukup lama sampai benar-benar sembuh."
"Jadi, apakah pendeta tahu penyakit apa yang dialami pangeran kedua?" tanya permaisuri.
Pendeta Rou menjawab dengan percaya diri, merasa yakin bahwa tidak ada yang mampu mengobati penyakit pangeran kedua. "Saya tidak tahu, Yang Mulia. Saya harus meneliti lebih jauh."
"Meneliti lebih jauh?" tanya permaisuri yang tidak yakin, lalu menoleh ke ratu yang berdiri tidak jauh dari lokasi permaisuri berdiri. "Ratu."
Ratu menipiskan bibirnya lalu masuk ke dalam kamar pangeran kedua, melewati permaisuri dengan tidak sopan, bertanya ke Ella dengan kasar. "Apa yang terjadi? Siapa yang akan membunuh putraku?"
Ella melirik gugup Daniela yang berdiri di belakang permaisuri.
Permaisuri menutup sosok Daniela dari ratu. "Apakah sopan menunjuk Permaisuri seperti itu?"
"Yang Mulia, dia berusaha membunuh anak saya, pangeran kedua. Apakah tidak ada keadilan untuk saya?!" teriak ratu dengan histeris, takut memikirkan kemungkinan akan diusir dari istana jika anaknya tidak berguna.
Permaisuri menatap dingin ratu. "Oh, siapa yang akan membunuh siapa? Daniella hanya bangsawan biasa, hati-hati jika bicara, Ratu."
"Yang Mulia-" Ratu duduk di lantai, memohon pada permaisuri. "Hukum bangsawan yang akan membunuh putra saya, putra saya adalah pangeran kekaisaran dan juga anak dari kaisar. Tidak pantas mendapat perlakuan seperti ini."
"Bukankah kamu sendiri yang membuat ulah? Kenapa jadi menyalahkan Daniela?"
Daniela mengangguk setuju.
"Jika dilihat dari kedudukan, maka Daniela yang lebih tinggi dari kamu, Ratu. Jadi, bersikaplah hormat jika masih menginginkan kedudukan yang Ratu duduki sekarang." Permaisuri menatap dingin ratu, seolah ingin membunuh wanita yang tidak tahu diri. "Saya tahu, Ratu sekarang ada di pihak siapa dan akan berbuat apa jika pangeran pertama tidak ada."
Ratu menggigil ketakutan.
Permaisuri balik badan bersama rombongannya dan pergi menuju istana permaisuri sambil menggandeng tangan Daniela.
Daniela merasa aneh, Permaisuri bisa mengetahui kondisinya di dalam kamar pangeran kedua. "Bagaimana anda tahu saya ada di sana?"
__ADS_1
"Insting seorang Ibu tidak pernah salah, Daniela," jawab permaisuri.
Daniela terlalu lelah untuk bertanya lebih lanjut dan memutuskan mengikuti alur untuk sementara waktu.
"Jadi, apakah kamu tahu penyakit yang dialami pangeran kedua?" tanya permaisuri sambil tetap berjalan lurus dengan anggun.
"Ya."
"Penyakit apa itu?"
"Gonore."
Langkah kaki permaisuri terhenti, begitu pula rombongan di belakang.
Daniela yang hampir menabrak punggung permaisuri, menghentikan langkahnya.
"Kamu tahu penyakit apa itu?"
Daniela mengangguk cepat. "Penularan hanya melalui seksual."
Dayang permaisuri menegur Daniela. "Duke, jaga bicara anda di hadapan Permaisuri."
"Tapi, saya hanya menjawab jujur. Penyakit itu hanya ditularkan melalui seksual, saya juga yakin kalau masyarakat menderita penyakit sama, mengingat ada banyak sekali tempat pelacuran di kekaisaran."
Permaisuri balik badan dan menatap para dayangnya, memang yang dikatakan Daniela masuk akal. Di kekaisaran ada tempat pelacuran yang cukup banyak, dikarenakan ratu juga berasal dari sana dan dianggap sebagai simbol mereka. Sungguh menggelikan.
"Pasti susah menutup tempat itu, karena mereka bayar pajak ke kas Kaisar."
Permaisuri menutup kedua mata dengan geram, dia sudah lama tahu mengenai hal itu, Kaisar mencari uang pribadi di luar sana dengan memanfaatkan kedudukannya.
Dayang bertanya ke Daniela. "Apakah Duke tahu cara mengobatinya?"
"Marchioness Green mengetahuinya, hanya saja kemungkinan beliau tidak mau pergi meskipun Kaisar yang mengeluarkan perintah." Daniela menatap Permasuri dengan berani. "Mungkin Marchioness sedang menunggu anda, Yang Mulia."
Permaisuri menarik napas. "Bagaimana kamu tahu?"
"Karena hanya anda yang bisa melindungi keluarganya," jawab Daniela. "Saat ini Kaisar berupaya mengucilkan dokter dan percaya pada pendeta yang tidak jelas asal usulnya sementara Kaisar juga memusuhi pihak kuil suci. Sepertinya Kaisar ingin membangun kekuatan sendiri. Yang Mulia, tolong- bisakah anda turun tangan untuk menyelamatkan rakyat?"
Permaisuri menimbang permintaan Daniela.
Daniela menambahkan. "Pasti akan berhasil, saya jamin." Lalu dia merendahkan suaranya supaya bisa didengar permaisuri. "Pangeran pertama ada di sana."
__ADS_1