AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
DUA PULUH SATU


__ADS_3

Count Ava kebingungan ketika mendapat tatapan dari teman-teman dan bangsawan lainnya. Sejak berusia  tiga puluh lima tahun, tidak ada yang menghina dirinya seperti ini. Semua selalu menghormati dirinya sebagai salah satu bangsawan kaya.


"Tidak... saya..." Count Ava tidak tahu harus menjawab apa, lalu emosinya kembali naik ketika melihat gambar yang disebut foto itu. "INI PASTI PENIPUAN!"


"Count, saya menipu siapa?" tanya Daniela.


"Kamu- kamu pasti ingin memerasku!" Tunjuk count Ava yang sudah tidak bisa menjaga wibawanya lagi.


Daniela tersenyum kecil. "Ah, begitu ya. Kalau begitu saya minta maaf jika anda beranggapan begitu."


Duke Vilvred mengangkat tangan. "Yang Mulia, saya tidak setuju adanya peraturan hukum tentang kekerasan rumah tangga ataupun seksual ataupun apalah itu selama menyangkut pasangan suami istri menikah."


Daniela menghela napas dan duduk di tempatnya, mendengarkan argumen apa yang akan dibicarakan ayahnya ini.


"Duke Vilvred, beritahu alasannya." Perintah kaisar, matanya mulai terbuka dan tidak mengantuk lagi.


"Pasangan menikah pantas melakukan hubungan di atas ranjang dan sudah menjadi hukum secara tidak tertulis bahwa wanita harus tunduk pada pria, lantas bagaimana jika wanita itu tidak mau melakukan apa yang diinginkan pria? Memberontak misalnya? Tidak bisakah kami sedikit memberikan hukuman?"


Bangsawan lain yang ada di pihak kaisar, setuju dengan pendapat duke Vilvred.


"Wanita harus tunduk pada pria."


"Hukuman juga pantas untuk mereka yang tidak patuh."


Daniela mengangkat tangan dan bertanya. "Saya boleh bertanya, salah satu contoh apa yang membuat wanita dicap pemberontak dan pantas menerima hukuman?"


Duke Vilvred menjawab dengan tegas. "Contohnya saja mempermalukan suami dengan menunjukan tubuhnya ke pendeta tinggi. Lady, bukankah hal itu sangat tidak pantas?"


Daniela menarik napas panjang, berusaha menelan emosinya.


"Lagipula, lady hanya berusia lima belas tahun dan belum merasakan pernikahan. Bagaimana bisa bicara mengenai pernikahan? Apakah lady sedang ingin bermain pahlawan di sini?"


Daniela tertawa kecil. "Hahahaha- astaga duke, memang usia saya lima belas tahun tapi saya tidak pernah salah menyebut nama status orang kecuali tidak mengenalnya. Bahkan duke sendiri salah menyebut saya sebagai lady."


Duke Vilvred tersenyum mencemooh. "Memang, hanya kalimat itu yang bisa digunakan bocah untuk melindungi status dalam nama."

__ADS_1


Daniela tidak menjadi goyah dengan tindakan ayahnya, memutar kepala dan menatap langsung sang ayah. "Lantas bagaimana dengan anak?"


"Apa?"


"Di setiap rumah tangga, hal yang paling dilupakan dari pasangan suami istri adalah perasaan anak, bagi mereka- anak tidak bisa memutuskan apa pun. Kenyataannya orang tua tidak pernah bertanya bagaimana perasaan anaknya." Jawab Daniela. "Semua anak memang tidak ingin melihat orang tuanya berpisah, tapi jika disuruh memilih- mereka lebih pilih melindungi salah satu orang tuanya yang menjadi korban. Anda mengerti perkataan saya, duke?"


Duke Vilvred menatap tajam Daniela. Dia tahu dengan baik apa yang dimaksud Daniela. "Hati-hati bicara jika tidak ada bukti, lady bisa ditangkap."


Daniela tertawa mencemooh. "Rupanya duke Vilvred sangat keras kepala ya?"


"Justru lady, yang sangat keras kepala. Wanita yang sudah menikah, hidup dan matinya di tangan suami," kata duke Vilvred.


"Lady, apa yang dikatakan duke Vilvred benar. Tanpa melakukan hubungan suami istri, bagaimana bisa tercipta anak? Apakah lady ingin membuat kekaisaran Helcia tidak memiliki generasi penerus?"


"Jangan-jangan anak usia lima belas tahun ada yang takut dengan proses membuat anak?"


"Lady, jika anda takut- saya bisa membantu anda."


Pendapat mulai berubah arah ke count Ava. Daniela mulai mencari strategi lain dengan tenang.


"Kenapa lady Daniela bersikeras membantu countess Ava dan menyembunyikannya ke dalam kuil?" tanya pendeta tinggi Rahul. "Pendeta agung, pendeta tinggi Rohan. Anda bisa menjelaskan dengan baik bukan? Jangan sampai kuil kita diseret karena perseteruan politik."


Pendeta agung dan pendeta Rohan yang sedang bermain catur dengan santai, menoleh bersamaan lalu kembali konsentrasi dengan catur.


"Dengarkan saya!" teriak pendeta tinggi Rahul. "Bagaimana bisa kalian setenang ini? Count Ava ada di pihak kaisar, bagaimana jika kaisar mencurigai kuil?"


Pendeta tinggi Rohan menguap. "Lalu?"


"Lalu? Pendeta tinggi Rohan, anda bilang lalu dengan santai? Apakah anda menganggap remeh kekaisaran?"


Pendeta tinggi Rohan mengibaskan tangan dengan santai tanpa menoleh ke arah rekannya. "Tidak perlu khawatir, kaisar tidak akan menyerang kita hanya karena bantu menyelamatkan countess. Nyawa countess tidak berharga di mata kaisar."


"Justru karena tidak berharga, kita harus mengembalikannya ke suami countess!" Balas pendeta tinggi Rahul dengan tidak sabar. "Kenapa kalian tidak bisa mendengarkan aku sama sekali dan malah bersantai?"


Pendeta agung mengubah posisi catur bagiannya. "Apakah kami terlihat santai sekarang? Kami sedang bermain catur dan mengasah otak."

__ADS_1


Pendeta tinggi Rahul berlutut di lantai. "Tolong, setidaknya keluarkan perintah untuk mengeluarkan countess dan anak-anaknya dari kuil. Pendeta agung."


"Tidak." Jawab pendeta agung dengan tegas.


"Kenapa anda justru bersikap tegas di saat sekarang? Pendeta agung, tidakkah anda ingin marah ke lady Daniela yang akan menghancurkan kuil?"


"Apakah kamu bodoh?" tanya pendeta agung ke pendeta tinggi Rahul.


Pendeta tinggi Rahul menatap bodoh pendeta agung lalu ke pendeta tinggi Rohan. Kenapa dirinya yang marah tapi dirinya pula yang dikatakan bodoh? Andaikan orang ini bukan pendeta agung, dirinya pasti bisa membalas dengan mudah.


"Yah, gimana ya. Masalahnya saat ini bangsawan dari pihak kaisar mulai menggunakan politik agama Helcia. Anggap saja bantuan kita untuk countess, bentuk dari salah satu peringatan kuil. Toh, lady Daniela juga berjanji tidak akan membuat kuil rugi, selama ini orang hanya tahu kita menolong ibu dan anak-anak yang mendapat kekerasan di rumahnya."


Pendeta tinggi Rahul berusaha mencerna kalimat pendeta tinggi Rohan. "Tunggu, saya kurang paham bagian politik agama. Untuk apa? Bukankah kekaisaran Helcia sudah besar? Kenapa ada politik agama? Hah? Sejak kapan?" tanyanya dengan panik.


"Sudah lama dan kamu baru tahu? Kami saja diam karena tidak mau ikut campur, tapi semakin lama kaisar itu semakin bodoh saja. Tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah, menjadikan agama untuk alat politik," geram pendeta agung.


"Hah? Salah satu contohnya apa?" tanya pendeta tinggi Rahul ke pendeta tinggi Rohan.


Pendeta tinggi Rohan tersenyum. "Hal yang paling mudah adalah kalimat dewa akan marah jika tidak menghormati keputusan kaisar Helcia. Memangnya dia siapa sampai menyebut dewa?"


"Kaisar?" pendeta tinggi Rahul balik bertanya. "Apakah itu salah satu contoh sederhana? Bagaimana contoh yang berat sampai pendeta agung marah?"


Pendeta tinggi Rohan berdehem. "Semua orang harus membela pangeran mahkota yang sudah diberkahi dewa daripada pangeran pertama. Padahal pihak kuil tahu bahwa dewa pasti akan memberkati semua orang yang berbuat kebaikan sementara pangeran mahkota-"


Pendeta tinggi Rohan tidak melanjutkan kalimatnya dan hanya mengangkat kedua bahu dengan santai.


"Woah, bukankah itu kejahatan? Pangeran mahkota hobi bersenang-senang dan menghamburkan uang demi adik lady sementara pangeran pertama tidak sempat diberkati karena harus terjun ke medan perang yang seharusnya menjadi tugas pangeran mahkota sebagai pangeran kedua dan anak ratu."


Catur mendadak berubah menjadi batu, pendeta agung pergi menjauh.


"Nah, hal inilah yang membuat pendeta agung marah."


"Berarti secara tidak langsung pendeta agung berada di pihak pangeran pertama? Bukankah kita harus bersikap netral?"


"Sudah, tidak usah dipikirkan. Ingat, jangan sampai bocor di luar atau pendeta agung akan menghukum kamu dengan keras."

__ADS_1


Pendeta tinggi Rahul mengangguk ngeri.


__ADS_2