AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
TUJUH PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Pendeta tinggi Rou tidak tahu harus menjawab apa karena terlalu takut salah dan rencananya akan gagal, namun jika dipikirkan kembali- putranya tidak mungkin ada di pihak kuil pusat.


Kuil pusat menekankan memberikan maaf untuk orang yang bersalah dan biarkan Tuhan yang menilai sementara dirinya sudah mendidik anak-anak sejak kecil untuk menekankan salah adalah salah dan mereka yang melakukan kesalahan wajib diberikan hukuman.


Tapi-


Pendeta tinggi Rou tidak ingin semua orang tahu ajarannya sekarang, karena pengikut pendeta agung lebih banyak dari dirinya.


"Pendeta Tinggi, kenapa anda tidak menjawab?"


Pendeta tinggi Rou menghela napas lalu menjawab. "Benar, saya yang menyuruh Andi untuk menggantikan. Waktu itu saya dihadang suruhan Pangeran Pertama untuk pergi."


Dayang ratu menghela napas lega. "Senang mendengarnya, saya pikir kita bisa bekerja sama dengan baik dan melawan para musuh."


Pendeta tinggi Rou mengangguk. "Ya."


"Ah, satu lagi."


"Ya?"


"Apakah anda bisa bersumpah setia pada ratu?"


"Ratu?" Tanya pendeta tinggi Rou dengan bingung. "Hanya ratu? Tidak ada kaisar?"


Dayang ratu tersenyum lalu bicara dengan nada suara kecil. "Pendeta tinggi pasti tahu apa yang terjadi pada ratu sekarang?"


Pendeta tinggi Rou tidak tahu kondisi ratu sekarang tapi harga dirinya menekankan untuk tidak bertanya pada dayang. "Y- ya."


"Syukurlah anda paham mengenai kondisi Ratu yang telah disudutkan Permaisuri."

__ADS_1


Dahi pendeta tinggi Rou semakin berkerut ketika mendengar nama permaisuri muncul lalu darahnya mendidih ketika mengingat masa lalu yang tidak menyenangkan, permaisuri adalah salah satu orang yang mengusulkan dirinya dibuang dari ibukota.


Bagaimana bisa aku kalah dengan orang yang bukan bangsawan dan juga hanya mengandalkan kekuatan Permaisuri?


Dulu, sebelum pengangkatan posisi pendeta agung. Gabriel terlihat tidak memiliki pendukung apa pun, lalu tiba-tiba permaisuri muncul dan mengacaukan segalanya.


Yang membuat pendeta tinggi Rou semakin kesal adalah fakta Gabriel bisa mendengar firman dewa dengan jelas sementara dirinya hanya mendengar bisikan.


Tiba-tiba keserakahan muncul di benak pendeta tinggi Rou. "Lalu, bagaimana jika saya bekerja sama dengan Ratu ataupun Kaisar? Salah satunya tidak masalah asalkan saya bisa menjadi Pendeta Agung."


Dayang ratu tidak tahu bagaimana caranya seorang pendeta bisa menjadi pendeta agung, namun jika di masa lalu pendeta agung sekarang bisa didukung permaisuri, kenapa ratu tidak mendukung calon pendeta agung baru? Toh, ratu pasti tahu langkah apa yang akan dilakukan karena memiliki banyak kekuasaan.


Dayang ratu tidak peduli apa pun asalkan pendeta di hadapannya bisa bekerja sama dengan ratu. "Tidak masalah, ratu bisa mendukung di belakang anda untuk menjadi pendeta agung."


Pendeta tinggi Rou puas dengan jawaban dayang itu.


Mereka berdua segera berdiskusi untuk ratu.


Permaisuri tidak hadir karena dilarang pihak kuil, sebelumnya sempat melayangkan protes, namun setelah pendeta agung pergi diam-diam ke tempat permaisuri bersama para bawahan setia, permaisuri tidak protes lagi.


Pendeta tinggi Rohan dan Rahul berjalan di belakang pendeta agung sambil membawa guci kecil berisikan air suci yang sudah didoakan dan akan dipersembahkan untuk kaisar. Ratu juga hadir namun tidak boleh duduk di samping karena permaisuri tidak hadir hari ini.


Ratu sempat protes namun pendeta tinggi Rohan segera menjelaskan. "Kuil hanya mengakui satu wanita yang menjadi istri sah Kaisar, anda tidak menikah secara resmi di kuil jadi kami tidak ingin anda berada di samping kaisar sebagai bentuk menghargai kami.


"Selain itu, juga baik di mata rakyat jika Ratu mampu menjaga perasaan Permaisuri yang sedang terpuruk dan sakit karena kehilangan anak satu-satunya."


Ratu ingin membantah tapi tidak berani karena ada kaisar. Bagaimana bisa permaisuri sedang terpuruk ketika berhasil menurunkan posisi pangeran kedua? Wanita tua itu pasti sedang melakukan pesta di dalam istananya.


Kaisar berdehem dan melempar tatapan tajam ke ratu. "Penuhi permintaan kuil, aku tidak ingin ada masalah."

__ADS_1


Ratu hanya menggigit bibir saat melihat kaisar sedang duduk di singgasana sendirian sekarang, padahal ini waktunya untuk pamer ke semua orang bahwa dirinya hanyalah satu-satunya wanita yang dicintai kaisar.


Pendeta tinggi Rohan menghela napas lega. Sebenarnya pendeta agung sakit mata melihat wanita pelacur duduk di samping singgasana kaisar, namun pendeta tinggi Rohan harus mencari cara supaya kedua belah pihak tidak tersinggung dengan permintaan aneh pendeta agung.


"Saya minta maaf jika hal ini menyinggung ratu, tapi kami sangat menjunjung tinggi pernikahan monogami. Satu-satunya hal baik adalah pihak kuil tidak ikut campur pada pernikahan ratu dan kaisar."


Ratu tercengang lalu tidak berani melawan pihak kuil lagi.


Ratu sempat belajar. Di masa lalu, pernikahan kaisar ataupun anggota keluarga kekaisaran lainnya wajib diawasi oleh pihak kuil bahkan jika kaisar ingin mengajukan cerai, wajib ke kuil untuk minta persetujuan pada dewa.


Jika pihak kuil ikut campur ke dalam pernikahannya bersama kaisar, sudah dipastikan masa depannya akan suram dan dirinya kembali ke kehidupan yang tidak menyenangkan.


Kembali di masa sekarang, ratu hanya bisa menatap iri kaisar yang duduk di singgasana sambil dihormati dan dilimpahkan hadiah oleh banyak orang saat di hari tertentu, namun sekarang kaisar sedang menerima pihak kuil untuk membahas sesuatu dan memberikan berkah.


Ratu menghela napas dengan kesal lalu tidak lama salah satu dayangnya datang dan berbisik sesuatu di telinganya.


Kaisar yang sedari tadi duduk di singgasana, segera turun dan menjabat tangan pendeta agung. "Terima kasih sudah datang, saya menantikan kerja sama yang baik dengan pihak kuil."


"Saya juga." Jawab pendeta agung dengan acuh.


Para bangsawan yang datang untuk melihat proses kerja sama, mulai antusias. Jika pihak kuil bisa diajak kerja sama, kemungkinan besar pangeran kedua menjadi pangeran mahkota semakin tinggi, ditambah dengan menghilangnya pangeran pertama.


"Nah, pendeta agung. Sebagai kaisar, saya menghormati kerja sama kita berdua."


Secara tidak tahu malu, kaisar mengambil jasa kaisar sebelumnya. Semua orang di dalam aula kecuali ratu, tahu mengenai prestasi itu namun tidak berani berkomentar di permukaan. Mereka tidak ingin cari mati.


Pendeta agung menjawab dengan lugas. "Benar, kerja sama sudah terjalin sebelum anda menginjakkan kaki di ibukota."


Senyum kaisar menghilang begitu mendengar ucapan pendeta agung.

__ADS_1


Para bangsawan di dalam ruangan, menjadi khawatir. Mereka baru ingat kalau pendeta agung bicara tidak disaring terlebih dahulu.


Dengan panik, pendeta tinggi Rahul menjelaskan ke kaisar. Meskipun posisi kuil bisa dibilang hampir setara dengan kekaisaran, pihak kuil tidak ingin ada pertikaian. "Ah, maksudnya sebelum anda menginjak ke ibukota, kuil dan kekaisaran sudah bekerja sama dengan baik."


__ADS_2