
POV EDRIK
"Pangeran pertama."
Aku tersenyum ke dayang yang menjaga istana permaisuri. "Apakah ibu sakit lagi?"
"Beliau akhir-akhir ini sakit kepala. Yang Mulia, jika saya boleh bicara- permaisuri kecewa karena anda menyerahkan posisi pangeran mahkota ke pangeran Isak."
"Lalu, aku biarkan ayah mengirim anak kecil ke medan perang?"
"Tapi kaisar tidak mungkin mengirim pangeran kedua ke medan perang, itu hanya gertakan supaya anda bisa pergi ke medan perang."
Ah, aku melupakan bagian itu, tapi apa yang mereka harapkan dari anak berusia dua belas tahun? Berpikir lebih bijak?
"Permaisuri."
Aku memberanikan diri untuk bicara ke ibu.
"Maaf, sudah membuat keputusan sendiri. Aku hanya ingin melindungi matahari di kekaisaran, tolong jangan marah. Aku akan mengirim surat sebanyak mungkin supaya ibu tidak khawatir."
Aku menunggu untuk mendapat jawaban dari ibu, tidak ada jawaban. Tentu saja.
"Pangeran pertama."
Aku menghela napas dan berjalan meninggalkan istana permaisuri, lalu pergi ke istana kaisar.
"Pangeran pertama, kaisar sedang pergi."
"Kemana?"
"Anda bisa pergi bersama pasukan lain, tidak perlu menunggu kaisar."
Aku terdiam. Tentu saja, apa yang bisa aku harapkan dari ayah?
Aku pergi meninggalkan istana kaisar lalu tanpa sadar kaki melangkah menuju istana ratu. Ketika melewati taman, aku melihat pemandangan kaisar dan ratu sedang bertepuk tangan ketika Isak sedang membaca puisi.
Matahari.
Senyum Isak adalah matahari bagi kekaisaran.
Kedua tanganku mengepal.
"Pangeran pertama?"
Aku balik badan dan melihat salah satu bangsawan muda seusiaku, menyerahkan helm besi.
"Jika anda ingin melindungi permaisuri, anda harus kuat."
Ini pertama kalinya ada yang menasehatiku.
"Siapa nama kamu?" tanyaku.
__ADS_1
"Zoe."
"Kelihatannya kamu bangsawan, kenapa ikut perang?"
"Apa yang bisa saya lakukan? Tentu saja mendapatkan uang untuk saudara kembar."
"Apa?"
"Adik saya sakit keras dan membutuhkan uang banyak, saya menggantikan posisi sepupu dan mendapat uang banyak. Sekarang adik saya diurus rumah sakit dan saya tenang karena mereka mengurusnya."
"Apakah kamu yakin mereka akan mengurus adik kamu?"
"Tentu saja, jika mereka bohong. Aku akan menghantui para pembohong seumur hidup."
"Hm."
Kali ini aku bertekad tidak akan lemah lagi, Zoe bisa melindungi adiknya, kenapa aku tidak bisa?
Aku berjalan meninggalkan istana, meninggalkan beban di hati dan berdoa kepada dewa supaya melindungi permaisuri Helcia.
"Tu- tunggu dulu!"
Sebelum naik kuda, aku melihat seorang anak kecil lari menghampiri pasukan kami tanpa rasa takut.
Anak itu terengah-engah lalu menyerahkan sebuah kalung dengan tangan mungilnya ke arah aku.
Aku menunjuk diri sendiri supaya yakin. "Aku?"
"Bukankah anda pangeran pertama? Salah ya? Soalnya saya melihat mant lambang pangeran pertama."
"Kalung ini milik ibuku, dan katanya bisa melindungi. Aku sudah dilindungi dan diberkati, sekarang giliran pangeran pertama."
"Kamu?"
"Nama saya Daniela Vilvred." Daniela membungkuk sekilas lalu mulai mengeluh. "Cepat ambil kalungnya sebelum ketahuan ayah."
"Apakah kamu mencurinya?"
Daniela kecil menggeleng. "Tidak, itu memang milik ibu saya. Ayah sudah menikah lagi dan menyerahkan barang-barang ibu ke ibu baru. Kalung itu saya ambil karena memang buat saya. Pangeran pertama, ibu di surga pasti akan melindungi anda."
"Kenapa kamu kepikiran memberikan padaku?" tanyaku sambil memakai kalung titanium dengan liontin berbentuk persegi panjang dan ada nama dewa Helcia. "Apakah aku boleh memakainya?"
Daniela melambaikan tangan supaya aku berjongkok, tanpa sadar aku menurut.
"Kata ibu, kalung itu diberikan oleh pendeta kuil dan sudah diberkati. Emas memang lambang kekayaan matahari Helcia tapi tidak cocok untuk penguasa." Bisik Daniela di telinga Edrik. "Emas mudah hancur dan rapuh jika tidak dirawat dengan baik, tapi tidak semua orang tahu tentang merawat emas, mereka hanya tahu cara mendapatkan emas."
"Lalu kalung ini terbuat dari apa?"
"Titanium."
"Titanium?"
__ADS_1
"Ya, ibu menulisnya di buku harian kalau kalung itu sangat kuat dan tidak bisa dihancurkan, cocok untuk penguasa seperti pangeran mahkota."
Aku tertawa. "Aku sudah bukan pangeran mahkota lagi, lebih baik berikan pada Isak."
"Anda bukan pangeran mahkota?"
"Bukan, aku akan mengembalikan kalung ini."
Daniela menggelengkan kepala. "Tidak, barang yang sudah diberikan, tidak bisa diambil kembali. Bawa saja untuk mendapat berkat."
Aku berdiri. "Aku akan menjaganya dengan baik."
Daniela mengangguk lalu melambaikan tangan ketika pasukan sudah pergi.
"Miris sekali, tidak ada yang mengantar pasukan kita pergi. Hanya anak perempuan kecil yang mengantar kita." Gumamku.
"Suatu hari akan ada yang menyambut anda, pangeran pertama. Jauh lebih baik hanya satu orang yang menyambut kita daripada banyak orang."
Aku menertawakan kalimat romantis Zoe, benar-benar tidak cocok untuk tubuhnya yang besar.
Tapi, aku jadi penasaran.
Apakah aku akan diberikan kesempatan seperti itu oleh dewa?
-------------
Beberapa tahun kemudian, setelah bertahun-tahun di medan perang dan sesekali pulang kekaisaran tanpa diketahui siapa pun, aku memutuskan menuruti perintah permaisuri dan Daniela.
"Pangeran pertama, apakah saya tidak salah dengar? Anda akan menghilang untuk sementara waktu? Anda mau sembunyi di mana?" Zoe menjadi khawatir ketika mendengar ide gila Edrik.
Zuu yang tubuhnya sudah mulai membaik, memutuskan ikut dengan saudara kembarnya, setia pada pangeran pertama. "Permaisuri yang memberikan perintah."
"Permaisuri? Kenapa? Apakah takut dengan kaisar?" Tanya zoe tidak mengerti. "Bukankah bagus menunjukkan pada kaisar kalau anda lebih hebat dari dia?"
"Jika aku menunjukkannya terang-terangan, kaisar pasti marah. Biarkan saja, aku menuruti perintah permaisuri. Sampaikan kabar palsu bahwa aku hilang setelah masuk ke kota tengkorak."
"Jika anda mengumumkan hal itu, maka perang ke negara musuh dianggap bukan pekerjaan anda." Zoe tidak suka dengan ideku.
"Jika aku hilang di negara musuh, kaisar akan mencari cara untuk menyerang dan mencari aku sampai dapat. Aku tidak mau melibatkan orang tidak bersalah."
"Apa yang dikatakan pangeran pertama itu benar, Zoe. Lebih baik diam dan sembunyi daripada bertemu dengan kaisar dan antek-anteknya."
Zoe tidak bisa berdebat lagi jika Zuu sudah turun tangan.
Zoe terpaksa mengirim surat ke kaisar mengenai hilangnya pangeran pertama, hasil sudah bisa ditebak. Kaisar dan ratu semakin menggila untuk memantapkan posisi putra mereka, sementara permaisuri pilih mengurung diri di dalam kamar untuk berdoa atas keselamatan pangeran pertama.
Zuu cek surat yang dibuat saudara kembarnya.
Aku memegang kalung yang diberikan Daniela sambil menatap peta. Tidak lama lagi aku tiba di kekaisaran, melihat di bola kaca, sepertinya dia masih kekanakan.
Seperti yang dia bilang, kalung titanium berbeda dengan emas. Tidak bisa dihancurkan dan hanya orang tertentu yang memakai dan merawatnya.
__ADS_1
Selama perang, sepertinya dewa selalu bersamaku. Apakah berkat kalung ini?
Aku menghela napas panjang.