AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
ENAM PULUH DELAPAN


__ADS_3

Marquess Bill menjadi khawatir, pengalaman menjadi penasehat kerajaan selama puluhan tahun membuat dirinya paham mengenai sifat kaisar dan ratu yang serakah. "Pangeran pertama, memang anda selalu di medan perang. Namun, memiliki politik tentang luar negara juga tidak bagus jika anda tidak paham masalah negara sendiri sementara mempelajarinya juga membutuhkan waktu.


"Anda harus cepat naik tahta sebelum ada yang berusaha mengambilnya, anda tidak mau peristiwa di wilayah ini akan timbul di wilayah lain, bukan?"


Pangeran pertama paham kekhawatiran penasehat kerajaan. Namun, dia juga tidak mau menikah secara politik. Dia harus menikah dengan wanita yang bisa memahaminya.


Seperti Daniela. Batin pangeran pertama.


Zuu berdebat dengan Marquess Bill. "Saya tidak setuju jika pangeran pertama menikah secara politik. Mungkin ini alasan klise- namun pernikahan adalah janji suci, jika menikah dengan wanita yang tidak tepat-"


Marquess Bill mengerutkan kening. "Apanya yang tidak tepat? Justru jika menikah dengan wanita ini, akan menjadi masa depan yang cerah untuk kekaisaran."


"Masa depan yang cerah? Apakah anda punya rekomendasi calon pasangan pangeran pertama?" Tanya Zuu tidak mengerti. "Coba beritahu saya, pasangan mana yang pantas untuk pangeran pertama?"


"Tentu saja, Daniela Aelthred," jawab Marquess Bill tanpa ragu.


Zuu dan pangeran pertama terkejut. Nama yang tidak mereka duga, muncul dari Marquess Bill.


Marquess Bill dengan bangga menjelaskan ke Edrik. "Anak itu masih berusia lima belas tahun, anda harus menjadikannya tunangan lalu menikah ketika sudah melaksanakan debut."


Zuu masih tidak paham. "Kenapa anda pilih Duke Aelthred?"


"Kenapa? Apakah anda masih tidak paham?" Tanya Marquess Bill. "Atau jangan-jangan tidak pernah mendengar nama anak ini?"


Edrik memijat kening, Zuu masih tidak bisa berkata-kata. Justru saat ini mereka berdua sedang menjalankan rencana licik Daniela.


"Ada apa? Kenapa wajah kalian berdua syok begitu? Apakah kalian tidak suka dengan ide ini?"


Zuu dan Edrik bingung harus menjawab apa. Di satu sisi mereka berdua tidak setuju dengan adanya pernikahan namun, di sisi lain mereka setuju karena Daniela sangat cerdas bagi Zuu dan oase bagi Edrik.


Di kekaisaran atau benua mana pun, wanita mana yang bisa mengalahkan Daniela.


Pemikiran Zuu dan Edrik, sama dengan pihak kuil terutama pendeta agung yang saat ini sedang mengobati permaisuri di tumit.


"Sudah saya bilang untuk tidak memakai sepatu dengan hak tinggi, apakah anda ingin terluka lagi?" Tegur pendeta agung.


"Apakah kamu khawatir?"


"Bagaimana saya tidak khawatir, Yang Mulia?"


"Pendeta agung, beritahu aku. Di kekaisaran, mana yang lebih tinggi? Kaisar atau anda?"


Pendeta Rohan yang menemani pendeta agung terkejut dengan pertanyaan permaisuri.


"Untuk apa anda bertanya, permaisuri?" Tanya pendeta agung.


"Karena aku penasaran."


"Penasaran?" Tanya pendeta agung tidak mengerti.

__ADS_1


Permaisuri dan pendeta agung saling bertukar tatapan tanpa bicara satu sama lain.


Pendeta agung memutus tatapan itu lalu bangkit. "Pengobatannya sudah selesai."


"Apakah anda tidak mau menjawab?"


"Tidak perlu saya jawab, anda sudah tahu jawabannya."


"Tapi aku tidak mau jawabannya sama dengan yang ada di pikiranku."


Pendeta agung yang sudah balik badan dan berjalan menuju pintu bersama pendeta tinggi, menghentikan langkahnya.


"Aku ingin menjalankan rencana lain jika rencana satunya tidak berjalan lancar."


Pendeta agung tertawa kecil. "Bagaimana bisa pemilik kekaisaran berniat menghancurkan negaranya sendiri?"


"Bisa."


Pendeta agung berhenti tertawa. "Masih ada Daniela, anda ingin menyerah secepat itu?"


"Jika memang aku ingin menyerah- lantas kenapa?"


"Permaisuri."


"Daniela memang hebat, dia tidak akan kalah dari ibunya. Tapi, dia hanya seorang anak perempuan, sama dengan aku."


"Jauh lebih baik daripada tidak melupakan apa pun. Aku hanya ingin hidup nyaman bersama anakku."


Pendeta agung keluar dari kamar permaisuri lalu memberikan instruksi ke dayang senior. "Sepertinya permaisuri tidak akan bisa tidur malam ini, berikan aroma lavender supaya bisa istirahat."


"Baik, terima kasih banyak pendeta agung."


Pendeta agung melihat Daniela duduk dengan santai di ruang tamu permaisuri. "Daniela."


Daniela mendongak lalu tersenyum. "Apakah sudah selesai?"


Pendeta agung duduk di sofa, berhadapan dengan Daniela dan mulai bertanya. "Sejak kapan kamu bisa mengendalikan mana dan bicara dengan dewa?"


Pendeta tinggi Rohan yang berdiri di belakang pendeta agung, terkejut. "Apa?!"


"Tidak ada jawaban?" Tanya pendeta agung yang melihat kegelisahan di Daniela.


Daniela menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Pendeta agung, tidak bisakah anda tidak bertanya?"


"Saat ini aku wali kamu."


"Belum secara resmi." Protes Daniela.


"Hanya tulisan di atas kertas yang membutuhkan waktu, persetujuan permaisuri dan aku sudah cukup."

__ADS_1


Kepala Daniela semakin berdenyut ketika mendengar jawaban ngawur pendeta agung.


"Apakah kamu tidak ingin menjawab sekarang?"


"Berikan aku waktu untuk menjawab." Jawab Daniela yang mulai tidak bersikap formal lagi pada pendeta agung.


Pendeta agung bangkit. "Ayo, kita kembali ke kuil. Kamu harus menghadiri pernikahan adik tiri."


Daniela mengeluh. "Apakah saya boleh tidak datang?"


"Jika tidak datang, para bangsawan akan menganggap kamu cemburu. Apakah kamu menginginkan itu?"


"Tidak." Jawab Daniela dengan muram.


Pendeta agung menepuk kepala Daniela. "Ayo."


Setelah tiba di kuil bersama dengan kereta terpisah, Daniela terkejut begitu melihat salah satu utusan dari tetua Vilvred ingin bertemu.


Pendeta agung dan pendeta tinggi Rohan sudah kembali ke ruangannya sementara Daniela menghadapi utusan tetua.


"Anda yakin bukan duke yang mengirim?" Tanya Daniela untuk memastikan.


"Dua tetua yang mengirim mahkota ini."


"Tapi-" Daniela masih terkejut. "Ella yang akan menikah dan aku yang akan mendapat mahkota? Aku sudah bukan bagian dari keluarga Vilvred, tidak perlu datang menggunakan mahkota."


Daniela masih tidak paham isi pemikiran para tetua Vilvred. Mereka diam saja ketika dirinya memutuskan pisah keluarga dan hampir bunuh diri, bahkan mereka juga diam ketika dirinya diperlakukan secara tidak adil di rumah.


Namun, sekarang para tetua malah datang ingin bertemu?


"Lady, tidak. Duke."


Daniela tersadar dari lamunan ketika utusan itu memanggil dirinya.


"Anda adalah anak sah dari keluarga Vilvred, bahkan meskipun anda keluar dari nama Vilvred- nona Ella tidak bisa mendapatkan nama belakang Vilvred dan hanya bisa dicap sebagai anak haram. Satu-satunya cara nona Ella menjadi bangsawan adalah menikah dengan pangeran mahkota."


Daniela tersenyum dan masih tidak paham. "Pangeran kedua juga tidak mendapatkan nama kekaisaran."


"Meskipun tidak memiliki nama bangsawan besar, namun kaisar membelikan nama bangsawan untuk pangeran kedua. Sehingga nona Ella tidak perlu khawatir."


Daniela mengangguk paham. "Ah, begitu. Lalu atas alasan apa aku harus memakai mahkota ini?"


"Sebagai kompensasi."


"Kompensasi?"


"Para tetua baru menyadari bahwa duke Vilvred membenci anda dan ingin minta maaf dengan memberikan kompensasi."


Daniela terkejut lalu tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2