AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA

AKU REINKARNASI & TIDAK BOLEH TERLUKA
TIGA PULUH


__ADS_3

Isak tertawa mengejek. "Pendeta agung, apakah anda masih menerima wanita barbar ini sebagai penghuni kuil? Saya anggap kuil hanya bermain-main saat menerima seorang wanita tidak tahu diri."


"Pangeran mahkota, sepertinya anda belum belajar mengenai status anda di kekaisaran," kata pendeta agung. "Kuil tidak pernah sekalipun melibatkan diri dalam urusan politik kekaisaran, anda juga harusnya belajar sejarah kenapa pihak kuil selalu ingin bertindak netral."


"Kaisar sebelumnya tidak becus menjalankan kekaisaran, ayahku sangat hebat dan bisa membuat kekaisaran-kuil, bisa jalan bersama." Kata Isak.


Daniela tertawa sementara para pengunjung yang mendengar itu menjadi ribut.


"Sepertinya anda belum belajar sejarah masa lalu dengan baik, saya akan mengirimkan surat ke permaisuri karena kaisar terlihat membela anda," kata pendeta agung.


"Bagaimana bisa anda melapor kepada nenek tua itu? Dia sudah tidak bisa berbuat apapun karena ulah putranya sendiri!"


Daniela menahan Edrik yang tanpa sadar hendak maju dengan amarah meluap.


"Sebaiknya anda segera pergi dari kuil sebelum saya bertindak." Pendeta agung memberikan peringatan ke Isak.


Isak mundur bersama para pengawalnya sambil menatap Daniela dengan marah lalu mengejek. "Rupanya karena kesepian, seorang lady berteman dengan pria bertubuh besar yang menjaga kuil. Apakah dia pengawal kuil? Hebat!"


Daniela tersenyum. Jika kamu tahu orang yang dimaksud adalah kakak kandung, apakah kamu masih bisa tersenyum seperti itu?


Pendeta tinggi membubarkan kerumunan pengunjung.


"Maaf, tidak ada yang bisa anda lihat. Silahkan kembali."


"Maaf, lady. Tolong kembali."


Para lady muda dan beberapa wanita yang sudah menikah bertanya ke pendeta tinggi.


"Apakah yang bertopeng rubah itu pendeta agung?"


"Meskipun memakai topeng, tubuhnya terlihat bagus dan suaranya juga sangat mendebarkan."


"Apakah kami bisa bertemu pendeta agung?"


"Astaga, meskipun masih memakai topeng- dia masih terlihat tampan."


Daniela menatap punggung pendeta agung dengan heran. "Hm? Apakah pendeta agung setampan itu?"


Edrik menarik tangan Daniela untuk menjauh dari pendeta agung dan kembali berjalan ke tujuan. "Justru kamu yang aneh karena tidak jatuh cinta pada wajah pendeta agung. Apakah kamu tidak menyukai pria tampan?"


"Aku tidak suka pria yang mengandalkan wajah tampan, lagipula pendeta agung usianya lebih tua dariku." Jawab Daniela.


Edrik tersenyum di balik topengnya. "Jadi, kamu suka pria yang seperti apa?"

__ADS_1


Daniela menjawab dengan santai. "Pria yang tidak pernah mengandalkan hidupnya pada orang lain."


"Oh."


Daniela melepas tangan. "Ada apa? Kenapa anda sebingung itu?"


Pangeran pertama berhenti melangkah dan balik badan. "Apa?"


"Anda marah karena saya marah pada adik kesayangan anda? Dia yang keterlaluan karena tiba-tiba menampar saya."


"Bukan seperti itu!"


"Lalu?"


Edrik mengusap tengkuk dengan canggung. "Aku-"


Daniela maju selangkah, Edrik sontak mundur.


Daniela menghela napas. "Apakah anda merasa bersalah karena pangeran mahkota ternyata tidak seperti bayangan anda?"


Edrik tidak menjawab.


Daniela berjalan melewati Edrik. "Lebih baik anda pulang, masalah kuil bisa saya selesaikan sendiri. Terima kasih."


Edrik memutuskan berjalan pulang dengan bantuan Zoe yang ikut menyamar di kuil.


Zoe hanya diam mengikuti dari belakang, tahu atasannya sedang ingin sendiri.


Ketika melewati jembatan, tanpa sengaja Edrik melihat sosok pria yang berdiri di pinggir jembatan dengan pandangan kosong.


Insting Edrik di medan perang sangat peka, dia bergegas lari ke arah pria berusia sekitar tiga puluhan itu.


"Yang Mu-" Zoe hampir berteriak kencang ketika melihat kenekatan atasannya.


Bersamaan dengan pria itu akan loncat, Edrik menarik bajunya sekuat tenaga hingga pria itu kembali ke jembatan.


Zoe segera membantu Edrik. "Anda baik-baik saja?"


Pria yang diselamatkan Edrik kembali hendak loncat ke jembatan, kali ini Zoe menyelamatkannya.


"APA YANG KAMU LAKUKAN?!" teriak Zoe.


Teriakan Zoe menarik perhatian para kusir yang lewat.

__ADS_1


Pria itu berusaha berontak dari Zoe. Kekuatannya kalah dengan otot Zoe. "Lepaskan aku! Aku sudah tidak bisa hidup lagi!"


Zoe memegang erat kedua tangan pria itu supaya tidak kabur.


"Tolong lepaskan aku! Aku sudah tidak bisa hidup di dunia ini lagi!"


"Tenangkan diri kamu dulu, baru aku akan melepasnya," kata Zoe.


"Tidak, tidak. Aku sudah tidak boleh hidup di dunia ini lagi, dewa sudah marah kepadaku." Geleng pria itu dengan wajah ketakutan. "Aku sudah terlalu kotor untuk tinggal di dunia ini, tolong biarkan aku loncat dari jembatan."


"Apakah kamu ingin mati?" tanya Zoe yang tidak percaya dengan pendengarannya. "Bagaimana bisa kamu ingin mati, padahal dunia jauh lebih indah."


"Dunia? Dunia tidak akan berarti apapun jika dewa sudah marah. Aku tidak pantas hidup di dunia ini, dewa sudah membenciku dan aku harus mengakhiri hidup sendiri, tidak akan ada yang peduli padaku."


Edrik merasa ada yang salah.


Di sisi lain, mood pangeran mahkota memburuk karena diusir pihak kuil, sehingga dia mengadu kepada ibunya.


"Pendeta agung tidak akan bisa mengancam kita, keluarga kaisar memiliki hak khusus." Ratu meletakan cangkir teh di atas meja setelah mendengarkan curahan hati putranya. "Kamu seorang pangeran mahkota, tidak akan ada yang berani membantah."


"Pendeta agung bilang posisinya netral dan tidak mau ikut campur, tapi aku curiga kalau orang itu membela Daniela."


"Tentu saja dia akan membela Daniela, secara tidak langsung pihak kuil adalah pendukung permaisuri."


"Bukankah kuil tempat yang netral? Ibu, jika kuil membela permaisuri- bagaimana dengan posisiku sebagai pangeran mahkota? Apakah aku akan kehilangan Ella?"


"Tenanglah, tidak akan ada yang bisa menggoyahkan posisi kamu. Kaisar sudah menjaminnya, karena itu kamu harus bisa bersikap bijak di depan bangsawan dan pihak kuil."


"Aku tidak suka menjilat orang-orang kotor seperti mereka."


"Tidak, bukan menjilat. Berteman baiklah, buat mereka kagum dengan kebijaksanaan kamu. Ibu yakin, pihak kuil akan berubah pikiran jika kamu bisa berteman baik dengan pihak kuil."


Pangeran mahkota merenungkan perkataan ibunya.


"Dengar, saat ini pangeran pertama tidak diketahui keberadaannya- karena itu kamu, sebagai pangeran mahkota dan adiknya, harus bisa mengambil hati para bangsawan yang ditinggalkan. Untuk sekarang di posisi bawah tidak apa, tapi saat kamu menjadi kaisar- tidak akan ada yang berani menolak kamu."


Pangeran mahkota tersenyum licik, membayangkan orang-orang sombong akan bertekuk lutut dan dirinya menikahi wanita paling cantik di kekaisaran. "Ibu, aku akan melaksanakan semua rencana, jangan khawatir gagal, serahkan padaku."


"Tentu saja, aku tidak akan pernah meragukan putra kesayanganku."


Pangeran mahkota dan ratu tertawa bahagia, mereka berdua sudah mencapai kesepakatan bersama, tanpa perlu bicara banyak.


"Jika butuh bantuan, aku dan kaisar bersedia membantu."

__ADS_1


"Tidak perlu, bu. Aku bisa mengatasinya sendiri."


__ADS_2