
Marquess Bill puas melihat dokumen perjanjian yang sudah ditanda tangani Viscount Fei.
Viscount Fei hampir menangis. "Marquess, anda berjanji akan melindungi keluarga saya-"
Marquess Bill bertanya. "Apakah dua keponakan kamu juga termasuk?"
Viscount Fei terdiam lalu menggeleng. "Zuu dan Zoe sudah di bawah naungan pangeran pertama, meskipun saya sekarang berada di fraksi pangeran pertama- tetap saja saya tidak mau berhubungan dengan pangeran pertama."
"Dengan kata lain kamu hanya ingin mencari aman?" Tanya Marquess Bill. "Tidak masalah, kami juga tidak butuh pengecut seperti kamu. Namun, kami tetap akan melindungi wilayah dan keluarga kamu."
Viscount Fei menghela napas lega. "Saya hanya tidak mau terlalu larut ikut ke politik."
Marquess Bill hendak meninggalkan ruangan Viscount Fei lalu melempar peringatan. "Jangan lupa untuk melaporkan semua hal yang terkait dengan kaisar dan ratu."
Marquess Fei penasaran. "Marquess, kesannya anda memaksa saya untuk berada di pihak permaisuri, apakah anda tidak takut saya akan membocorkan semuanya ke bangsawan lain?"
Marquess Bill sudah membuat taruhan dari awal dan tahu jawabannya. "Kamu tidak akan bisa berkhianat, kaisar dan ratu selalu menggunakan metode yang merugikan di awal lalu keuntungan di tengah dan di akhir hanya akan menjadi judi.
"Kaisar tidak terlalu kompeten mengurus kekaisaran, permaisuri jauh lebih hebat tapi terkendala dia seorang wanita. Permaisuri terlihat kalah karena hanya peduli pada kehidupan anaknya daripada kekaisaran.
"Pangeran mahkota tumbuh dimanjakan oleh kaisar tidak kompeten dan ratu mantan penari erotis, sementara pangeran pertama tumbuh di medan perang dan permaisuri yang hidup lama di kekaisaran. Mana yang akan kamu pilih?
"Aku yakin orang secerdas kamu yang mampu mempertahankan posisi sebagai Viscount sampai saat ini."
Viscount Fei tidak tahu harus menjawab apa, semua yang ada di pikirannya telah diutarakan Marquess Bill.
Marquess Bill pergi ke kuil bersama salah satu ksatria kepercayaan pangeran pertama.
"Lama tidak bertemu, penasehat kerajaan." Sapa ksatria itu.
Marquess Bill mengangguk. "Ya."
Tidak lama Edrik muncul di hadapan Marquess Bill.
Marquess Bill tidak terkejut. "Apakah semua ini adalah rencana anda? Anda ingin melihat semua wilayah yang dipimpin para bangsawan?"
Edrik menyapa Marquess Bill. "Saya minta maaf karena telah membuat anda berada di posisi menyulitkan."
"Selama anda baik-baik saja, semuanya sebanding- lalu kenapa anda memutuskan muncul sekarang?"
"Saya hanya muncul di depan Marquess dan Marchioness."
Marquess Bill mengerutkan kening tidak mengerti. "Yang Mulia, apakah anda ingin melakukan pemberontakan? Jika memang begitu, saya akan bersedia."
Sampai sekarang tidak ada yang tahu alasan Daniela berusaha menyembunyikan Edrik dari publik.
Alih-alih menjawab, Edrik bertanya pada Marquess Bill. "Apakah anda tidak terkejut saya tiba-tiba muncul?"
__ADS_1
Marquess Bill tersenyum. "Apa yang harus saya khawatirkan jika bertemu dengan anda, pangeran pertama? Saya pasti akan menemukan anda."
"Ternyata anda tidak berubah."
"Jadi, anda akan melakukan pemberontakan? Saya akan membantu anda dan tempat ini cocok untuk bersembunyi."
"Apa?"
"Viscount Fei sudah berada di fraksi kita, Yang Mulia."
Edrik mengepalkan kedua tangannya untuk menahan rasa sedih yang berkecamuk di dadanya. Siapa lagi yang bisa dia percaya? Adik yang dia sayangi ternyata mampu bersikap mengerikan. Apakah dia akan menghancurkan kekaisaran?"
Melihat Edrik masih diam, Marquess Bill bertanya lagi. "Apakah anda memang ingin bersembunyi?"
Edrik menghela napas. "Tidak, maafkan saya."
"Yang Mulia?"
"Bantu wilayah ini untuk tetap stabil dan tidak diketahui banyak orang, masalah orang-orang kaisar... Apakah benar kalian sengaja membunuhnya?"
Marquess Bill menjawab dengan nada tegas. "Benar, saya membunuhnya."
Marquess Bill meskipun merupakan penasehat kerajaan tetap saja memiliki sisi lembut, satu-satunya yang bisa mempengaruhi dia hanya Marchioness.
"Apakah ini ide Marchioness?" Tanya Edrik.
Marquess Bill mengerutkan kening tidak yakin. "Apakah saya harus menjawab jujur?"
"Duke Aelthred yang memberikan saran kepada kami."
Jawaban Marquess Bill di luar dugaan Edrik. "Daniela? Kenapa dia memikirkan hal itu? Dia masih lima belas tahun!"
"Jika anda tidak mengatakannya, saya sendiri juga tidak percaya lagipula duke hanya memberikan saran dan saya yang eksekusi mereka semua."
"Saran?"
"Katanya, untuk masuk ke wilayah ini- saya harus membawa orang kepercayaan. Saya tidak mungkin lepas dari kaisar tanpa mengeksekusi mereka semua."
Edrik harus mengakui. Apa yang dikatakan Daniela memang benar, jika orang-orang kepercayaan kaisar datang dan melihat pasukannya muncul dimana-mana, pasti menimbulkan curiga lalu melapor ke kaisar.
Untuk anak perempuan berusia lima belas tahun, pemikiran itu sangat kejam.
Di saat Edrik memikirkan Daniela, permaisuri menemui semua orang di dalam ruang pembuktian.
"Daniela."
"Ya?"
__ADS_1
"Kamu juga tes kesucian."
"Eh?" Daniela menunjuk dirinya sendiri.
"Jika kamu tidak melakukannya sekarang, akan ada orang-orang yang menyudutkan kamu," kata permaisuri.
Kaisar berteriak marah. "Permaisuri, apakah semua ini adalah lelucon? Jika memang begitu, lebih baik hentikan."
Kedua mata permaisuri menyipit. "Putraku hilang setelah memenangkan perang demi kekaisaran tapi kamu, ayahnya lebih suka bersenang-senang dengan pelacur dan memanjakan pangeran mahkota. Apakah itu semua lelucon?
"Aku melahirkan Edrik dengan susah payah, dengan darah dan air mata di saat kamu lebih memilih tidur bersama pelacur."
"Permaisuri-" Daniela lari mendekati permaisuri dan menyentuh tangannya. "Jangan."
Permaisuri menarik tangannya tanpa menatap Daniela. "Lakukan. Sekarang! Dengan pendeta yang sama."
Daniela melirik Andi lalu ke pendeta tinggi Rohan yang berdiri tidak jauh dari Andi.
"Kenapa? Takut?" Tanya ratu dengan kesal. "Dulu kamu mengejar pangeran mahkota mati-matian, pasti melakukan kebodohan yang sama dengan Ella."
Tidak ada yang aneh jika Daniela kehilangan kesuciannya karena terkenal mencintai pangeran mahkota, lalu Ella? Tidak akan ada yang percaya.
Pendeta tinggi Rohan menggeleng. "Tidak bisa, butuh waktu untuk menyucikan nampan tadi."
"Bagaimana dengan metode lama?" Tanya permaisuri.
"Batu suci itu sudah dikirim ke tempat lain dan butuh waktu untuk membawanya ke sini," jawab pendeta tinggi Rohan.
"Bagaimana dengan tes lain sebelum putriku? Kuil juga melakukannya!" Teriak duke Vilvred.
Pendeta tinggi Rohan terdiam lalu menatap Daniela. "Apakah anda bisa menahannya?"
Dahi Daniela berkerut semakin dalam. "Ya?"
"Kamu tidak perlu khawatir."
Apa yang harus aku khawatirkan?
"Tidak ada."
Suasana menjadi hening, pendeta tinggi Rohan menunggu jawaban dari Daniela. "Duke?"
Daniela bingung harus menjawab apa. Dia tidak mau melakukan hal yang menyakitkan meskipun sudah pernah menjalani dua kematian dengan bunuh diri.
"Tenang saja, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan melindungi kamu dari orang-orang bodoh ini."
Karena Daniela sudah mendapat jaminan dari dewa, dia mengangguk singkat. "Ya, saya akan menanggungnya."
__ADS_1
"Bagus, akhirnya kamu mulai percaya betapa cintanya aku padamu."
Daniela memutar bola mata dengan perasaan kesal.