
Di wilayah Viscount Fei.
"Tangkap anjing itu!"
"Bunuh dia!"
"Tangkap!"
Kaing!
Edrik dan Zuu lari ke sumber suara dan melihat tiga orang pria mengelilingi seekor anjing dan salah satunya membawa tongkat kayu untuk memukul si anjing.
Edrik bergegas menyelamatkan anjing itu. "HEI!"
Anjing itu sontak lari ke kaki Edrik untuk mencari perlindungan.
Anjing kampung berwarna cokelat yang jelek.
Zuu mengerutkan kening. "Sepertinya anjing ini peliharaan yang lepas, kenapa bisa ada di sini?"
"Tuan, apakah anjing itu milik anda?" Tanya salah satu pria yang sempat memojokkan si anjing. "Tolong berikan kepada kami."
Edrik berdiri menghalangi ketiga orang itu lalu mencari saksi lainnya yang lebih valid. "Apakah di sini ada yang lihat penyebab orang-orang ini memukul seekor anjing?"
Ketiga orang itu tidak terima dan bicara bersamaan.
"Apakah kamu pendatang?"
"Tolong jangan ikut campur masalah kami."
"Anjing itu sudah kotor, anda lebih baik menjauh sebelum kena penyakit."
Edrik membalas mereka. "Jawab dulu, anjing ini melakukan apa sehingga kalian berencana membunuhnya?"
"Kami tidak bunuh, hanya mengusir."
"Kalian kira aku tidak melihat perbuatan tadi? Anjing ini menjerit kesakitan setelah dipukul."
Tiga orang itu saling bertukar tatapan.
Zuu memeriksa kondisi si anjing.
Salah satu wanita muda berjalan menghampiri Edrik. "Saya bisa menjelaskan, tadinya anjing itu terlihat kebingungan lalu duduk di halaman depan kuil, tapi tidak mengganggu orang-orang. Sepertinya dia tersesat."
Edrik menatap tajam ketiga orang yang nyalinya sudah ciut.
"Ka- kami hanya dimintai tolong pihak kuil."
"Kami tidak salah."
Edrik menghela napas lalu mengeluarkan pedangnya. "Pertemukan aku ke orang yang memberikan perintah."
Ketiga orang itu sontak lari ketakutan.
__ADS_1
Zuu bertanya ke Edrik. "Tidak dikejar?"
"Tidak perlu, kita sebentar lagi menemukan pelakunya. Terima kasih sudah membantu saya." Kata Edrik ke wanita muda itu.
Wanita muda itu sedikit ketakutan dengan sosok Edrik yang besar dan kekar. "Ya, tidak masalah."
Setelah mengatakan itu, wanita muda bergegas pergi.
Edrik memberikan perintah ke Zuu. "Berikan anjing itu ke salah satu ksatria dan suruh dia berkeliling mencari pemiliknya, aku rasa rumah pemilik tidak jauh dari sini."
"Baik."
Edrik melihat sekitar kuil. "Bukankah terlalu berlebihan memukul hewan yang berteduh?"
"Hei, ayo kita lihat ke lapangan. Katanya ada yang dicambuk lagi."
"Hah? Siapa? Apakah ada yang melakukan kesalahan lagi?"
"Katanya ada wanita muda yang dadanya terlalu menonjol dari pakaian lalu bisa menimbulkan salah paham."
"Ck, ck, ck. Wanita zaman sekarang tidak bisa menjaga pakaiannya, lagipula buat apa dia keluar dari rumah? Tidak ada gunanya sama sekali."
Edrik menjadi bingung.
Zuu yang sudah menyelesaikan tugasnya, bergegas berdiri di samping Edrik. "Pangeran pertama"
"Kita ikuti mereka." Tunjuk Edrik dengan dagunya.
Edrik mengikuti jalan orang-orang, Zuu mengikutinya dari belakang sementara ksatria lainnya yang memakai pakaian biasa, berpencar supaya tidak ketahuan.
Begitu tiba di lapangan, terlihat panggung dan seorang wanita muda sedang berlutut dengan tangan diikat dan mulutnya menggigit kain yang diikat juga, sepertinya mencegah supaya dia tidak menggigit lidahnya sampai mati.
Seorang pria bertubuh besar dan tinggi berdiri di samping wanita muda itu, menunggu aba-aba lalu tidak jauh dari tempat wanita muda itu berlutut, seorang pria setengah baya dan terlihat kaya dari penampilannya, tersenyum puas.
"Zuu, apakah di kekaisaran ada hukuman seperti ini?"
"Memangnya wanita itu salah apa? Mencuri atau melukai seseorang?"
"Katanya dada wanita itu terlihat tonjolan dari pakaiannya."
"Hah?" Zuu bingung dengan jawaban Edrik.
Edrik melihat penampilan para wanita di sekeliling. "Aku baru menyadari, para wanita di sini memakai pakaian tertutup. Apakah di kuil ada ajaran mengenai berpakaian?"
"Setahu saya, harus memakai sopan jika masuk ke dalam kuil. Tidak boleh terlihat tubuh bagian tertentu."
Edrik yang lebih tinggi dari rakyat di sekitarnya, bisa melihat dengan jelas raut wajah ketakutan wanita muda itu. Tanpa sadar jari jempol kanannya mengeluarkan pedang di balik mantelnya.
Zuu segera menutup kembali pedang itu dengan kedua tangannya. "Jangan di sini, kita tidak boleh ketahuan."
"AKU TIDAK BERDOSA!"
Edrik dan Zuu menoleh.
__ADS_1
Wanita muda itu menoleh ke belakang dan berteriak dengan lantang setelah menurunkan kain di mulutnya. "Dia melecehkan aku di bar! Aku hanya mengirim makanan, lalu meremas dadaku! Sekarang malah ingin menghukum cambuk aku!"
Pria yang ditunjuk wanita itu, berteriak marah. "Itu salah kamu yang menimbulkan gairah pria, kamu yang tidak bisa menjaga pakaian dengan baik!"
Edrik dan Zuu terkejut mendengar jawaban brengsek pria itu.
Semua wanita di kerumunan ikut berteriak marah dan membela si pria.
"Kamu hanya tidak bisa menjaga diri, bagaimana bisa menyalahkan orang lain?"
"Wanita busuk, aku dengar kamu teriak pernah diperkosa orang! Gimana rasanya? Enak?"
"Pantas saja diperkosa, kamu sering keluar dari rumah dan memakai pakaian seperti itu!"
Wanita muda itu menangis dan berteriak marah. "AKU BERTAHAN HIDUP SENDIRI DAN TIDAK ADA YANG MENO- HMP!"
Pria bertubuh besar menutup mulut wanita muda itu, kali ini diikat lebih erat.
"HUKUM MATI DIA!" teriak pria itu.
Edrik melotot marah. "HENTIKAN!"
Orang-orang sontak menoleh ke Edrik, termasuk yang ada di panggung.
Orang-orang menyingkir ketakutan setelah melihat Edrik mengeluarkan mana hitam pekat.
Pria kaya itu menarik pedang milik tentara bayaran yang disewanya dan hendak melukai wanita muda itu.
Edrik berlari dengan cepat, lalu loncat menuju panggung untuk menyelamatkan wanita muda itu, ayunan pedang mengenai lengan atas kanannya saat menyingkirkan wanita muda itu.
Zuu yang ikut lari dengan susah payah terkejut dan hampir menyebut Edrik.
Wanita muda itu dilempar dari atas panggung, salah satu ksatria Edrik tiba-tiba muncul dan dengan sigap menangkap wanita muda itu.
Zuu hampir saja jantungan karena wanita itu jatuh tepat di depan mata, hampir mengenai dirinya.
"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya ksatria yang menangkap wanita muda itu dan melihat Zuu sudah duduk di jalan.
Zuu menatap tidak percaya ksatria itu.
Edrik melihat tangannya yang tergores pedang. "Lumayan juga, apakah anda pernah berlatih pedang?"
"Siapa kamu? Jangan menghalangi jalanku! Wanita itu harus mati karena sudah fitnah aku!"
Edrik menahan diri untuk tidak mengeluarkan pedang dari dalam mantelnya. "Saya minta maaf karena sudah mengganggu jalannya hukuman, tapi anda tidak bisa menghukum mati seseorang tanpa adanya campur tangan kekaisaran."
"Hah! Apakah ini wilayah viscount Fei, bukan masuk ranah kekaisaran. Berhentilah ikut campur dan biarkan aku menghukum wanita sialan itu."
"Jika anda bersikeras, saya akan memanggil ksatria kekaisaran dan investigasi mengenai benar tidaknya anda melakukan pelecehan." Edrik menjawab dengan tenang.
Pria itu ketakutan lalu melempar pedang. "Aku menyerah! Aku sudah baik hati membebaskan wanita kurang ajar itu, jadi jangan coba-coba mengganggu di lain waktu."
Edrik melihat pria itu bergegas pergi bersama dua tentara bayarannya.
__ADS_1