
Edrik geram melihat tingkah mereka yang seolah menjadi korban padahal semua masalah berawal dari mereka. "Kekaisaran sudah menyediakan obat, dokter dan bahkan vaksin disediakan gratis untuk kesehatan bersama."
Edrik tahu mengenai vaksin gratis dibuat oleh Marchioness Green dari ibunya.
Dana yang diambil pun dari kas istana kekaisaran, namun mereka semua malah tidak mau menerimanya dengan alasan dosa lalu selalu membanding-bandingkan kehidupannya dengan orang lain yang terkena sakit. Padahal tubuh masing-masing orang berbeda.
"Kalian abaikan bahkan mengkritik dokter yang mati-matian bekerja menyelamatkan rakyat. Apa sebenarnya yang kalian inginkan? Menghancurkan hidup orang lain atau membunuh nyawa orang lain?"
Semua orang di bawah panggung saling menatap ketakutan. Mereka tidak ingin mati tapi juga tidak mau disalahkan.
Zuu bicara di belakang Edric untuk mengingatkan. "Pangeran pertama, tolong tahan emosi anda. Ingat nasehat duke Aelthred mengenai cuci otak."
"Aku tahu, tapi-"
Meskipun mereka dianggap telah dicuci otak, tetap saja mereka menerimanya dengan senang hati, mereka hanya manusia egois yang mencari keuntungan sendiri.
Edrik menarik napas untuk menenangkan amarah dan mulai bicara kembali. "Saat pertama kali aku menginjak kaki di wilayah ini, kekejaman pertama yang aku lihat adalah kalian semua mengejar seekor anjing hanya karena berlindung di dalam kuil."
Rakyat berteriak keras.
"Kuil tempat kami berdoa!"
"Kuil tempat yang suci!"
"Kuil tidak bisa dimasuki makhluk kotor!"
"Anjing dan hewan lain adalah makhluk yang kotor!"
"Mereka pantas mati!"
"Jika ada di dalam kitab, tunjukkan kepadaku tentang dewa yang mengizinkan kalian membunuh makhluk ciptaan dewa! TUNJUKAN SEKARANG JUGA!" Bentak Edrik.
Semua rakyat yang di bawah panggung, diam ketakutan.
__ADS_1
Edrik menunggu cukup lama jawaban dari mereka. "Tidak ada? Kalian tidak bisa menjawab? Aku tidak masalah jika kalian mengusirnya tapi kalian berniat membunuhnya, apakah semua itu kehendak dewa?"
Salah satu rakyat menjawab. "Hewan seperti mereka hanyalah hama yang merugikan manusia. Memang pantas mati!"
Edrik mengabaikan teriakan orang itu. "Di masa depan, akan ada peraturan- tidak boleh menyiksa hewan! Kalian mengerti?"
Banyak yang tidak mau mengerti dan ada yang masih berteriak marah tapi tidak separah sebelum pasukan ksatria Edrik berjaga.
"DIAM DAN DENGARKAN AKU!" Teriak Marchioness di samping Edrik.
Semua orang di bawah panggung terdiam begitu mendengar teriakan seorang wanita setengah baya yang terlihat marah.
"Di tengah kota wilayah ini, aku menemukan wabah pes dan beberapa sudah meninggal, karena tidak ada dokter yang mau menangani kalian dan hanya percaya pada keyakinan pendeta tinggi yang kalian puja, banyak korban yang berjatuhan.
"Kalian tahu apa penyebab wabah pes? Karena lebih banyak tikus dan hanya ada sedikit kucing karena dibantai! Dari sini siapa yang akan bertanggung jawab? Bangsawan? Apakah pendeta tinggi dan pihak kuil mau bertanggung jawab?!"
Semua rakyat terdiam.
"Itulah gunanya hewan, meskipun terlihat sebagai hama dan tidak berguna di mata kalian. Sebenarnya mereka sangat berguna," kata Marchioness. "Kalian tidak menyadarinya, bukan?"
"Karena itu kami akan memberlakukan hukum mengenai perlindungan hewan di wilayah ini," kata Marchioness. "Tidak ada bantahan atau kalian bisa membantah dengan menukarkan nyawa kalian! Lebih baik kami menyelamatkan orang lain yang tidak tahu apa pun daripada manusia keras kepala yang bisanya hanya menuntut dan tidak mau bercermin!"
Hening, tidak ada yang membantah.
Marchioness sejak kecil selalu mengikuti ayahnya yang juga seorang dokter untuk melihat berbagai macam pasien dan sifatnya. Ada orang tua yang memiliki uang banyak tapi sayang mengeluarkan uang untuk kesehatan anaknya lalu ada sebaliknya, sekarang yang dihadapi Marchioness bukan kendala uang, namun kepercayaan.
Hanya dewa dan pendeta yang mampu mengobati mereka.
Jika nyawa mereka hilang, berarti dewa menghendakinya.
Tidak boleh menyakiti diri sendiri, Marchioness setuju bagian ini. Namun yang membuatnya tidak setuju adalah salah paham, misalnya vaksin yang bisa menyelamatkan banyak orang dari virus.
Peraturan yang dibuat untuk kebaikan jadi melenceng hanya karena membenarkan diri sendiri tanpa memikirkan sekitarnya.
__ADS_1
Marchioness kembali bicara. "Peraturan lainnya adalah tidak main hakim sendiri, aku menemukan orang yang tidak bersalah dihukum serta tidak mendapatkan pengobatan yang layak, bahkan dokter pun tidak boleh berkunjung dengan alasan dokter seorang pria.
"Ya, aku setuju tentang hal ini. Namun, bagaimana kita mendatangkan dokter wanita atau perawat wanita jika kalian berusaha mengusir dan tidak menghargai pekerjaan mereka? Aku berharap tidak ada perlakuan seperti ini lagi dan mulai sekarang, kami akan menangkap siapa pun yang memberikan tuduhan palsu dengan alasan kehormatan!
"Jika kalian bisa melukai hati wanita seumur hidup, maka kami juga bisa membuat kalian cacat seumur hidup!"
Segelintir pria yang raut wajahnya berubah pucat, sontak lari dan berusaha menerjang para ksatria.
Edrik dan Zuu bertukar tatapan. Ternyata jauh lebih efektif menggunakan Marchioness daripada mereka.
Marchioness mengeluarkan semua peraturan baru yang tidak boleh dilanggar dengan berapi-api sementara pasukan pangeran pertana mencari kaki tangan, pendukung pendeta tinggi Rou.
Edrik tidak menyangka ternyata mudah sekali menangkap mereka, dia kira akan ada perang saudara. Ternyata mereka hanya manipulator pengecut.
Di malam hari, Edrik mendengar laporan dari Zuu dan Marquess Bill.
"Aku terlalu fokus mempertahankan perbatasan sehingga tidak tahu ada kejadian seperti ini, terima kasih Marquess Bill," kata Edrik dengan tatapan bersalah.
Marquess Bill mendengus. "Yang Mulia, kenapa anda merasa bersalah? Yang harus disalahkan adalah kaisar yang tidak becus, ayah anda sendiri. Apakah anda yakin tetap memberikan kedudukan pada pangeran kedua yang tidak pernah bekerja melindungi negara?"
Edrik tidak menjawab, dia menipiskan bibirnya dan memikirkan nasib kekaisaran di tangan ayah dan saudara tiri.
"Ini hanya contoh satu wilayah, bagaimana dengan wilayah lainnya?" Tanya Marquess Bill. "Tidak akan terlambat jika anda kembali ke ibu kota."
Edrik mengetuk jari di atas meja lalu menatap Marquess Bill.
Zuu menolak ide Marquess Bill. "Jika pangeran pertama tidak turun ke medan perang, siapa yang akan turun?"
"Kita bisa mencari ksatria yang kompeten dan kepercayaan pangeran pertama, yang terpenting adalah mengambil tahta," jawab Marquess Bill.
Zuu menggeleng, dia tidak mau pangeran pertama dianggap bodoh jika berhadapan dengan politik, belajar pun butuh waktu yang tidak singkat mengingat kesibukan pangeran pertama. "Saya tetap tidak setuju, butuh waktu untuk mencari pendukung dan juga belajar politik. Pangeran pertama hanya paham strategi perang dan politik luar negeri."
Marquess Bill juga bingung lalu tiba-tiba mendapat ide. "Bagaimana jika pangeran pertama bertunangan dengan wanita yang bisa membantu kedudukannya?"
__ADS_1
Zuu semakin tidak suka ide yang diajukan Marquess. "Memikirkan pernikahan di saat sekarang? Apa yang anda pikirkan? Pernikahan politik bisa menimbulkan perang jika tidak mendapatkan wanita yang tepat."
Pangeran pertama mengangguk setuju.