
Pertanyaan bodoh kaisar, di mata duke Vilvred tentu saja membuat dirinya tertawa di dalam hati. Bagaimana bisa mengandalkan alkemis untuk membuat kekayaan? Apakah kaisar ingin menjadikan para alkemis sapi perah?
Tapi- tidak ada salahnya dicoba, meskipun orang bodoh melontarkan pendapatnya. Duke Vilvred tidak akan mengabaikannya begitu saja.
"Saya tidak tahu pasti, Yang Mulia. Siapa tahu kita bisa mencobanya."
"Kembalikan status mereka untuk sementara waktu, sampai posisi kita stabil. Lalu setelah itu, kembalikan lagi mereka ke posisi budak jika tidak mau menuruti perintahku."
Duke Vilvred membungkuk hormat sambil menyembunyikan senyum liciknya "Baik, Yang Mulia."
Kaisar menatap peta kekaisaran yang dipasang di dinding ruang kerjanya. "Hanya aku dan keturunanku yang bisa menjadi penguasa kekaisaran ini."
----------------
Ratu tercengang ketika mendengar berita dari salah satu dayangnya. "Apa? Coba katakan sekali lagi, kamu bilang apa?"
"Yang Mulia Kaisar menarik dokter dan menyuruh Pendeta Tinggi Rou menyembuhkan Pangeran Kedua dengan doa."
Ratu tertawa muram. "Bagaimana bisa putraku tidak mendapat perawatan dokter? Pendeta mampu menyembuhkan putraku? Apakah sudah ada hasil yang muncul? Apakah memang dia bisa menyembuhkan seseorang?"
"Saya tidak tahu, Yang Mulia Ratu."
"Kamu tidak tahu, lalu bagaimana bisa putraku sembuh?!" Bentak ratu sambil menggenggam erat lengan atas dayang yang memberikan informasi. "Kekuatan suci pendeta tinggi Rou? Lalu bagaimana dia bisa sembuh?"
"Yang Mulia, saya tidak tahu apa pun. Kaisar yang memutuskan. Tolong ampuni hamba." Dayang menjadi ketakutan karena tindakan impulsif ratu.
Ratu mendorong dayang itu hingga jatuh ke lantai, lalu bertanya ke dayang lainnya. "Di mana Yang Mulia?" Tanyanya dengan panik.
"Setelah rapat besar dan memerintahkan pasukan untuk mengejar Pangeran Pertama, Yang Mulia bersama Duke Vilvred ke ruang kerja."
Ratu segera berlari keluar dari kamar, untuk mencari Kaisar dan Duke di ruang kerja, mereka tidak boleh membuang putranya begitu saja. Namun, kaisar sudah satu langkah ke depan. Tidak mau bertemu dengan dirinya.
Pengawal kekaisaran menghalangi ratu masuk ke dalam ruang kerja untuk bertemu Kaisar dan Duke.
"Minggir, aku harus bertemu Kaisar." Perintah Ratu dengan meninggikan suara, supaya terdengar sampai ke dalam ruangan.
Kedua pengawal tidak bergerak, tangan mereka tetap membuat silang dengan tombak.
__ADS_1
Ratu menjadi histeris. "YANG MULIA, APAKAH ANDA MEMBIARKAN PANGERAN KEDUA MATI? KENAPA ANDA SETEGA INI KEPADA SAYA? APAKAH SAYA SUDAH TIDAK DICINTAI LAGI?!"
Ratu diam, menunggu jawaban dari dalam. Tapi, tidak ada yang menjawab.
Ratu menangis dan menjatuhkan diri di lantai, kedua kakinya tidak bertenaga. "Yang Mulia, kenapa anda setega itu pada anak sendiri? Apa salah dia?" Tangisnya.
Pangeran kedua adalah anak kesayangan kaisar, dimanjakan serta menjadi harapan yang paling diinginkan kaisar, sekarang kaisar malah menarik dokter dan memberikan pendeta tinggi untuk menyembuhkan pangeran kedua. Tapi sekarang- mana hasilnya? Tidak ada hasil apa pun.
Pintu ruang kerja di buka, ratu mendongak dan melihat duke Vilvred menutup pintu di belakang punggung.
"Duke-"
"Kenapa anda berteriak seperti itu, Yang Mulia?"
"Tolong selamatkan putraku, dia masih demam tinggi, Pendeta Tinggi Rou belum menyembuhkan anakku."
"Yang Mulia, tolong bersabarlah. Semua pasti membutuhkan proses, kekuatan suci Pendeta Tinggi Rou setara dengan Pendeta Agung. Anda tidak perlu khawatir."
"Benarkah?"
"Di mana Yang Mulia? Aku ingin bertemu dengannya?" Ratu mengabaikan pertanyaan duke Vilvred dan membuat pertanyaan baru.
"Anda tahu saat ini kondisi kekaisaran tidak baik-baik saja karena masalah wabah, beliau sedang berusaha keras untuk keluar dari masalah ini."
"Apakah masih belum ada obat untuk wabah?" Tanya ratu dengan perasaan cemas. "Kaisar-"
"Pendeta Tinggi Rou sudah menjamin dengan kepalanya sendiri, akan membuat Pangeran Kedua sembuh. Benarkan, Pendeta Tinggi?" Tanya duke Vilvred yang mengetahui pendeta itu sedang sembunyi.
Pendeta Tinggi Rou yang tadinya ingin bertemu dengan kaisar dan mengeluarkan rencana cerdasnya, terpaksa sembunyi di balik tembok ketika melihat kedatangan ratu yang histeris karena putranya belum sembuh juga. Dia terpaksa keluar, ketika duke Vilvred mengetahui posisinya.
Pendeta tinggi Rou bertanya di dalam hati dengan amarah meluap. Sejak kapan aku bilang akan mempertaruhkan kepalaku?
Ratu menuntut jawaban dari pendeta tinggi Rou. "Benarkah? Anda akan menyembuhkan Pangeran Pertama?"
Pendeta tinggi Rou terpaksa berlutut di dekat kaki ratu. "Yang Mulia, saat ini saya hanya bisa menekan penyakit Pangeran Kedua."
"Bukan kah dewa bisa menyembuhkan semua penyakit?" Tanya ratu dengan tidak percaya. "Apakah dewa Helcia yang disembah kekaisaran, tidak bisa menyembuhkan penyakit? Apakah selama ini kita hanya menyembah dewa yang berbohong?"
__ADS_1
Benar, teruslah mengutuk dewa Helcia. Dengan anda mengutuk, maka dewa Helcia akan menuntut berkat pada pendeta agung dan pihak kuil tidak akan pernah percaya kepadanya. Batin pendeta tinggi Rou yang masih terus berlutut. "Jangan berkata seperti itu, Yang Mulia."
"Nyatanya, saat ini. Para pendeta di kuil melarikan diri dan tidak turun mengobati pangeran kedua! Rakyat juga masih sakit," kata ratu. "Apakah semua bawahan dewa tidak peduli pada nasib manusia? Apakah mereka ingin menghancurkan manusia?"
Pendeta tinggi Rou tidak menduga akan mendapat kesempatan dengan cepat. "Bukan salah dewa, pemimpinnya yang tidak becus."
Duke Vilvred menatap diam pendeta tinggi Rou yang mulai mengeluarkan niat busuknya.
Ratu terpancing dengan perkataan pendeta tinggi Rou. "Maksud kamu- Pendeta Agung?"
Pendeta tinggi Rou tidak menjawab.
Ratu menoleh ke duke Vilvred. "Apakah benar itu duke? Semua akar masalah, ada pada pihak kuil yang dipimpin Pendeta Agung?"
Duke Vilvred terdiam sejenak, mencari kalimat yang pas untuk menjelaskan pada ratu. "Saya tidak berani mengambil kesimpulan lebih cepat. Masalahnya, saat ini tersebar berita bahwa pihak kuil tidak boleh ikut campur masalah kekaisaran, bahkan pihak kuil menunjukkan surat perintah yang ditanda tangani oleh pihak kaisar."
Duke Vilvred ingin tahu reaksi pendeta tinggi Rou. Seorang pendeta buta politik yang hanya ingin duduk di kursi pendeta agung.
Pendeta tinggi Rou tidak terlihat terkejut, duke Vilvred malah yang terkejut.
Pendeta tinggi Rou yang mengetahui reaksi duke, bertanya. "Ada apa duke?"
Duke Vilvred tidak menyukai situasi yang dia hadapi sekarang.
Ratu menjadi bingung. "Lalu, apa yang akan kalian lakukan sekarang? Kuil ditutup dan putraku tidak mendapatkan perawatan bagus."
Pendeta tinggi Rou merasa tersinggung. "Saya tidak mampu mengorbankan kepala karena tidak terlalu penting untuk anda, tapi saya akan bekerja semaksimal mungkin untuk membuat Pangeran kedua sembuh."
Ratu menatap pendeta tinggi Rou dan duke Vilvred, bergantian.
"Ada lagi Yang Mulia?" tanya duke Vilvred.
Ratu menggeleng. "Sampaikan kepada Kaisar, jika tidak ada jadwal- saya ingin bertemu."
"Akan saya sampaikan." Duke Vilvred membungkuk hormat kepada ratu yang sudah pergi menjauh, lalu duke bertanya pada pendeta tinggi Rou. "Apa yang anda inginkan?"
Pendeta tinggi Rou tersenyum sinis.
__ADS_1