
"Daniela, bangun!"
"Mhm."
"Bangun, Daniela!"
Daniela menutup kepala menggunakan bantal. "Berisik!"
"Daniela, ada masalah!"
Daniela tidak menanggapi dan masih tertidur.
"Daniela, pendeta itu sedang berdoa di depan patung!"
"Apa salahnya berdoa di patung yang han-" Daniela membuka mata lalu terbangun.
Daniela ingat dengan aturan kuil yang selalu dibacakan oleh para pendeta muda untuk menghafal.
Tidak boleh berdoa di patung dewa yang sudah hancur!
Daniela segera turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar, penjaga yang menjaga pintunya segera mendekati.
"Lady, ada apa?"
"Bawa aku ke ruang yang ada patung kemarin! Sekarang!" Daniela menarik tangan penjaga itu.
"Sial!"
"Dewa, jangan mengatakan hal buruk lagi. Anda selalu belajar kata buruk dari manusia."
"Aku benci dengan situasi ini!"
"Itu salah anda yang tidak menyuruh Daniela segera membersihkan aura jahat di sekitar patung."
"Berisik!"
Dewa mulai meniru jawaban dari Daniela.
Di kehidupan kedua Daniela ada ajaran untuk menjauhi patung. Patung tempatnya makhluk lain, dan banyak yang tidak terlalu suka dengan keberadaan patung karena kepercayaan seperti itu.
Namun di dunia yang sekarang Daniela tempati, kehidupan pertama. Patung merupakan hal yang suci dan dilindungi oleh dewa, ada kekuatan dewa di dalam. Yang membuat patung pun bukan pemahat sembarangan, tangan mereka harus disucikan oleh pendeta kuil.
Jika ada patung yang diisi dengan aura jahat, itu berarti-
"Benar, yang membuat patung adalah penyihir hitam. Secara tidak langsung orang-orang berdoa pada kekuatan jahat, bukan kekuatan dewa. Sangat masuk akal jika rakyat di wilayah dengan mudahnya dicuci otak mereka."
Dulu, pangeran kedua terkena penyakit menular yang entah datangnya dari mana. Setelah kematian pangeran kedua, pangeran pertama muncul dan membuat publik menjadi murka dan menuduhnya sebagai dalang pemberontakan.
Banyak bangsawan yang menentang posisi pangeran pertama meskipun dari awal posisi itu memang miliknya.
Yang menjadi pertanyaan, kenapa pangeran kedua kena penyakit menular? Siapa dalangnya?. Daniela bertanya di dalam hati. Dewa, apakah anda mengetahuinya? Siapa yang menyebar penyakit?
__ADS_1
"Aku tidak tahu."
Bohong, anda selalu mengawasi dari atas sana. Tidak mungkin tidak tahu.
"Tidak, aku juga tidak tahu."
Entah kenapa Daniela memiliki firasat bahwa dewa mengetahuinya tapi tidak mau bicara.
Daniela menendang pintu yang tertutup bersama dengan ksatria. Mereka terkejut melihat para pendeta tergeletak begitu saja di lantai.
Ksatria memeriksa denyut nadi di leher salah satu pendeta muda. "Tidak bernapas, sudah meninggal."
Daniela melihat pendeta tinggi Rou berdiri di depan patung dewa yang sudah hancur dan seperti merapal sesuatu, dia bisa melihat aura jahat yang muncul di sekitar patung.
Ksatria memeriksa pendeta tinggi lalu menghela napas lega. "Yang ini masih bernapas, saya akan periksa pendeta yang lain."
Daniela mengerutkan kening. "Apakah kamu bisa melihat ada orang yang berdiri di sana?"
Ksatria itu melihat arah yang ditunjuk Daniela. "Dimana? Saya tidak melihat apa pun."
Pendeta tinggi Rou tertawa dengan bangga. "Tentu saja, tidak akan ada yang melihat aku."
"Hati-hati, dia sudah diselimuti aura jahat."
Pendeta tinggi Rou balik badan lalu menatap benci Daniela. "Aku tahu, semua upaya yang dilakukan Gabriel untuk menjatuhkan aku, supaya dia bisa menjadi pendeta agung!"
"Gabriel?" Tanya Daniela tidak mengerti.
"Ha- hah?" Daniela benar-benar tidak mengerti, apakah dirinya salah server?
"Hm? Apakah kamu tidak tahu siapa Gabriel yang dia maksud? Padahal dia sudah menyebut nama pendeta agung lho."
"Hah? Gabriel itu nama pendeta agung?" Tanya Daniela tidak percaya.
"Daniela, awas!"
Dewa memberikan peringatan ke Daniela begitu melihat gelagat aneh pendeta tinggi. Untung mana Daniela otomatis melindungi tubuhnya, hanya saja pintu di belakang tidak selamat dan menimbulkan suara ledakan cukup keras.
Ksatria yang berdiri tidak jauh dari Daniela malah dilindungi salah satu pengikut dewa.
"Yah, malah melindungi orang lain. Dewa sangat tidak adil!" Keluh Daniela.
Pendeta tinggi Rou berteriak marah lalu menunjuk Daniela dengan jarinya sambil merapal mantra.
Daniela mengambil pedang ksatria dan mengubahnya menjadi mana yang tidak terlalu tajam namun kuat untuk menahan orang yang ditusuknya.
Daniela mempelajari teknik itu sendirian di masa lalu saat Ella mengancam posisinya sebagai permaisuri.
Setelah mengubah fungsi pedang, Daniela melempar pedang itu hingga masuk ke sela lengan pakaian Pendeta Tinggi Rou dan setengah dari pedang menusuk ketiaknya lalu menancap ke tembok.
Pendeta Tinggi Rou meraung kesakitan.
__ADS_1
"Waduh."
"Tidak ada darah, dia menghabiskan darahnya untuk kegelapan."
"Eh, jadi yang aku lawan sekarang zombie?"
"Tidak, jiwanya masih terperangkap di dalam tubuh."
"Lalu bagaimana caranya manusia hidup tanpa darah?"
"Energi gelap di sekitar patung, dia serap. Sehingga mengalir di dalam tubuh seperti darah."
"Waduh! Bagaimana cara mengalahkannya?"
"Bunuh dia!"
Daniela menolak tegas. "Tidak, aku tidak bisa membunuh dia. Masih ada yang harus aku lakukan sebelum membunuhnya."
"Tapi, jika kamu murnikan dalam keadaan seperti itu- darah akan mengalir deras."
Daniela berpikir keras.
"Lambat! Aku akan membunuhnya!"
Pendeta Tinggi Rou meronta kesakitan dan berusaha lepas dari pedang Daniela.
Edrik dan Zuu yang kamarnya tidak jauh dari ruang doa, bergegas mencari suara berisik itu.
Edrik tercengang melihat Pendeta Tinggi Rou menancap di tembok sementara para pendeta lainnya tidak sadarkan diri di lantai. "DANIELA! APA YANG KAMU LAKUKAN?!"
Daniela menutup telinga dengan kedua tangan sambil berbesar hati menjelaskan ke pangeran bodoh itu. "Aku merasakan hawa kegelapan di sekitar sini, tidak aku sangka Pendeta sialan itu membunuh para Pendeta Muda sementara Pendeta Tinggi dibiarkan pingsan."
Zuu menggelengkan kepala. "Astaga."
"Aku menangkap orang ini, masalahnya dewa menyuruh aku membunuh dia tapi aku tidak mau."
"Dewa?" Tanya Zuu.
Edrik bertanya ke Daniela. "Kenapa kamu ingin biarkan hidup?"
"Tapi Pangeran Pertama, bukankah Pendeta Tinggi Rou memang masih hidup?" Tanya Zuu dengan bingung.
Daniela menjawab dengan raut wajah pasrah. "Dia memang masih hidup tapi sudah dikendalikan iblis, aku ingin biarkan dia hidup untuk mengungkap kasus pembunuhan anak perempuannya bersama Andi sekaligus menunjukkan pada rakyat di wilayah ini."
Zuu kembali menatap Pendeta Tinggi Rou yang berusaha lepas. "Rasanya tidak masuk akal- kenapa dia tidak berdarah? Menancapkan pedang ke ketiak seperti itu- kenapa tubuhnya tidak jatuh? Bukankah pedang tidak mampu membawa barang berat?"
Daniela terlalu lama menjelaskan.
Edrik menggeleng tidak berdaya. "Aku tidak tahu ide yang lebih bagus."
"Bagaimana jika mengirim Pendeta Tinggi Rou beserta tubuh yang sudah meninggal ataupun pingsan, ke pertemuan kuil dan kaisar?"
__ADS_1
Zuu, Daniela dan Edrik menoleh. Marchioness memberikan saran sementara Marquess Bill berdiri di belakangnya.