
Isu tes kesucian lady Ella semakin meluas di kekaisaran, hal ini menimbulkan kemarahan pada duke Vilvred karena anaknya terlihat tidak dipercaya.
Setelah mendapat undangan dari permaisuri yang sudah ditanda tangani kaisar, duke Vilvred bergegas ke istana ratu.
"Yang mulia ratu, apa-apaan ini?"
"Duke, kenapa tidak bertanya pada lady Ella yang telah membuat masalah?"
"Bagaimana bisa putriku membuat masalah? Dia selalu pendiam dan menuruti semua perintahku!"
Ratu yang duduk berhadapan dengan duke Vilvred gemetar marah, hal yang paling dibencinya adalah ketidak berdayaan. Sebagai mantan penari erotis dan tidak memiliki dukungan kuat di belakangnya, dia harus bergantung pada duke Vilvred dan bangsawan lainnya.
"Duke, aku mendapat informasi kalau putri kesayangan anda telah memulai pertengkaran dengan kakaknya sendiri di perpustakaan dan di depan umum, banyak mata dan telinga di sana. Apakah Ella terlalu sombong setelah kakak kandungnya keluar dari keluarga Vilvred dan menjadi satu-satunya lady?
"Atau dia menjadi sombong setelah merasa takut karena ibunya hanya anak dari kepala pelayan?"
Duke Vilvred menatap ratu dengan marah. "Hati-hati dengan cara bicara anda, ratu."
Ratu tertawa mengejek. "Duke, seharusnya anda marah pada lady Ella. Gara-gara dia, Daniela bicara banyak hal, termasuk bagaimana anak seorang kepala pelayan bisa menggantikan kedudukan ibu kandungnya yang sudah meninggal."
Duke Vilvred diam lalu pergi dari taman ratu.
Ratu menghela napas lega dan kembali minum teh favorit. Setidaknya aku berhasil mengalihkan amarah duke Vilvred ke anak pertamanya itu.
Begitu mendengar penjelasan ratu, duke Vilvred bergegas pergi ke kuil untuk mencari Daniela.
Daniela yang sedang bertugas menangani para bangsawan yang sedang berdoa, terkejut melihat sosok ayahnya tiba-tiba datang ke kuil.
Daniela melihat wajah sang ayah yang marah dan tangannya diangkat ke atas.
PLAK!
Tujuh lady yang sedang ditangani Daniela menjerit ketakutan, menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.
Duke Vilvred berteriak marah sambil menunjuk Daniela dengan benci. "APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN PADA ELLA?!"
Tangan Daniela menyentuh bekas tamparan sang ayah di pipi.
"Kamu- apakah kamu tidak bisa menjaga nama baik keluarga? Kenapa kamu malah hancurkan nama baik keluargaku?!"
"Kesalahan apa yang saya lakukan sampai duke Vilvred menampar wajah saya?"
__ADS_1
"Apa?"
"Anda mendengarnya, duke."
"Berhentilah main-main dan renungkan semua kesalahan yang kamu lakukan!'
"Apa yang harus saya renungkan, sementara saya tidak tahu letak kesalahannya."
"Kamu-"
"Duke Vilvred, saya adalah duke Aelthred. Bagaimana bisa anda bersikap tidak sopan kepada saya?"
Pendeta tinggi Rohan mendekati Daniela dan memberikan salam ke duke Vilvred. "Terima kasih sudah datang ke kuil kami, duke."
Duke Vilvred tidak mengalihkan tatapannya dari Daniela. "Kamu menghina Ella di depan umum, kamu bilang ibunya adalah anak kepala pelayan dan menggantikan posisi ibu kamu!"
"Faktanya memang begitu, bukan? Anak seorang kepala pelayan bisa menjadi duchess, di mana letak kesalahan saya?"
"DANIELA!"
"Apa? Bukankah itu cerita romantis yang kalian sebarkan di kalangan rakyat? Menikah beda status."
"Ella selingkuh dengan tunangan aku, tidak, mantan tunangan." Pertahanan Daniela mulai runtuh dan tidak mampu bicara dan bersikap formal pada ayah kandungnya.
"Hanya karena itu kamu bersikap seperti anak kecil?"
"Apa?"
"Berhentilah bersikap manja dan kekanakan! Ella tidak salah apa pun, pangeran mahkota yang memutuskan pertunangan kalian dan mencintai Ella. Jangan ganggu dia, kamu seharusnya memikirkan perasaan Ella."
Daniela menunduk dan berusaha menyembunyikan kesedihannya. Lalu bagaimana dengan perasaan aku?
Tujuh lady yang berdiri di belakang Daniela, bersimpati pada Daniela.
Duke Vilvred menarik tangan kurus Daniela dengan kasar. "Sekarang, pergi ke tempat kaisar dan minta pembatalan periksa Ella. Kamu yang buat kekacauan, kamu juga yang harus menyelesaikannya!"
Daniela tetap berdiri di tempat dan masih menundukkan kepala. "Bagaimana dengan aku?"
"Apa?"
"Bagaimana dengan aku? Apakah kalian juga tidak memikirkan perasaan aku? Ella sendiri yang mendekat dan menghinaku, dia mengolok aku tentang akademi. Padahal ayah sendiri yang bilang kalau perempuan tidak boleh masuk akademi."
__ADS_1
"Kamu bicara apa? Ella sekarang tunangan pangeran mahkota, mendapat pendidikan calon putri mahkota. Dia harus belajar di akademi."
Pendeta agung yang mendengar laporan dari bawahannya, bergegas menyusul Daniela sambil memakai topeng bentuk kucing.
"Tapi, waktu itu aku tunangan pangeran mahkota juga. Tidak ada yang mengajari aku membaca dan menulis, tapi ayah bilang aku bodoh karena lambat membaca. Aku belajar sendiri di perpustakaan dan ternyata Ella masuk akademi." Isak Daniela.
Pendeta tinggi Rohan menyadari, meskipun Daniela terlihat nakal dan kadangkala juga agak dewasa karena mengeluarkan ide unik, dia masih anak perempuan berusia lima belas tahun yang butuh kasih sayang ayah.
Duke Vilvred mengeratkan pegangannya di tangan Daniela. "Jangan bicara omong kosong lagi, kamu hanya berhalusinasi karena terlalu sering memakai obat terlarang. Aku jadi kerepotan mengurus anak seperti kamu."
Daniela mengangkat kepalanya dan menatap sang ayah dengan kecewa. "Demi Ella, bahkan ayah menuduhku yang tidak-tidak?"
Pendeta agung berjalan dengan anggun lalu menarik tangan duke Vilvred yang sedikit gemuk karena tidak pernah olah raga. "Entah kenapa akhir-akhir ini pangeran mahkota dan pengikutnya sering kali membuat masalah di kuil. Apakah sudah menjadi tren di kalangan kalian?"
Duke Vilvred melepas tangan Daniela dan merasa kesakitan karena pendeta agung. "Siapa kamu?"
"Saya pendeta agung di sini."
"Pendeta agung memakai topeng? Apakah sekarang sedang ada pesta topeng di kuil?"
Pendeta agung mendorong duke Vilvred hingga ke tembok dan menekannya dengan kekuatan suci. "Anda sendiri tidak suka dihina, kenapa menghina saya yang seorang pendeta agung? Ah, saya lupa. Seseorang yang suka mengingkari janji suci pernikahan, lebih suka menghina dan menginjak dewa."
"Aku hanya menegur putri kandung yang tidak memiliki otak, menghina adik dan ayah kandung sendiri demi mendapat ketenaran."
Daniela menyentuh tangannya yang kemerahan, kepala masih menunduk untuk menyembunyikan kesedihan.
Pendeta Rohan menghela napas lalu menutup kepala Daniela dengan kain bersih.
"Duke, sebaiknya anda pergi dari sini sebelum saya melempar surat ke kaisar karena salah satu bangsawan miliknya bersikap tidak sopan di kuil." Usir pendeta agung.
"Aku akan keluar bersama Daniela." Tantang duke Vilvred. "Dia harus menyelesaikan semuanya."
"Saya akan bicara dengan duke Aelthred dengan baik. Saya sarankan anda pergi sebelum citra anda memburuk di hadapan para bangsawan yang hadir."
Duke Vilvred terlalu emosi pada Daniela sehingga melupakan posisi mereka menjadi tontonan orang-orang.
Duke Vilvred berdiri dan memperbaiki pakaiannya. "Hari ini aku tunggu Daniela bertemu dengan kaisar untuk membatalkan semuanya."
Setelah mengatakan itu, duke Vilvred pergi dari kuil.
Kedua pundak Daniela yang tadinya kaku, menjadi santai.
__ADS_1