
Dua hari kemudian, pangeran pertama terkejut mendengar berita kedatangan Marquess Bill. "Bagaimana bisa Marquess yang datang? Apakah tidak salah?" Tanya Edrik sambil menggoyang tubuh Zuu dengan kedua tangannya. "Kenapa malah penasehat kerajaan yang datang? Kenapa bukan dokter atau salah satu pendeta yang akan melawan pendeta tinggi?"
"Sa- saya juga penasaran dengan hal itu, Yang Mulia." Zuu sedikit pusing setelah digoyang Edrik lalu menunjukkan surat di tangannya. "Mungkin anda bisa membaca surat ini, duke Aelthred menitipkan surat untuk anda ke Marquess Bill."
Edrik mengambil surat di tangan Zuu dan bergegas membacanya.
Saya sudah mengerti garis besarnya, saya minta tolong pada penasehat kerajaan untuk bekerja sama atas nama keluarganya meskipun beliau tidak tahu anda ada di sana.
Edrik menoleh ke Zuu. "Daniela bilang Marquess tidak tahu aku ada di sini, itu berarti aku tidak boleh muncul?"
Zuu bingung dengan pertanyaan Edrik lalu sedikit mengintip surat di tangan Edrik karena penasaran.
Edrik dan Zuu sama-sama membaca surat.
Serahkan semuanya ke penasehat kerajaan, biarkan bekerja. Jika wilayah dalam keadaan terdesak, baru anda muncul atau selamatkan mereka. Biar bagaimanapun mereka keluarga akademis, bukan ahli perang. Hidup keluarga Bill tergantung di tangan anda, buat mereka setia kepada anda.
Edrik semakin tidak mengerti maksud Daniela dan menyerahkan surat itu ke Zuu lalu mulai mengomel. "Kamu lihat sendiri 'kan, hasilnya malah ingin diserahkan ke penasehat kerajaan? Apa-apaan ini? Kita hendak menolong orang, bukan melakukan kegiatan politik."
Zuu kembali membaca surat dari Daniela dan berusaha mencernanya.
"Kamu bilang Daniela bisa mencari jalan yang baik tapi apa? Malah mengeluarkan penasehat kerajaan dan keluarganya, apakah kita hanya akan menasehati para penjahat? Sial!"
Zuu yakin langkah yang dilakukan Daniela tidak sembarangan, tapi apa? Langkah apa yang dia buat sampai pangeran pertama tidak boleh bergerak?
"Sial! Yang berguna hanya istrinya saja!"
"Istri?" Tanya Zuu yang bertanya pada Edrik.
Edrik menjawab dengan nada kesal. "Istri Marquess Bill, Marin Green. Seorang dokter dan suka memakai pakaian berwarna hijau, katanya jika memakai pakaian warna itu dia jadi bisa membedakan darah yang terciprat di pakaian. Di wilayah ini hanya ada satu dokter, jadi kehadiran istri marquess sangat berguna."
__ADS_1
Kedua mata Zuu terbelalak karena terpana. "Bukankah itu hebat?"
"Apa?"
"Marchioness akan tahu penyakit yang sedang dialami anak-anak di wilayah ini lalu penasehat kerajaan akan membuat pengaturan, bukankah penasehat selalu berada disisi permaisuri?"
Edrik terkejut dengan penjelasan Zuu.
"Kita akan mengetahui arti rencana di dalam surat ini, yang terpenting kita turuti dulu permintaan duke." Zuu membakar surat itu dengan mana api miliknya hingga kertas di tangan menjadi abu. "Anda hanya bisa muncul jika keadaan terdesak, itu berarti ada dua kemungkinan. Marquess yang tidak bisa menguasai keadaan wilayah atau bisa menguasai."
"Secara kasar, dia dijadikan pion untukku?" Tanya Edrik tidak percaya. "Dia seorang ayah dan memiliki keluarga."
Zuu menggeleng. "Pangeran pertama, anda harus paham. Politik jauh lebih kejam daripada berperang sambil kehilangan nyawa. Marquess Bill juga tidak mungkin sebodoh itu sampai rela dijadikan pion."
Edrik menipiskan bibirnya dengan menahan amarah. "Daniela hanya berusia lima belas tahun dan belum melakukan debut, bagaimana bisa dia memikirkan rencana mengerikan?"
Edrik mendecak kesal.
----------
Pada awalnya Marin Green kesal dengan suaminya karena membawa dia dan anak-anak ke wilayah terpencil, seolah melarikan diri.
"Jika kamu seperti ini, kaisar akan semakin curiga. Lebih baik kamu bertekuk lutut dan menunjukkan kesetiaan daripada harus kehilangan banyak nyawa." Omel Marin begitu mengikuti suaminya, masuk ke dalam kamar setelah disambut oleh Viscount Fei. "Aku semakin kesal melihat kamu hanya diam saja begitu, apakah kamu tidak kesal dengan semua perbuatan kaisar yang merugikan kita?"
"Aku tahu!" Bentak marquess Bill. "Kita harus mendinginkan kepala sebelum menghadap kaisar."
Amarah Marin Green lenyap begitu melihat wajah pucat sang suami, dia tahu perjuangan suami untuk menyelamatkan keluarganya. Marin tidak ingin melihat suaminya kesulitan lagi, meskipun harus sedikit sakit mata melihat penjahat menjadi penguasa.
"Aku hanya melindungi prinsip kita, meskipun sekarang kamu berubah pikiran demi nyawa banyak orang- aku tidak bisa, aku hanya memikirkan jangka panjang."
__ADS_1
Marin Green tahu pasti apa yang dimaksud sang suami. Jangka panjang! Tidak ada yang tahu nasib orang dalam waktu jangka panjang, tapi bukankah itu berarti bisa memberikan waktu kepada orang-orang yang mereka cintai untuk melarikan diri dari kekaisaran?
Marquess Bill mencari cara supaya istrinya luluh. "Dengarkan aku, jika rencana sekarang gagal- aku akan berlutut di depan kaisar dan menyatakan kesetiaan."
Bibir Marin Green bergetar ketika melihat mata bergetar suaminya. Sangat sulit untuk menutup perjanjian dengan kaisar sebelumnya begitu saja, tapi nyawa orang-orang di wilayah mereka juga menjadi taruhan jika suaminya tetap mendukung pangeran pertama dan permaisuri.
"Kita akan berusaha keras mencari pangeran pertama di wilayah ini, jadi kumohon tolong aku."
Marin Green memeluk suaminya dengan sedih, seolah tidak ada masa depan untuk mereka. "Jika ada masalah, biarkan anak-anak pergi dulu. Aku akan menemani kamu."
"Tidak." Marquess Bill menolak ide istrinya dengan tegas. "Kamu tidak bisa melakukan itu, kamu harus bisa menemani mereka. Harus ada salah satu yang hidup."
Marquess Bill sudah merencanakan sebelum tiba dari wilayah viscount Fei. Istri dan kedua anaknya harus bisa kabur dari wilayah ini jika pangeran pertama memang tidak bisa ditemukan, lalu menyebar berita bahwa istri dan kedua anaknya meninggal karena diserang perampok sementara marquess menghadap kaisar, menerima semua hukuman yang akan diberikan termasuk kehancuran keluarga.
Marchioness menggeleng tidak setuju. "Apakah kamu paham sumpah pernikahan yang kita lakukan di masa lalu? Kita harus bersama dalam kondisi apa pun, aku tidak mau salah satu dari kita berkorban lalu yang lainnya melarikan diri."
"Marin."
"Aku tahu prinsip kamu, maaf sudah memaksakan kamu selama ini. Tapi, tetap saja aku lebih tidak ingin kehilangan kamu. Jika kamu tetap keras kepala, hal pertama yang diincar kaisar adalah kamu, bukan aku ataupun anak-anak kita."
Marquess menatap terkejut istrinya. "Marin."
"Aku memang tidak ingin kehilangan anak-anak kita dan orang-orang di wilayah kita tapi aku lebih tidak ingin kehilangan kamu. Perjuanganku akan menjadi sia-sia jika kamu tidak ada."
Zuu dan Edrik yang berdiri di depan pintu kamar yang tertutup, menjadi canggung ketika mendengar perkataan mereka.
Edrik mengerutkan kening di balik mantel cokelatnya. "Daniela memang gila."
Zuu tidak tahu harus menjawab apa. "Yah, kita lihat saja nanti- apa yang diinginkan duke Aelthred."
__ADS_1