
"Astagaaa! Patung dewa yang sudah kami berikan doa, hancur!" Raung pendeta tinggi Rou yang terkejut melihat patung dewa yang dia jaga sudah hancur. "Siapa? Siapa yang melakukannya? Dia harus dihukum berat, karena telah melecehkan dewa!"
Zuu dan Marquess Bill tidak bisa menjawab lantaran yang menghancurkan patung adalah pangeran pertama dan juga lady yang diperintah langsung pendeta agung.
Beberapa menit sebelum para pendeta di bawa masuk ke dalam ruangan. Daniela dan pangeran mahkota bertengkar untuk hal yang tidak pantas.
"Kamu yang menghancurkan patung dewa! Kenapa jadi aku yang disalahkan?!" Edrik tidak terima disalahkan. "Jelas-jelas mana keluar dari tangan kamu!"
"Mana memang keluar dari tanganku, tapi kenapa 'itu' anda menempel di pinggangku? Dasar mesum!" Balas Daniela yang juga tidak mau kalah.
"Kamu kira aku nafsu dengan anak kecil berdada rata? Di usia sama dengan kamu, dada ibuku mengembang dengan sempurna! Aku pernah melihat langsung di lukisan."
"Lukisan hanyalah lukisan dan mata anda bisa ditipu karena permintaan si model."
"Apa kamu bilang ibuku seorang penipu?"
"Tidak, aku cuma bilang jangan terlalu percaya pada lukisan. Aku sudah dewasa dan pasti dadaku ikut membesar." Daniela mengangkat tangannya di depan dada. "Lihat, tinggal butuh sedikit waktu untuk membesar lagipula, anda sendiri yang mesum. Kenapa bisa sampai menempel di pinggang suci saya?"
"Pinggang suci?"
"Benar, tidak ada pria yang semesum anda!"
"Hei, Daniela. Apa kamu lupa di masa lalu, kamu merayu pria itu terlebih dahulu."
Berisik!
"Ah, kamu juga dulu sangat mesum, suka melihat bagian itu pangeran pertama yang sudah menjadi kaisar, kenapa malah marah?!"
Daniela memang pernah melihat tubuh pangeran pertama di masa lalu karena hubungan suami istri, hanya saja dia terlalu terkejut karena ada yang menempel di pinggangnya.
Meskipun terlahir kembali di usia lima belas tahun, pemikiran mesumnya sudah dewasa.
Zuu dan Marquess Bill yang melihat wajah merah Daniela menjadi salah paham, mereka mengira anak itu pemalu. Tapi-
Marquess Bill yang cerdas dan lebih berpengalaman, teringat dengan perkataan istrinya saat malam pertama. "Normalnya anak perempuan yang masih muda, terutama belum menikah atau bertunangan, tidak pernah mendapatkan pendidikan mengenai tubuh manusia. Apakah duke Aelthred pernah belajar?"
Daniela menggeleng ngeri. "Tidak, buat apa aku belajar hal tidak berguna seperti itu?"
Daniela tidak akan pernah bisa mengungkapkan pikirannya mengenai 'itu' pangeran pertama.
"Hah! Salahnya sendiri menendang kebanggaan pria, makanya jadi kena balasan dari dewa." Sahut Edrik dengan asal.
__ADS_1
Daniela menatap langit kuil dengan marah.
Dewa buru-buru menjawab. "Buat apa aku melakukan hal serendah itu? Dia sendiri yang melakukan, kenapa jadi menyalahkan aku?!"
Daniela menyipitkan kedua mata lalu menunjuk Edrik. "Anda bilang tidak sengaja? Baik, sekarang saya percaya- tapi, jika ketahuan anda ternyata sengaja melakukannya, seumur hidup 'itu' anda tidak akan pernah berdiri tegak!"
Bagaikan petir yang menyambar di benak Edrik. Dia sendiri tidak merasa salah, tentu saja sudah menjadi sifat alami 'itu' sedikit membengkak jika mendapat pukulan tadi dan Edrik berusaha menahan rasa sakit demi harga diri.
Sekarang pelaku yang melakukan malah menyumpahi dirinya, sang korban.
"Aku mau istirahat, berikan aku kamar terbaik karena aku terlalu lelah!" Daniela berjalan meninggalkan ruangan.
Zuu bergegas menyuruh salah satu orang menjaga sekaligus menunjukkan kamar untuk Daniela.
Marquess Bill menghela napas. "Pangeran pertama."
Edrik menatap marah Marquess Bill. "Panggil para pendeta itu dan suruh mereka perbaiki semua patung!"
"Tapi- bagaimana dengan pembersihan?"
"Akan dilakukan jika patung bisa diperbaiki!" Perintah Edrik yang berjalan keluar.
"Anda mau kemana?" Tanya Marquess Bill.
Marquess Bill sekali lagi menghela napas.
Kembali ke waktu sekarang, para pendeta yang sudah ditangkap dan diikat, dikumpulkan menjadi satu untuk memperbaiki patung dewa.
Pendeta tinggi Rou berteriak marah ke Marquess Bill. "Apakah kamu yang menghancurkan patung ini?"
Marquess Bill menggeleng. "Kuil dari pusat yang menghancurkannya."
Rou tercengang. "Ku- kuil pusat? Mereka bisa datang kemari? Bukankah perbatasan ditutup? Bagaimana bisa datang?"
Marquess Bill semakin mencurigai pendeta tinggi Rou. "Hm- sepertinya ada yang anda sembunyikan."
"Ba- bagaimana bisa aku menyembunyikan? Kalian yang menghancurkan patung, dan aku yang disalahkan?!"
Zuu bertanya ke pendeta muda yang ketakutan. "Jadi, patungnya tidak bisa diperbaiki?"
"Ti- tidak bisa. Yang bisa memperbaiki hanya pembuat patung." Geleng pendeta muda itu.
__ADS_1
Zuu dan Marquess Bill tidak punya jalan lain, mereka berdua harus menghapuskan dosa pangeran pertama dan Daniela.
Zuu berjongkok di hadapan pendeta muda. "Aku akan membebaskan kalian semua, para pendeta muda yang tidak tahu apa pun, dengan satu syarat. Maukah kalian memenuhi permintaan kami?"
Sementara Edrik pergi ke dokter yang sedang istirahat, setelah mendapat informasi dari para bawahannya.
Edrik yang membuka pintu tanpa mengetuk, bicara langsung ke dokter. "Dokter, apakah anda tahu cara menangani bagian 'itu' yang membengkak karena dipukul?"
Dokter yang baru saja makan satu sendok, terkejut dengan kehadiran Edrik secara mendadak. "Itu?"
"Itu. Milik pria yang dikagumi banyak wanita dan kebanggaan semua orang!"
Dokter akhirnya mengerti. "Ah! Ada apa? Apakah anda melakukan posisi salah?"
"Posisi salah?"
"Dengan wanita."
Edrik pasang wajah bodoh lalu memerah dan menegur dokter. "Apa yang kamu bicarakan? Bagaimana bisa aku melakukan hal kotor di saat seperti ini?"
"Lalu? Apakah ada yang memukul anda?" Tanya dokter yang tidak mengerti. "Tidak mungkin ada yang memukul itu, bukan?"
Edrik mengambil kursi. "Ada, anak perempuan yang memukulku."
Dokter terkejut. "Siapa yang berani memukul anda?"
"Itu tidak penting. Bagaimana cara menyembuhkannya? Menyiksa sekali."
"Saya akan memberikan kompres air dingin kepada anda, sekitar satu jam atau tiga puluh menit paling cepat akan mereda."
"Cepat! Aku tidak sabar! Aku ingin mengalahkan perempuan yang berani mengutukku!" Edrik menjadi tidak sabar.
Dokter bergegas mencari kain lalu teringat dengan minimnya obat yang dia punya, dia berjalan mendekati Edrik. "Pangeran, saya lupa kalau tidak ada es di sini. Saya akan coba minta Marchioness, siapa tahu dia punya. Tunggu di sini sebentar."
"Tu- tunggu!"
Dokter sudah melarikan diri sebelum mendapat izin dari Edrik.
Marchioness seorang wanita, bagaimana bisa mendengar sekaligus memiliki obat 'itu'?
Edrik keringat dingin, sekarang mulai merasakan efeknya. Padahal tadi sudah mereda.
__ADS_1
Di saat Edrik menderita karena ulahnya, Daniela istirahat dengan nyaman di kamar mewah pendeta tinggi Rou. Tidak ada yang berani mengganggu, dan salah satu ksatria terkuat pangeran pertama menjaganya di depan pintu.