
Dikamar apartemen yang biasa Meta huni bersama suaminya terasa hampa. tiga bulan sudah Billy meninggalkan ia dan Syauqi.namun ia masih belum bisa mengusir kesedihannya.sesekali Tante nya berkunjung untuk menghiburnya.begitupun dengan Sherena yang hampir setiap hari mengunjunginya.
"Ma...ma...ma...". Suara lembut yang keluar dari bibir Syauqi membangunkan Meta dari lamunannya.
Gadis kecil itu mengusap pipi Mommy nya yang basah dengan air mata.senyum manis terkambang dari bibir Syauqi seolah ingin menghibur mommy nya yang masih bersedih.
"Sayang ,Ma'afkan Mommy ".Meta memeluk tubuh gadis kecil hasil buah cintanya dengan Billy.wajah Syauqi yang terlalu mirip dengan Billy membuat Meta belum bisa mengusir kesedihannya.
Billy adalah sosok suami yang menyayanginya dan selalu ada untuknya.sekarang ia merasa tidak ada lagi tempat ia bersandar meskipun masih ada Sherena dan tantenya yang selalu ada untuknya.peran Billy tidak bisa digantikan oleh siapapun.sosok yang dingin namun sebenarnya sangat perhatian kepadanya.
"Sayang , aku rindu.tolong hadir dalam mimpiku sebentar saja ". Gumam Meta yang sudah berbaring di atas tempat tidur.ia pandangi lagi wajah Syauqi yang masih memandangnya.hal itu semakin membuatnya terus mengingat Billy.
" Tidur yuk ". ajak Meta karena hari sudah menunjukkan pukul 21.00 PM.
*
*
Pagi datang dengan langit mendung.Meta bersiap untuk pergi kekantor.sebelumnya ia harus ke rumah Sherena dulu untuk mengantarkan Syauqi. Hal itu adalah atas perintah Elden untuk membawa Syauqi ke rumahnya terlebih dahulu sebelum berangkat kerja.dan ia pun menyetujui tawaran Elden dan Sherena.meski sebenarnya ia merasa tidak enak hati karena akan merepotkan Sherena dalam mengasuh putrinya.sedangkan Sherena juga punya anak yang jarak usianya hanya terpaut tiga bulan saja dengan Syauqi.
"Selamat pagi sayang ". Ucap Sherena saat melihat Syauqi yang sudah berada diruang makan saat ia dan Elden sedang sarapan.
" Sarapan yuk Met " .ajak Sherena.
"Aku udah sarapan kok ".jawab Meta jujur karena setiap pagi ia memang selalu memasak agar putrinya terbiasa sarapan.
"Aku ke Mba Titi dulu ya ,permisi Tuan Elden " . Meta berlalu untuk menemui baby sitter Aaron yang juga mengasuh putrinya disaat ia sedang bekerja.
__ADS_1
Setelah mengantarkan Syauqi kepada mba Titi, Meta kembali menemui Sherena dan Elden untuk pamit.
Meta lebih dulu berangkat dari pada Elden.sebenarnya Sherena sudah menawarkan agar ia dan Elden pergi ke kantor bersama.namun ia tolak karena merasa tidak enak. sejak ia manyandang status janda, ia merasa tidak nyaman dengan ucapan teman kantor nya yang selalu menyebar isu miring saat ada pria yang mengajaknya berbicara.padahal ia hanya sebatas menjawab ataupun bertanya kepada teman pria yang juga sekantor dengannya.
jalanan sudah mulai macet, Meta Mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.karena ia memang tidak pernah tertarik untuk mengemudi dengan kecepatan tinggi.sesuai dengan perintah Billy saat pria yang masih memenuhi hatinya itu masih hidup.
Saat Meta hendak keluar dari dalam mobil karena sudah sampai di SJY Group seseorang yang ia kenal berdiri di depan mobil yang sudah ia parkir.
"Pagi ". Sapa pria yang mengenakan pakaian formal warna abu itu.
" Pagi ". jawab Meta merasa tidak enak hati.sejujurnya ia sangat malas meladeni Erix .ya pria itu adalah Erix .
"Apa Tuan Elden sudah datang ?" Tanya Erix dengan senyum yang mengambang dari sudut bibirnya.
"Belum, Apa tuan sudah ada janji sebelumnya ?" Aneh sekali jika ingin bertemu dengan Tuan Elden pagi begini.
Seperti biasa Meta masih bekerja di SJY Group atas permintaan Elden. sebenarnya ia ingin resign dari perusahaan itu dan ingin membuka usaha sendiri.karena jika ia masih bekerja di sana,memory saat ia bersama Billy masih terus berputar.sehingga terkadang ia tidak berkonsentrasi untuk bekerja.bayang-bayang suaminya selalu datang dan datang.
Meta menarik nafas panjang setelah pekerjaannya selesai.jam makan siang membuatnya harus meninggalkan meja kerjanya.karena ada yang lebih penting yaitu mengisi perutnya agar energinya kembali full.
Sebenarnya Meta tadi membawa bekal yang ia masak dari rumah.namun karena buru-buru bekal yang tadi ia persiapkan ketunggalan dirumahnya.sehingga ia harus keluar untuk mencari makan.
Restoran yang tidak terlalu jauh dari kantornya adalah pilihannya untuk makan siang.dimana dulu ia dan Billy juga sering kesana.
Setelah memesan makanan yang ia mau Meta berniat menghubungi Sherena. Namun saat ia akan mengeluarkan ponsel dari dalam tas, seseorang sudah duduk di kursi yang ada di depan mejanya.
"Anda ?" . Meta sedikit heran dengan orang yang selalu muncul dihadapannya secara tiba-tiba.seperti jaylangkung datang tidak di jemput pulang tidak di antar.
__ADS_1
Erix Tersenyum manis saat melihat ekspresi Meta yang lucu menurutnya.
"Kenapa anda disini ?". Tanya Meta.
"Ya mau makan lah ". jawab Erix santai namun senyum dibibirnya masih mengembang.
"Oooo ". tadi pagi saat Meta baru sampai di parkiran kantor bertemu dengan Erix ,sekarang mau makan siang ketemu lagi.
"Aneh". gumam Meta.
"Apanya ?" tanya Erix setelah mendengar jelas apa yang di ucapkan Meta.
Meta terlihat gugup saat Erix bertanya kepadanya.ia tidak menyangka ucapannya tadi akan di dengar oleh Erix . padahal ia yakin sudah berbicara dengan sangat pelan.tidak mungkin Erix mendengarnya dengan sempurna.
Untung saja makanan yang tadi dipesan Meta sudah datang. jadi ia tidak perlu lagi menjawab pertanyaan pria aneh yang ada didepannya saat ini.
Tanpa basa basi ,Meta memulai makan siangnya dengan lahap.seolah lupa bahwa ada orang lain yang juga ikut duduk bersamanya saat ini.
"Manis sekali ". Gumam Erix memandang Meta yang terus menikmati makan siangnya.
"Manis? ini pizza black paper full saos sambal ". ucap Meta heran.mana mungkin pizza yang sudah ia cicipi rasanya manis.
"Maksud saya, kamu yang manis ". jawab Erix santai tidak peduli saat ini Meta sedang melotot kepadanya.tidak sedikitpun ia merasa takut dengan sorot mata tajam wanita yang ada dihadapannya saat ini.justru semakin membuatnya merasa penasaran dengan sosok janda anak satu itu.
"Katanya tadi anda mau makan,kenapa makanannya tidak ada ?"tanya Meta karena makanannya hampir saja habis, sedangkan ia belum melihat makanan Erix sama sekali.
"Saya tidak jadi makan , melihat wajah mu yang galak saja sudah membuat saya kenyang" .terang Erix kembali mendapat sorot mata membunuh dari wanita yang tengah mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Kenapa marah ? kamu kan memang manis ". sambung Erix jujur.