Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 21 Berita Mengejutkan


__ADS_3

Keesokan harinya


Menjelang sholat shubuh Renita terbangun, tidak biasanya perempuan itu langsung mencari ponselnya untuk mengecek agenda rapat hari ini. Tetapi baru saja menyalakan ponsel, notifikasi pesan masuk relative banyak. Salah satunya dari Tagor, dosen DPK yang ditempatkan di prodi PIPS, Pasca Sarjana. Renita mengerutkan kening, karena merasa tidak memiliki kedekatan dengan laki-laki itu. Merasa penasaran, Renita langsung membuka chat, dan jantung perempuan itu seperti berhenti berdetak. Tagor mengabarkan jika Prof. Dahlan meninggal dunia, dengan indikasi penyakit jantung.


“Ini beneran atau lelucon.. Ya Allah..” Renita terduduk lagi di pinggir ranjang. Jantungnya menjadi berdegup kencang, dan air mata tanpa sadar mengalir dari sudut matanya. Bagaimanapun buruknya hubungan Renita dan prof. Dahlan di akhir-akhir masa jabatan, namun Renita masih mengenang semua kebaikan beliau. Seorang pemimpin yang berdedikasi, memliki wibawa, dan pengaruh setiap laki-laki itu bicara.


“Aku akan telpon Bu Kiki.., pasti dia tahu karena mereka masih memiliki hubungan yang dekat sampai dengan sekarang..” teringat dengan Kiki mantan WR I yang pernah menjadi rekan sejawat dalam menjalankan Amanah kepemimpinan, Renita berniat untuk menghubunginya.


“Tut.. tut.. tut..” Renita melakukan panggilan keluar pada Kiki, dan tidak lama kemudian panggilan itu diterima.


“Assalamu alaikum.. ada apa Bu Ren.. tumben pagi-pagi sudah melakukan panggilan telpon.” Untungnya perempuan itu langsung menyapa Renita.


“Wa alaikum salam, apakah benar informasi yang aku terima Bu.. Katanya Prof…” Renita sudah tidak mampu lagi


meneruskan kalimatnya.


“Iya Bu.. ini kebetulan aku juga lagi di Jakrta. Tapi sebentar lagi aku dalam perjalanan pulang dengan suamiku. Tadi


putranya yang pertama yang kasih kabar, katanya beliau tidak sakit. Tadi pagi masih sempat sholat jamaah Shubuh di masjid, beliau tidur sebentar ternyata dibangunkan sudah tidak bisa tertolong..” Kiki menceritakan kronologi mendapatkan berita.

__ADS_1


“Ya Allah.. Inna lillahi wa inna Illaihi Roji’un.. Allahumagh firlahu warhamhu wa fuanhu.. Ya sudah makasih ya bu informasinya, saya tak segera mengabarkan ke rumah beliau.” Renita segera mengakhiri panggilan telpon.


Renita masih terduduk di pinggir ranjang, dan air mata tidak berhenti mengalir dari air matanya. Tiba-tiba perempuan itu merasa bersalah, karena masih ada kesalah pahaman antara mereka yang sempat diluruskan. Bahkan di akhir-akhir jabatan, untuk menjegal agar Renita tidak menjadi kandidat pejabat lagi pada periode kepemimpinan ini, Prof. Dahlan pernah menyebarkan berita buruk tentangnya di semua unsur Yayasan Pembina. Bahkan dengan menyebarnya berita itu, Renita sempat trauma untuk menduduki jabatan pada periode ini.


“Kenapa mah.. bangun tidur kok langsung nangis..?” tiba-tiba Renita dikejutkan dengan teguran suaminya yang


juga sudah bangun tidur.


“Shock yah.., Prof. Dahlan.. barusan mamah dapat kabar yang menginformasikan jika Prof. Dahlan meninggal dunia secara mendadak. Mamah seperti tidak percaya yah, tapi sudah mamah konfirmasi ke bu Kiki.., dan ternyata informasi itu benar,” Renita segera menceritakan apa yang terjadi pada suaminya.


“Inna lillahi wa inna Illaihi Roji’un.., ya sudah mah.. nanti ayah juga melayat setelah jemput anak-anak pulang sekolah. Mamah segera bersiap ke kantor saja, siapa tahu ada yang perlu dikondisikan di kantor.” Untungnya Andri memahami bagaimana posisi istrinya di kantor. Laki-laki itu selalu mengarahkan dan mendukung kegiatan positif yang dilakukan Renita.


terbiasa untuk menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak dan suaminya, dengan diawali membuatkan minuman teh manis panas.


*******


Sesampainya di kantor, Renita segera berkoordinasi dengan Rektor dan Wakil Rektor lainnya. Pada pukul sepuluh siang, Rektor sudah terlanjur membuat undangan rapat. Setelah mereka bicara sebentar, akhirnya rapat akan diundur.


“Kita ini tuan rumah lho pak.., karena bagaimanapun Prof. Dahlan punya jasa besar terhadap Lembaga ini. Dan tadi dari Pengurus Besar sudah kasih kabar, jika Prof. Joko akan menuju ke Jogja untuk ikut hadir dalam pemakaman. Saya sudah siapkan satu buah mobil untuk penjemputan prof. Joko dari bandara, sampai beliau Kembali ke bandara lagi nanti sore.” Renita mengarahkan tim Rektorat.

__ADS_1


“Iya bu.. kita akan segera berangkat kesana. Kita berangkat sama-sama saja, mungkin pak Faiz tinggal sebentar ya, mengkondisikan peserta rapat. Nanti dengan beberapa teman dari Yayasan, kita segera mengabarkan ke rumah duka.” Akhirnya Rektor memutuskan.


Tidak membuang waktu, akhirnya tiga orang tim dari Rektorat, dan Sekretaris pengurus Yayasan segera menuju ke rumah duka. Dibutuhkan waktu perjalanan sekitar empat puluh lima menit, karena kebetulan rumah duka berada di pusat keramaian, sehingga harus melewati beberapa tempat yang mengalami macet.


Sesampainya di rumah duka, Renita sedikit terkejut dengan keadaan di lokasi. Pikirannya semua sudah tertata dengan rapi, namun ternyata di depan rumah terlihat sepi. Tidak ada penerima tamu, bahkan sound pun juga tidak terlihat. Menggunakan power yang dimiliki sebagai WR II, Renita memerintahkan pada karyawan di kampus untuk menyiapkan sound di rumah duka. Bersama dengan rombongan, Renita masuk ke dalam rumah kemudian menyolatkan jenazah, dan kemudian mengucapkan bela sungkawa kepada istrinya.


“Pak.. saya tak di luar saja ya untuk mempersilakan tamu yang datang. Soalnya tidak ada penerima tamunya..” Renita ijin dengan Rektor. Menyadari meski hubungan Renita dengan Prof. Dahlan sempat tidak baik, tetapi mereka pernah menjadi tim yang dekat di Rektorat, akhirnya Umam mengijinkan. Akhirnya dengan ditemani Sekretaris Yayasan, untuk sementara Renita menjadi penerima tamu di rumah duka.


Tepat pada pukul dua siang, akhirnya jenazah dimakamkan di pemakaman tidak jauh dari rumah duka, hanya sekitar 500 meter. Ratusan karangan bunga dari berbagai sumber dikirimkan, dan tamu yang datang juga dari berbagai wilayah di Indonesia. Keadaan ironis dirasakan Renita Ketika pemakaman usai. Ketika Renita didampingi suami dan putra keduanya, di sudut sebuah rumah makan cepat saji Renita melihat Ketua Pengurus, Wakil Ketua


Pengurus, Rektor, dan Wakil Rektor II sedang makan dan minum di rumah makan tersebut, sambil tertawa bersenda gurau. Sedikitpun tidak ada kesedihan telah kehilangan tokoh besar di perguruan tingginya. Padahal rumah makan itu hanya beberapa rumah dari rumah duka, dan keberadaan mereka terlihat oleh para tamu yang lewat.


“Kenapa seperti itu mah.., para pejabat di kampus mamah. Seperti tidak ada empati sedikitpun, dan tidak ada rasa malu dilihat orang banyak.” Andri mengomentari orang-orang itu.


“Abaikan saja yah, sudah mati rasa sepertinya mereka.” Renita merasa malas berkomentar tentang mereka.


WR I yang berjalan di belakang Renita tersenyum mendengar perkataan Renita, tetapi tidak memberikan komentar apapun. Setelah sampai di rumah duka, ternyata terlihat sepi akhirnya Andri mengajak istrinya pulang ke rumah. Tanpa membantah, Renita mengikuti ajakan suaminya.


*****

__ADS_1


__ADS_2