
Sesampainya di restaurant samping kampus UP, ternyata Noncy sudah menunggunya di dalam, Namun Kiki belum terlihat.dan Renita langsung masuk dan mendatangi meja yang sudah dipilih Noncy. Melihat kedatangan Renita, Noncy tersenyum dan meminta perempuan itu untuk segera duduk.
"Lama bener Nyah.. tadi katanya sudah selesai mengajar dari tadi.jam sembilan. Aku sudah dari tadi nunggunya disini sendirian lagi." Noncy bertanya pada Renita yang langsung duduk di kursi depannya.
"biasa makk... mantan artis UP. Begitu jalan lewat sendiri, banyak yang mendatangi, menanyakan kabar, mendoakan kesehatan.., dan banyak lagi lah. Aku ga bisa menolak, kan dikau tahu sendiri aku bagaimana.." sahut Renita menjelaskan.
"Hmmm.. iya.. iya.. aku tahu persis siapa dirimu. Tidak bisa menolak, dan sering bertindak menjadi seperti pahlawan kesiangan yang terkadang dan bahkan selalu tidak memperhitungkan keselamatan diri sendiri. Kalau ada efeknya, baru bingung dan curhat. Nyah.. nyah.., mbok ya jadi orang itu, pengalaman digunakan sebagai guru terbaik. Kita boleh punya niat baik untuk menolong seseorang, tapi juga jangan lupa lindungi diri sendiri. Jangan mati konyol sendirian.." seperti biasa, Noncy menyampaikan nasehat pada Renita.
"Iya makk... sorry sorry.. aku insaf deh.." Renita tersenyum nyengir.
"Insaf.., insaf.. tapi setelah itu, diulang-ulang terus, terus, dan terus.." ucap Noncy yang memang sudah sangat hafal dengan karakter Renita. Karena jika terjadi masalah, selalu Noncy yang digunakan Renita untuk menyelesaikan semua masalahnya.
Untungnya terlihat pelayan restaurant, datang untuk memberikan menu yang akan dipesan oleh Renita. Sedangkan Noncy sudah memesan beberapa makanan dan minuman untuknya sendiri.
"Kopi cincau.., es teh lechhy sama nasi bakar ikan teri saja ya, tidak pedas." Renita menyampaikan pesanannya.
"Baik bu Renita.. mohon ditunggu ya.." pelayan itu segera meninggalkan Noncy dan Renita.
Renita kemudian mengeluarkan laptop dari dalam tasnya, kemudian membukanya perlahan. Sedangkan Noncy sudah sejak tadi, sambil menunggu melakukan coding pekerjaan disertasinya yang sudah hampir kelar. target bulan depan sudah melakukan uji kelayakan, sangat tepat akan dicapai oleh perempuan itu. Noncy memang seorang pekerja keras, janda yang memiliki tiga anak namun pantang menyerah berjuang untuk putranya.
__ADS_1
"Nyah.. ini nanti kita mau membicarakan apa dengan bu Kiki.. aku sepertinya sudah selesai deh semua tugasnya." tiba-tiba Noncy bertanya tentang tujuan pertemuan mereka saat ini.
"Apa ya makk.. punyaku sih semua luaran sudah terpenuhi. Buku chapter, aku dapat dua Bab tentang Prospek Tanaman ramah lingkungan dan strategi pemasaran, semua sudah aku selesaikan. Tulisan di koran, juga sudah dilakukan, artikel jurnal pengabdian SInta terakreditasi peringkat minimal empat, juga sudah. Hak Cipta untuk packing ramah lingkungan, juga sudah." Renita menanggapi pertanyaan Noncy.
"Aku juga sudah ya, submitted di Songklha Karin university. Untuk pelabelan, memang belum sih.. tapi kan tinggal print dari sistem eRispro." Noncy juga tidak mau kalah,
"Yah,.. kita tunggu saja, Bu Kiki ada di Agroshop kok, sepertinya baru melakukan penelitian sama mahasiswa. Biasanya sholat dhuhur dulu, baru kesini. dan kalau sholat itu lama banget, karena sekalian sholat rowatib juga." Renita menceritakan tentang bu Kiki.
"Benar.. itulah yang membuatnya kuat nyah, tapi kasihan anak-anak dan suaminya. Bu Kiki nya kuat, namun energi negatif terlempar ke suami dan anak-anaknya.." ucap Noncy.
"Ya benar juga sih, karena sering banget putra-putra bu Kiki, kalau tidak suaminya ke rumah sakit. Entah operasi, atau sakit apa yang kecil-kecil. Tapi yah gimana lagi, bu Kiki punya daya dukung untuk lebih percaya laporan medis sih, karena sumber daya keuangan nya banyak dan ada dukungan asuransi. Lha kalau kita..?" sahut Renita.
"Benar sih nyah... tapi kalau aku tidak bakalan iri kok dengan keberuntungan beliau.." sahut Noncy.
**********
Benar seperti yang diperkirakan Renita, sekitar jam dua belas lebih tiga puluh menit, mobil Bu Kiki akhirnya memasuki halaman parkir restaurant. Perempuan itu segera masuk, dan kemudian mendatangi serta bergabung dengan meja yang sudah diduduki Renita dan Noncy.
"Sorry ya aku telat.., soalnya tadi ada mahasiswa yang bimbingan mendadak. Akhirnya karena kasihan, aku layani dulu mahasiswanya.." Kiki meminta maaf sambil mengangkat kursi, kemudian duduk di depan Renita.
__ADS_1
"Ga pa pa, maklum buu.. aku juga belum lama kok. Karena ngobrol dulu dengan mbak Inda.. he.." Renita menanggapi perkataan Kiki.
"Okay.. kita mulai saja ya. Jadi gini bu Noncy, bu Renita.. kita maksimal awal Desember harus sudah membuat laporan pelaksanaan kegiatan penelitian kita. Jadi kita harus segera buat laporan keuangan, dan beberapa bukti transaksi segera kita sediakan." bu Kiki membuka pembicaraan,
"Untuk saya sudah selesai bu, cuman untuk yang APC jurnal di Malang, belum ada tagihan, jadi uangnya belum aku bayarkan, Terus itu nanti gimana pertanggung jawaban bukti setornya." Renita melaporkan.
"Tidak masalah itu, yang penting kita sudah ada bukti accepted, nanti untuk uang sebesar 750.000 bisa kita buat kuitansi sendiri saja, nanti bu Renita yang tanda tangan. Yang untuk bu Noncy.., masih banyak yang belum ada bu bukti transaksinya. Dua FGD budget kita tiga juta per FGD, tapi baru ada bukti transaksi sebanyak 2.650.000. Jadi bu Noncy harus buat kuitansi dua kegiatan, masing-masing 350.000." Kiki menjelaskan,
"Untuk pos apaan ya bu..?" sahut noncy.
"Untuk banner, sewa LCD Projector sama foto copy materi makk.." Renita membantu menjawab.
"Okay.." sahut Noncy singkat.
Kiki kemudian mencermati file excell yang sudah dibuatkan laporan penggunaan dana anggaran, kemudian mencocokkan dengan RAB nya. Beberapa saat, ketiga perempuan itu fokus pada laptop masing-masing, saling mencermati luaran yang diwajibkan oleh pemberi dana, namun belum terealisir.
"Untuk realisasi akhir, nanti bu Renita yang buat ya. Nanti kita identifikasi pengeluaran apa yang belum ada dananya, kemudian untuk sisa uang yang masih ada, silakan bu Renita yang membuat dan membaginya. Saya ikut saja, hanya pesan saya untuk Tita, karena dia sering bantuin kita buat laporan keuangan, ada uang lebih dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Juga pak Wahyu jangan dilupakan., karena bagaimanapun beliau punya peran banyak untuk kelancaran penelitian kita." Kiki menambahkan.
"Nanti coba tak lihatnya dulu bu.. aku masih agak blank soalnya. Badanku masih sering reaksi bu, jadi tidak bisa terforsir, apalagi jika sudah sampai rumah, rasanya lemas dan bawaannya pingin tidur saja." Renita menanggapi.
__ADS_1
"Iya.. kenapa bisa sampai seperti itu ya nyah.., kenapa dendam atau mungkin sakit hati kali ya sama dirimu. Sampai ga berhenti-henti kirim terus. Ya Allah.. apakah dia tidak memikirkan nanti di akherat bagaimana ya nantinya. Allah pasti akan membalas semuanya." Kiki memberi komentar.
**********