
Di Kampus
Sukekh terpekur di dalam ruangan, laki-laki itu kembali memikirkan apa yang tadi disampaikan oleh sahabatnya Renita. Beberapa perkataan yang diucapkan perempuan itu, ada yang diyakini memang sering dilakukannya, karena untuk menyelamatkan dirinya. Kata-kata dari Rektor dan yayasan memang selalu seperti menuduh, dan memarahinya, dan itu sangat berpengaruh pada psikis nya. Untuk itu, dikala dia bimbang untuk memberikan sebuah keputusan, memang tanpa sadar dia sering meminta karyawan maupun dosen yang curhat padanya, untuk langsung bertanya pada pimpinan di tingkat puncak. Karena Sukekh meyakini sebagai orang Jawa, berlaku sebuah pepatah "dipangku, mati..". Namun Sukekh tidak melihat bagaimana latar belakang karakter orang yang dipangkunya.
"Hmm... memang beberapa pernyataan yang dikatakan Renita tadi benar adanya, tetapi aku masih memiliki rasa malu untuk mengakuinya. Tapi bagaimana Renita bisa mengetahui sebanyak itu, apakah perempuan itu mencari tahu, ataukah ada orang yang bercerita kepadanya." Sukekh berbicara pada dirinya sendiri.
"Jika mencari tahu, sepertinya tidak. Memang aku akui sih, sejak masih menjabat, bu Renita memang berlaku baik, dan sangat humble pada siapapun. Tidak pandang status pekerjaan, jabatan, dan sikap ringan tangan suka membantu, memang menjadi nilai plus bagi perempuan itu. Apalagi pada dasarnya, orang-orang di UP masih sangat memiliki sikap-sikap kekeluargaan." kembali Sukekh berbicara.
Tatapan mata laki-laki itu terlihat kosong. Di satu sisi, laki-laki itu membutuhkan posisi jabatannya saat ini, karena setelah istrinya meninggal, dia memang membutuhkan dukungan finansial mengingat dua putrinya sudah menginjak masa remaja, Tuntutan penampilan, dan biaya lainnya sangat menguras dompet dan kantungnya. Sedangkan untuk saat ini, tunjangan pejabat sudah naik dua kali lipat, dibandingkan pada masa Renita memangku jabatan. Sehingga terkadang merasa sayang jika kehilangan jabatan, sangat mempengaruhinya untuk mengambil keputusan tegas dan keras.
"Apa aku mengalir saja, mengikuti arus. Tapi memang benar apa yang dikatakan Renita, aku menjadi pejabat tanpa adanya pengikut yang merasa terpenuhi kebutuhannya karenaku, sama saja aku tidak mengejar Hablum Minallah. Akherat lebih kekal, tapi aku juga tidak bisa menghadapi dunia sendiri untuk saat ini.." pikiran bertentangan berkelebat dalam pikiran Sukekh,
"Ya Allah bimbing aku ya Allah.. tunjukkan jalan lurus bagiku. Aku tidak bisa seperti Renita yang cepals ceplos seperti itu, aku lebih suka bertindak dingin, dan berusaha untuk melakukan negosiasi dengan caraku." tiba-tiba Sukekh teringat dengan sang Pemberi Hidup, dan sedikit ketenangan mengalir dalam dirinya.
"Aku harus fokus pada diriku sendiri, dan perlahan aku akan mendengarkan dan melakukan apa yang tadi disampaikan oleh Renita. Bagaimanapun Renita adalah seniorku, tidak mungkin perempuan itu akan menjerumuskanku. Aku yakin.. sekarang aku harus berkonsentrasi untuk menyelesaikan studiku, disertasiku sudah cukup lama terbengkalai, Saatnya aku harus menyelesaikan semua satu demi satu,," akhirnya Sukekh menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
*********
Malam Hari
Renita mengabaikan pesan dalam whattapps yang tadi dikirimkan oleh mbak Risma karyawan BAUK, yang karena tadi Renita tidak hadir dalam rapat, ternyata rapat akan diulang lagi Selasa pukul dua siang. Tapi baru beberapa saat, sambil berbaring Renita tiba-tiba mendengar ada notifikasi pesan chat yang dikirimkan via whattapps kembali. Perempuan itu melihat ke layar ponsel, dan terlihat nama pak Adi Wakil Rektor I UP mengirimkan pesan kepadanya.
"Jeng..... Semoga sehat slalu, Jeng saya dibantu ngajari temen2 pengadaan hibah nggih, besuk pukul 14.00 saget rawuh nggih, nuwun." Renita menghela nafas ketika membaca pesan yang dikirimkan Wakil Rektor I untuknya,
Renita mengingat kembali, ketika mereka masih terlibat dalam pekerjaan yang sama, antar tim yang sering melakukan koordinasi. Akhirnya karena memandang hubungan atasan dan bawahan, dan juga hubungan kedekatan emosional, akhirnya Renita membalas pesan tersebut, dan berniat untuk menghadiri rapat meskipun sudah memutuskan untuk tidak banyak berbicara, jika tidak diminta untuk berbicara.
"Inshaa Allah, tapi kalau dana diatas 200 juta, tidak bisa direkayasa pak untuk pengadaannya. karena harus publikasi untuk menyampaikan undangan lelang." kata-kata awal disampaikan Renita untuk memberikan rambu-rambu pengadaan.
Tidak mau memikirkan kata-kata yang dikirimkannya pada WR I, Renita kemudian masuk ke internet dan melakukan pencarian tentang Perpres Nomor 12 Tahun 2021, yaitu peraturan pemerintah yang mengatur tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. Setelah berhasil melakukan download, Renita membuka-buka file dan menekan Ctrl F untuk mencari kata-kata tender. Dengan jelas dimuat pada pasal 1 ayat 40, dikatakan bahwa pengadaan barang diatas 200 juta rupiah, harus dilakukan proses tender.
"Ngapain juga aku baca-baca Perpres No 21, kok seperti orang ga ada kerjaan.." akhirnya Renita menutup kembali file yang sudah dibukanya. Setelah mematikan laptopnya kembali, Renita kemudian berangkat tidur.
__ADS_1
*********
Keesokan Harinya
Renita seperti hari-hari biasanya, jam 06.45 menit sudah berangkat untuk meninggalkan rumah, karena ada kelas jam tujuh pagi. Hujan tampak turun dan terlihat mulai deras, namun karena jika tidak ada keperluan penting, Renita pantang untuk tidak mengosongkan kelas, akhirnya perempuan itu berangkat juga menuju ke kampus.
"Hmm.. alamat macet ini tadi.. jika hujan hampir semua yang ada mobil, mengeluarkan mobilnya. Perjalanan yang biasanya hanya sepuluh menit, bisa berubah menjadi setengah jam waktu perjalanan." sambil mulai menyalakan mobil, Renita bergumam sendiri.
Perempuan itu mengambil nafas panjang, dan karena merasa sudah menjadi kewajibannya, perlahan Renita mulai menjalankan mobil dan menerobos hujan. Ketika sudah sampai di dekat lapangan, Renita tersenyum kecut melihat banyaknya antrian mobil yang berhenti sampai di jalan menuju ke arah lapangan, padahal jarak dengan lampu merah terdekat sekitar 700 meter.
"Kalau aku menunggu mobil ini jalan, dan kemacetan terurai, aku pasti akan terlambat lebih dari 30 menit. Aku harus mencari jalan lain, agar tidak terjebat macet." melihat kondisi jalan, Renita akhinya memutuskan untuk mencari jalan lain. Meskipun sama-sama akan terlambat sampai di kampus, namun lewat sisi sebelah timur masih bisa menghemat sedikit waktu perjalanan.
Sesuai dengan yang diperkirakan, hampir setengah jam perjalanan, akhirnya Renita bisa sampai di kampus dengan selamat. Karena masih menggunakan sandal, akhirnya Renita mengenakan sepatu di dalam mobil, dan menggunakan payung perempuan itu bergegas menuju ke gedung C. Renita langsung masuk ke ruang kelas 204, karena sudah terlambat untuk jam mata kuliahnya.
"Assalamu alaikum... selamat pagi.." Renita mengucapkan salam, sambil mengeluarkan laptop dari dalam tasnya.
__ADS_1
"Wa alaikun salam, selamat pagi bu.." Renita tersenyum mendengar jawaban salam dari mahasiswanya,. dan hatinya merasa terharu. Jadwal jam tujuh pagi, dalam keadaan hujan deras, namun hampir semua mahasiswa sudah datang memenuhi ruangan kelasnya.
**********