
Malam hari, Renita membuka grup whattsapps tentang penelitian dana LPDP yang diperolehnya bersama dengan timnya, yaitu Noncy dan Kiki. Karena mereka sudah berada di bulan Oktober, padahal satu bulan lagi mereka sudah berada di bulan Nopember, mereka harus segera melakukan finalisasi laporan pertanggung jawaban. Beberapa luaran penelitian sudah mereka hasilkan, namun untuk luaran utama malah belum ada kabar sampai sekarang dari publisher.
"Nyah Renita.., tolong semua bukti bayar besok semua sudah dibawa ya. Bu Noncy juga, kita akan lakukan pencocokan." terlihat Kiki menulis pesan di grup.
"Siap.. jika tidak ada, semua soft file hasil scan kuitansi sudah aku kirimkan ya ke grup wa. Jadi.. aku lumayan aman deh.." Renita menanggapi pesan yang dikirimkan oleh Kiki itu.
"Aku sudah siap.. besok tinggal membawanya. Nota kompor kan, sama penyewaan LCD Projector, kamera, banner, dan semua perlengkapan pengadaan forum grup discussion.. Aman, tinggal angkat saja besok. by the way mau jam berapa kita besok..?" Noncy dengan semangat juga menanggapi Renita.
"Hmm... jangan hanya bilang siap, siap makkk... Kita butuh bukti.., bukan butuh janji.. He .. he.. he.." Renita menimpali.
"Jangan khawatir Nyah... I.m ready pokoknya..., dan yang penting kita akan ngopi besokk... Aku juga mau scan juga ah, jadi jika besok ketinggalan, kan sudah ada soft filenya.." ternyata ucapan Renita memberikan ide pada Noncy.
"Hadeh.. rusak.., rusak.. malah ditiru, tidak mau ada plagiarism aku..." dengan emoticon tertawa ngakak, Renita menanggapi perkataan Noncy.
"Amaan nyah, karena plagiarism nya, plagiarism syari'ah.. Jadi Inshaa Allah no tipu-tipu, dan dijamin Inshaa Allah aman dunia dan akhirat. Pokoknya besok begitu restaurant samping UP buka jam sebelas siang, aku cuzz masuk ke sana. Meskipun mau nungguin mbaknya ngepel atau bersih-bersih, pokoknya aku jabanin deh.." ucap Noncy ngakak.
Malam semakin larut, tetapi yang tadi mereka bertiga saling kirim pesan dan saling meledek, rupanya tinggal dua orang yaitu Renita dan Noncy. Sedangkan Kiki mungkin sudah terlelap ke tempat tidur, karena sudah tidak ada lagi respon dari perempuan itu. Sejak tadi hanya Renita dan Noncy yang saling berkirim pesan, saling mengejek. Tetapi di luar itu, Renita dan Noncy memiliki hubungan yang sangat dekat. Jadi ejekan dan celoteh mereka akan lewat telinga kiri untuk melewati telinga kanan, dan akhirnya menguap.
"Yoiiii... aku percaya makk.. Ini tadi bu Kiki kemana, kok jadi anteng Tidur apa.." merasa hanya mereka berdua yang saling berbalas chat, Renita menanyakan keberadaan bu Kiki.
__ADS_1
"Iya nyah.. paling tidur. Karena hanya nulis satu kalimat, terkirim terus ditinggal tidur.." Noncy menanggapi.
Renita melihat jam, ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih. Perempuan itu terkejut, kemudian melihat ke arah ranjang, dan ternyata suami Renita sudah tidur terlebih dahulu.
"Makk... ternyata sudah jam sepuluh lebih.. tidur saja yukk. besok kita lanjut lagi, ketemu langsung tidak via whatsapps." melihat jam yang semakin larut, akhirnya mengajak mereka untuk segera istirahat.
"Okay.. aku juga mengantuk.." akhirnya Noncy menyetujui.
Renita segera menyimpan ponselnya, dan karena melihat baterai di bawah dua puluh persen, akhirnya Renita memasang pemasang daya. Setelah memastikan penyambung daya terpasang, akhirnya Renita segera membaringkan tubuhnya di samping suaminya. Perempuan itu segera mengucapkan doa, bacaan surat-surat pendek, dan akhirnya mulai memejamkan matanya.
**********
Keesokan harinya
"Mau kemana Momm... masak aku datang, mommy malah bergegas pulang..?" Hapsari rekan satu ruang kerjanya, bertanya pada perempuan itu.
"Aku tidak pulang sayang, tapi mau pindah kantor. Mau menyelesaikan masalah penelitian, melakukan pengecekan luaran yang belum tuntas. Atau mau ikut join di restaurant sebelah kampus.." Renita menawari Hapsari.
"Oh tidak saja Momm.. silakan dilanjut pekerjaannya. Aku mau menyelesaikan pekerjaan yang lain.." Hapsari membuat alasan.
__ADS_1
Renita tersenyum, kemudian dia berjalan keluar dari ruang kerja dan langsung menuju ke lantai satu untuk melakukan finger print. Karena Renita memang merasa malas, jika harus kembali lagi ke kampus, setelah keluar dari lingkungan kampus. Sebenarnya bukan hanya karena faktor malas, tapi memang Renita sedikit mengurangi intensitas keberadaannya di kampus, untuk netralisir energi.
Baru saja beberapa langkah Renita turun dari lantai satu dan melakukan finger print, terlihat mbak Inda pegawai administrasi prodi Pendidikan Sejarah yang baru saja dari toilet mencegatnya di depan gedung perkantoran prodi itu. Renita tersenyum menghampiri perempuan itu..
"Sehat bu Renita..?" sapa mbak Inda.
"Alhamdulillah mbak Inda.. Allah masih melimpahkan karunia dan nikmat sehat untukku dan keluarga mbak.." Renita menjawab sapaan mbak Inda dengan tidak kalah ramahnya.
"Syukurlah bu.. pokoknya kami itu kalau mendengar bu Renita itu sakit, ya Allah pikiran kami kemana-mana, tidak tega melihatnya. Seperti waktu di hari Senin itu bu.. sampai rumah aku masih terbayang kejadiannya. Aku sampai tidak bisa tidur bu.. bagaimana bu Renita merasakan sakitnya.." mbak Inda malah menyinggung ketika Renita mengalami sakit di kampus.
"Jangan diulangi lagi mbak Renita.., please... Aku jujur mbak malu bener.. mesti banyak orang ya, yang akan mencemooh aku, karena aku un control waktu itu di musholla." Renita tersenyum kecut, mengingat ketika dirinya kehilangan kesadaran di musholla, dan tanpa sadar menyebut nama-nama orang yang terindikasi melakukan kejahatan terhadapnya.
"Tidak perlu malu bu,.. dan tidak ada yang mengejek atau meremehkan bu Renita. Kita malah semakin trenyuh melihatnya, dan ternyata ada juga orang yang hanya untuk segelintir keinginan, sampai membuat bu Renita menjadi sakit seperti itu. Banyak yang menangis melihat bu Renita waktu itu bu, pokoknya pesan dari kami bu, kaum Gedhibal.. bu Renita harus sabar dan tawakal menghadapi ujian ini. Semoga yang merasa melakukannya, segera mendapatkan balasan yang setimpal." Mbak Inda mendoakan Renita.
"Terima kasih ya mbak doanya, tapi ga usah pakai embel-embel mendoakan yang tidak baik pada seseorang ya mbak.. " ucap Renita sambil tersenyum.
"Ya itu kalau bu Renita, kalau kami ya tetap mendoakan jelek untuk seseorang.." sahut Inda tidak mau kalah.
"Okay.. okay.. aku tidak mau lama-lama disini mbak, harus segera meninggalkan tempat ini dan bergabung di restoran di samping kampus." menyadari jika Noncy dan Kiki sudah menunggunya, akhirnya Renita sekalian pamitan.
__ADS_1
"Oh iya bu.. silakan." mbak Inda kemudian juga segera masuk ke dalam ruang kerjanya.
***********