
Keesokan Harinya
Renita hanya memasukkan informasi dari mahasiswa masuk ke telinga kiri dan telinga kanan, perempuan tidak begitu mempedulikan lagi urusan UP. Sebisa mungkin perempuan itu hanya memberikan wawasan dan upaya-upaya yang harus dilakukan oleh mahasiswa dalam menghadapi dosen, karena masing-masing memiliki karakter dan watak yang berbeda-beda. Renita tidak mau menjadi penengah yang malah akhirnya memecah belah dosen.
"Mah.. mau ikut jalan-jaln tidak dekat candi Sambisari. Di dekat candi ada soto bathok lho.., tempe gorengnya pakai tempe bungkus daun." Andri mengajak istrinya jalan-jalan, biar tidak hanya berada di dalam kamar saja.
"Ya yah.. tunggu sebentar. Tapi nanti jam sepuluh dah sampai di hotel lagi ya, karena jam sebelas mamah ada jadwal nguji ujian skripsi tiga mahasiswa." Renita segera bersiap, dan Andri menunggunya sambil melihat acara televisi. Mereka berdua sebelumnya memang tidak atau jarang melihat televisi, karena terlalu sibuk dengan urusan gadget di tangannya.
Tidak lama kemudian, pasangan suami istri segera berangkat keluar kamar. Ketika mereka sampai di anak tangga, terlihat Vian putra sulung mereka baru datang. Vian memang memiliki kerjaan, bergabung dengan sutradara untuk menyiapkan back ground lokasi shooting sebagai Artistic Team. Sejak bergabung dengan Artistic Team, anak itu memang sudah tidak pernah meminta uang lagi pada Renita. Hanya Andri, kadang-kadang memberinya namun itupun dalam jumlah yang tidak seberapa.
"Baru datang kak, dari mana kamu..?" Renita bertanya pada anak sulungnya itu.
"Dari tempat shooting mah, di daerah Purwanggan. Shooting dilakukan pagi ini, maka Vian dan teman-teman sampai pagi menyiapkannya." Vian menanggapi pertanyaan Renita,
"kerja boleh.., tapi ingat tugas utamamu adalah belajar, dan menyelesaikan studi. Urusan bekerja itu urusan nanti, dan itu pekerjaan mamah dan ayah, Jangan ngawur untuk mengatur waktu.." terdengar suara Renita menasehati putra sulungnya.
"Ya mah..." sahut Vian singkat. Anak itu kemudian berjalan meninggalkan Renita dan Andri untuk masuk ke kamar dan tidur sampai siang.
__ADS_1
Andri hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkat putra sulungnya itu, Laki-laki itu segera mengajak Renita untuk segera turun ke bawah. Tidak lama kemudian, pasangan suami istri sudah berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kampung. Banyaknya pohon-pohon yang tumbuh besar di kampung itu, menambah kesejukan dan keasrian pemandangan yang menenangkan pikiran.
"Itu lho yah rumah mas Dito.. Kepala BAAK yang sering mamah mintai tolong.. Tapi saat ini sedang direnovasi menjadi dua lantai. Yah.. anaknya empat soale, sehingga membutuhkan paling tidak lima kamar tidur." Renita menunjukan komplek dan rumah yang berada paling ujung.
"Besar juga ya mah.." Andri meresponnya sambil mengamati bangunan tersebut,
"Iya yah... sebelah baratnya masih ada tanah kosong, jadi bisa untuk menanam sayuran atau pohon-pohon lainnya. Mas Dito untung, karena mendapatkan tanah yang ada di paling ujung. Jadi masih ada tanah sisa, yang dapat mereka beli.." Renita menanggapi,
Pasangan suami istri itu terus melanjutkan perjalanan lurus ke depan, dan tidak lama kemudian mereka sampai di pertigaan, dan mengambil langkah untuk belok ke kanan. Di depan mereka tersaji pemandangan candi Sambisari yang dengan gagah berdiri, terlihat sangat artistik dipandang oleh mata. Sebelum mereka sampai di candi, di sebelah kiri ada soto Bathok, dan mereka masuk ke warung tersebut untuk makan pagi.
*******
Pada pukul tiga lebih tiga puluh menit pagi, alarm di ponsel Renita berbunyi. Hal itu menandakan jika perempuan harus segera melakukan tirakat mandi sebelum fajar, dan dilanjutkan untuk melakukan sholat tahajud, membaca Al-Qur'an, sholat fajar, sholat shubuh dan diakhiri dengan dzikir pagi. Jadi ketika orang-orang masih tidur terlelap, Renita sudah melakukan kebiasaan itu, Namun hal itu juga belum menjadi jalan keluar untuk menyembuhkan kejadian mistis yang sering dialaminya saat ini.
"Subhanallahi Wabihamdihi..." bibir Renita terus mengucap kalimat dzikir yang memiliki arti Mahasuci Allah dan pujian untuk-Nya. Mata perempuan itu terpejam, namun tiba-tiba gadis itu seperti melihat dua orang yang menatapnya dengan pandangan sedih. Salah satunya seorang gadis yang mengenakan pakaian celana jins ketat, yang sedang duduk berjongkok dengan menutup mukanya, tampak bersedih dan menatap Renita. Tetapi perempuan itu tidak berbicara apa-apa.
"Astaghfirullahaladzim..." Renita menambah dzikir asma Allah yang memiliki arti Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung.
__ADS_1
Dzikir itu terus dilantunkan oleh Renita, dan dalam pandangan Renita, disamping gadis yang tampak bersedih dengan menatap Renita, berdiri makhluk yang menggunakan jubah putih dengan rambut panjang tergerai ke bawah. Sama dengan yang dilakukan oleh perempuan yang berjongkok, makhluk itu tidak melakukan apa-apa hanya menatap Renita, seperti dengan pandangan ingin tahu, namun kemudian perempuan itu masuk ke dalam kamar. Tidak lama kemudian, perempuan berambut panjang yang menyerupai mbak Kunti itu, keluar lagi dari dalam kamar, dan memandang lagi Renita dengan sorot mata yang penuh kesedihan dan pertanyaan,
Merasa melihat penampakan itu semakin jelas, spontan Renita membuka matanya perlahan dan mengatur pernafasannya agar kembali teratur. perempuan itu melihat ke belakang, dan syukurlah suaminya ANdri sudah terbangun.
"Yah.. bangun yah.. sholat shubuh.." ucap Renita membangunkan suaminya.
"Iya mah.., ayah sebenarnya juga sudah bangun sejak tadi." Andri segera beranjak bangun dari tempat tidurnya, kemudian menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri,
Renita segera melipat mukena dan merapikan Al-Qur'an yang tadi sempat dibacanya beberapa ayat beserta artinya. Tidak lama kemudian, perempuan itu bersiap-siap untuk pergi mencari sarapan pagi untuk kedua putra mereka. Karena selain untuk sarapan, Zidan juga membawa bekal makan siang untuk dibawa ke sekolah. Selama magang, Zidan kesulitan untuk mencari warung untuk makan siang, karena pabrik tempatnya melakukan kegiatan magang tidak memiliki fasilitas food court maupun cafetaria.
"Sudah siap cari sarapan pagi mah.., tunggu ayah sebentar ya. Ayah mau mengerjakan sholat dulu.." melihat Renita sudah siap, Andri meminta istrinya untuk menunggunya sebentar.
"Ya yah.. mamah tunggu.." ucap Renita. Perempuan itu kemudian mengambil ponsel, dan tidak lama kemudian sudah menggulir gadget tersebut untuk mengecek pesan-pesan yang masuk via aplikasi whattaspps.
Tidak butuh lama, akhirnya ANdri sudah selesai mengerjakan sholat shubuh. Keduanya kemudian berangkat untuk mencari sarapan dengan mengenakan sepeda motor.
*********
__ADS_1