Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 57 Pindah Sementara


__ADS_3

Renita tersenyum malu ketika tersadar, terlihat Cahyono masih duduk di sebelah kirinya, sedangkan Suryo duduk di sebelah kanannya. Tampak kelelahan terpancar pada diri laki-laki itu. Andri mengambil gelas air minum, kemudian membantu istrinya untuk minum teh panas yang sudah disiapkan putra sulung Suryo.


"Aku betul-betul tidak menyangka mbak Ren.., jika jin yang dikirimakan ke tubuh mbak Ren sedemikian kuatnya. Tadi aku kira hanya biasa-biasa saja, ternyata sebegitu besar kekuatannya." Suryo berbicara pelan.


"Ya begitulah mas.. aku sudah tidak bisa merasakannya. Jika hanya sakit fisik, sepertt ditusuk-tusuk, rasa pegal, kemudian send--sendi mengalami nyeri, aku masih bisa menahan mas. Tapi kalau sudah menguasai kesadaran diri, aku sangat sulit untuk mengendalikannya mas. Dan rasa nyeri atau sakit itu sering banget menyerang tiba-tiba, ketika aku berada di tempat yang agak wingit.." Renita menceritakan kembali apa yang dialaminya pada Suryo.


"Terus pertahanan yang bisa dilakukan istri saya apa mas.., karena yah.. karena tuntutan pekerjaan, saya harus sering ke luar kota, dan terkadang harus menginap. Dan.. seringnya, ketika saya berada di luar kota, istri saya ini sering kambuh, saya jadi panik, ga bisa konsentrasi dan fokus pada kerjaan." Andri menyela pembicaraan.


"Kalau boleh saya sarankan pak, untuk waktu dekat ini, sambil menunggu pak kiyai sudah bisa bertemu dengan mbak Ren.. mungkin mbak Renita bisa melakukan tetirah dulu. Tetirah itu lelaku mas, dimana untuk mengelabui pola kiriman santet dari dukun, kita acak dulu polanya. Mbak Renita untuk sementara harus meninggalkan aktivitas rutinitas dulu di kampus terutama, kemudian juga tidak tinggal dulu dari rumah.." Suryo tiba-tiba mengusulkan hal yang baru kali ini pasangan suami istri itu dengar.


Renita terdiam sebentar, kemudian berpandangan dengan suaminya. Memiliki anak yang masih usia sekolah, memang terasa berat bagi Renita untuk meninggalkan putranya. Apalagi saat ini, Zidan sedang menjalani kegiatan magang dengan lokasi yang cukup jauh dari lokasi rumahnya.


"Bagaimana yah..?" Renita bertanya pelan pada suaminya.


"Kalau ayah itu tidak masalah, karena mamah sendiri yang menjalaninya. Nanti kita sekalian pergi bersama meninggalkan rumah, atau jika kebetulan ayah pas ada kerjaan, nanti bisa gantian sama kakak untuk menjaga mamah." Andri menyerahkan keputusan itu pada istrinya.


"Atau gini saja mbak Ren, mbak Renita bisa tetirah di rumah ini, sambil setiap hari aku bantu. Kebetulan kerjaan kami kan jualan di pasar, nanti jika pagi biar istriku yang di rumah, aku yang menggantikan jualan di pasar. Jadi mbak Ren ada temannya di rumah. Benar tidak apa-apa mbak.." tiba-tiba tidak diduga, Suryo menawarkan agar Renita berada di rumahnya.

__ADS_1


Andri dan Renita terdiam tidak menanggapi perkataan Suryo, mereka tenggelam dalam pikirannya masing-maisng.


"Mas Andri.. tidak perlu berpikiran yang tidak-tidak. Jujur mas.. saya sudah menganggap keluarga dari pak Hasan sebagai anggota keluarga sendiri, istri dan anak-anak saya serta kedua orang tua saya paham akan hal itu. Jadi, tidak perlu dibuah rikuh atau bagaimana, apapun yang terjadi pada keluarga pak hasan sekeluarga juga menjadi tanggung jawab saya." akhirnya Suryo mencoba klarifikasi.


"Iya bu.., pak.. atau bisa juga di tempat saya, kebetulan istri saya full di rumah mengasuh anak-anak. Jadi bu Renita ada temannya." sahut Cahyono menambahkan,


"Nanti kami pikirkan dulu mas, tapi untuk hari Senin gimana jika saya tetap ke kampus mas. Karena ada undangan dari yayasan, semua pegawai diwajibkan untuk hadir, Yang tidak hadir, akan dipanggil untuk menghadap dan diberikan pembinaan tersendiri." Renita masih terpikirkan keadaan kerjaan.


"Tidak apa-apa mas, besok Senin di kampus, bu Renita akan saya dampingi saja." akhirnya Cahyono menyahut.


Akhirnya diputuskan, untuk sementara waktu sambil menunggu penanganan dari Kiyai, Renita memutuskan untuk sementara pergi dulu meninggalkan rumah.


*********


"Tidak perlu bawa pakaian banyak-banyak saja mah.., nanti kita bisa laundry pakaian yang kotor. jadi kita tidak seperti orang pindahan.." Andri berbicara pada istrinya. Laki-laki itu sedang menggulung kabel dan connector, berjaga-jaga jika nanti dibutuhkan di dalam hotel.


"Iya yah,, ini juga hanya beberapa saja kok. Yang mamah perbanyak pakaian dalam, karena seperti ayah juga tahu, sewaktu-waktu mamah sering banjir darah seperti mengalami pendarahan." dengan suara pelan, Renita menanggapi perkataan suaminya.

__ADS_1


"Untuk pakaian anak-anak juga sebagian sudah mamah siapkan, nanti tinggal kita beritahu mereka agar menyusul ke hotel, Kita kirimkan share location ke mereka.." Renita menambahkan.


Andri kemudian turun ke lantai bawah untuk menyiapkan perlengkapan yang lain, dan sebagian dicicilnya untuk dibawa masuk ke mobil. Tidak lama kemudian, semua barang yang akan dibawa sudah siap untuk dimasukkan ke dalam mobil. Renita turun untuk memberi tahu suaminya.


"Yah.. semua sudah mamah siapkan yah.. Kita tinggal berangkat saja.." ucap Renita sambil membuka kulkas untuk melihat apakah daging, ikan sudah dalam keadaan aman di dalam freezer. Untungnya sudah beberapa waktu, Renita tidak memasak, sehingga kulkas bagian bawah dalam keadaan kosong.


"Okay.. ayah bawa turun semuanya. Mamah tunggu ayah saja di dalam mobil, dan jangan lupa, anak-anak dikirimi pesan untuk menyusul ke Sambisari." Andri segera kembali ke lantai atas.


Renita kemudian mengambil sepatu running Nike, kemudian mengenakannya. Merasa di tempat baru, perempuan itu berpikir untuk mengenakan sesuatu yang simple dan tidak merepotkan. Tetapi sedikitpun, Renita tidak merasa tertekan, malah mensikapi kepergiannya kali ini dalam rangka healing, refreshing.


Tidak lama kemudian, Andri sudah membawa turun semua tas yang sudah disiapkan oleh Renita. tidak lupa, snack dan camilan yang masih ada di rumah juga dibawa serta ke hotel. Merasa sudah tidak ada lagi yang tertinggal, pasangan suami istri itu kemudian melangkahkan kaki menuju mobil.


"Sudah dipastikan mah.. jika tidak ada lagi yang tertinggal." Andri menyalakan mobil, dan sekali lagi mengingatkan istrinya.


"Insha Allah semuanya sudah yah.. Jika nanti ada yang tertinggal, nanti tinggal pesan sama Zidan dan Vian. Mereka kan sore hari akan menuju ke hotel." Renita memastikan jika semua sudah terbawa.


"Baiklah, kita berangkat sekarang.  Bismillahirrahmanirrahim.." setelah mengucap kalimat Basmallah, Andri segera menjalankan mobil keluar dari dalam perumahan. Untung saat ini tidak terlihat seorangpun di perunahan, sehingga mereka tidak harus menjelaskan kepergian mereka pada tetangganya.

__ADS_1


***********


__ADS_2