Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 47 Teman Bicara


__ADS_3

Satu Minggu sebelum 1 Muharram


Hari Rabu, Renita seperti biasa berangkat ke kantor untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang pegawai UP, dimana ada kewajiban untuk berangkat ke kantor minimal tiga jam per hari. Hasrat untuk mengabdi penuh pada UP, perlahan luntur meskipun Renita tetap tunduk pada aturan. Kejadian demi kejadian yang menimpanya, meskipun terjadi secara mistis dan tidak bisa dibuktikan, membuat perempuan itu seperti mati rasa. Beberapa karyawan maupun dosen, yang sering memancing pembicaraan tentang keadaan UP saat ini, selalu dialihkannya dengan sangat cantik.


Pagi ini, beberapa pengalaman pribadi dalam keluarganya, yang di luar pemikiran akal sehat akan didiskusikan pada Cahyono. Karena beberapa kali, Renita seperti menangkap ada keganjilan dalam tubuhnya sendiri, dan bahkan juga pada putra pertamanya. Untuk meyakinkan, Renita mengatur janji ketemu dengan Cahyono, karena laki-laki muda itu dianggapnya lebih mengerti dunia itu, jika dibandingkan dengan dirinya, Akhirnya, Cahyono yang berjanji akan datang ke ruangan Renita, di gedung C lantai dua, tepatnya di ruang dosen.


"Assalamu alaikum.." terdengar suara laki-laki yang mengucap salam, Kebetulan saat ini hanya ada Renita dan Shuman yang berada di ruang dosen. Dengan Shuman, Renita sudah menganggap tidak akan terjadi masalah, karena anak muda itu sudah tahu apa yang terjadi pada Renita,


"Wa alaikum salam.. masuk pak Cahyo.." melihat jika Cahyono yang datang, Renita mempersilakan laki-laki itu untuk segera masuk ke dalam.


Cahyono segera masuk ke dalam ruangan, dan karena di depan meja Renita tidak terdapat kursi, Cahyono mengambil kursi yang ada di depan meja bu Yati. Laki-laki itu segera duduk di depan perempuan itu,


"Bagaimana bu Renita.. apakah dalam keadaan sehat..?" sambil tersenyum, Cahyono menyapa Renita.


"Alhamdulillah secara lahir sehat mas, untuk batin aku yakin mas Cahyo bisa menerkannya sendiri. Maaf ya mas, aku selalu merepotkan. Ada beberapa hal mas, sebenarnya yang jadi pertanyaan dalam hati, dan berusaha mencari tahu, tapi belum menemukan jawaban yang tepat." Renita memulai pembicaraan,

__ADS_1


"Apa itu bu, kalau  saya boleh tahu.." Cahyono menanggapi perkataan Renita.


Renita terdiam kemudian mengambil nafas dalam, dan mengeluarkannya kembali secara perlahan. Perempuan itu seperti menyiapkan kekuatan batinnya untuk menceritakan keraguan yang ada di hatinya.


"begini mas, yang pertama terkait dengan diriku sendiri mas. Nanti yang kedua terkait dengan anak sulungku Vian. Yang pertama mas, berkali-kali ketika aku melakukan rukiyah mandiri, ataupun rukiyah syari'i dengan ustadz, seperti ada dua jiwa yang saling bertentangan dalam tubuhku mas. Contoh misalkan ketika ustadz membacakan ayat-ayat rukiyah, ada jiwa yang membuat saya itu menepuk-nepuk bagian tubuh yang terasa nyeri, atau terasa ganjil Kemudian ustadz akan bilang, iya saya bersihkan. Kemudian di tempat yang aku tunjukkan itu, dido.ai dan akhirnya aku muntah mas. Terkadang juga, aku itu seperti bicara dengan jin yang ada dalam tubuhku, tanpa kehendakku." Renita menceritakan pengalaman mistis yang dihadapinya.


"Sebentar ibu.., ini saya coba panggil, ternyata sombong bu, ga mau merespon. Mungkin takut kalau saya keluarkan, Atau mungkin, itu jin yang pernah minta ijin ke saya, untuk masuk ke tubuh ibu, tapi saya belum menjawab boleh, tapi sepertinya jin itu sudah masuk. Coba bilang dicari Cahyono Grabag bu.." Renita kaget dengan jawaban Cahyono.


"Tidak mau mas, berkali-kali aku menyebut nama Mas Cahyo.. tetapi dia terus diam." Renita menanggapi.


"Iya bu sepertinya itu, tetapi dia jin baik bu, pada dasarnya tidak mengganggu. Tetapi nanti jika jin itu meminta syarat-syarat pada bu Renita jangan mau menuruti, nanti dia akan pergi dengan sendirinya. Mungkin jin itu kasihan dengan ibu, jadi mencoba menjembatani berkomunikasi dengan jin kiriman ke tubuh bu Renita." Cahyono akhirnya membuat tanggapan.


"Yang penting bu Renita keukeuh tidak menanggapinya, meskipun maksud dia baik untuk menjaga bu Renita, tetapi kita tidak boleh terbujuk dengan tipuan-tipuan jin. Mereka makhluk yang memang diciptakan lebih lemah dari manusia bu, sehingga mereka sering menunjukkan eksistensi dengan bekerja sama dengan manusia-manusia dhalim.": lanjut Cahyono.


"Kalau di Vian mas.. jadi Vian sering memberi tahu tempat dimana jin itu berada dalam tubuhku, Terkadang ketika ustadz tanya waktu habis rukiyah, Vian akan bicara di tubuh mamah ada ular, tadi bertemu dengan nenek berkonde, di tubuh ayah ada bapak-bapak tua bawa pedang.. Aku takut mas, itu akan menyakiti Vian, dan bisa berefek buruk pada psikhologisnya.." Renita kemudian menceritakan masalah yang kedua, yang sering dialami oleh Vian.

__ADS_1


"Memang ada khodam yang ikut mas Vian bu, tetapi sifatnya tidak mengganggu. Itu bisa berasal dari jin yang tidak bertuan, dan menyusup masuk ke tubuh mas Vian. Tetapi juga bisa merupakan jin nasab bu, saya takut keliru untuk menjelaskannya. Kalau teman saya, bisa tahu bu asal usul khodam yang masuk ke tubuh manusia.." Cahyono memberikan tanggapan.


Renita terdiam, kembali mengingat hal-hal ghaib yang sering dialami keluarganya. Tetapi perempuan itu terus mengucapkan syukur, karena meskipun kehidupan mereka sering diganggu dengan sihir, dengan jin kiriman, tetapi malah merekatkan hubungan dengan suami dan anak-anaknya. Bahkan ibadah juga semakin meningkat.


"Lha itu yang aku takut dan khawatirkan mas.. Siapa tahu suatu saat akan mengganggu anakky mas. Karena kalau saya saja, mungkin tidak masalah, sudah tua juga. Tapi kalau anak-anak saya mas, jangan sampai.." Renita kembali menanggapi.


"Tidak bu.. saya melihat mas Vian nya juga santai kok, seperti tidak terbebani. Sebenarnya sama saja bu, seperti yang tadi saya haturkan sama ibu. Jika nanti khodam itu meminta syarat tertentu, abaikan saja, Biasanya kalau dia sudah tidak kuat, akan keluar dengan sendirinya." kembali Cahyono mengingatkan.


"Hmm.., baiklah mas. Nanti akan saya coba ajak bicara Viannya. Kalau kapan itu, aku juga pernah bertanya pada anak itu, apakah dia takut. Jawabnya sih ga takut, katanya santai.. tetapi sebagai orang tua mas, terkadang aku malah terbawa pikiran yang tidak-tidak.." Renita kembali mengucapkan perasaannya.


"He.. he.. he.. manusiawi bu. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Inshaa Allah mas Vian ga pa pa kok... Ibu tenang saja, fokus kalau ibu akan sembuh, hanya menunggu waktu saja bu. Inshaa Allah yakin bu, 100% ibu akan pulih kembali, seperti tidak pernah sakit.." Cahyono menenangkan perasaan perempuan itu,


Mendengar perkataan Cahyono, Renita merasa sedikit tenang. Memang sebenarnya perempuan itu butuh untuk bicara, untuk berbagi tentang masalah yang dihadapinya. Tetapi Renita memang harus hati-hati, karena merasa khawatir akan salah memilih orang untuk diajak berbicara.


**********

__ADS_1


__ADS_2