Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 22 Hilangnya Penghalang


__ADS_3

Kepergian Prof. Dahlan secara mendadak, menimbulkan spekulasi di banyak kalangan. Sebagai tokoh yang banyak mengabdikan diri di bidang pendidikan baik di tingkat pusat, maupun daerah, simpati pada keluarga terus mengalir dan berdatangan. Semua menyampaikan rasa kehilangan atas kepergian mendadak, sosok laki-laki yang berwibawa tersebut. Meskipun bagi orang-orang dekat beliau, banyak hal terkait keburukan yang dimiliki almarhum, namun semua tertutup dengan kebaikan beliau.


"Aneh ya.. betul-betul aneh kepergian Prof. Dahlan.. Hari Jum.at itu beliau masih ke kampus, membimbing thesis mahasiswa, ternyata kemarin di hari Minggu beliau meninggal secara mendadak. Menurutmu bagaimana, betul-betul sakit jantung, atau ada sesuatu yang lain.." teman-teman seprofesi di UP, mulai banyak yang membicarakan kepergian prof. Dahlan di kantor.


"Menurutku sih bukan karena penyakit jantung.., ingat perkataan beliau tidak, ketika acara pembinaan pegawai di auditorium, beliau menyampaikan jika merasa dibuang dengan tidak hormat. Bahkan, para pegawai yang memiliki hubungan dekat dengan beliau, juga merasa takut untuk mendekat. Hal itu karena intimidasi yang diperoleh dari pihak yang merasa berkuasa di atas sana." pegawai yang lain mengomentari.


"Sama aku juga tidak yakin jika beliau meninggal karena penyakit jantung. Vonis penyakit itu, memang vonis yang mudah untuk dikeluarkan dokter, apalagi beliau sudah dinyatakan meninggal ketika sampai di rumah sakit. Karena.. tidak sengaja.." tiba-tiba Bu Kiki yang baru datang menimpali pembicaraan.


Semua yang sedang membicarakan Prof. Dahlan melihat ke arah suara, tampak bu kiki masuk dengan ditemani pak Wahyu. Selama Prof. Dahlan tidak menjabat, kedua orang itu memang yang selalu setia mendampingi beliau.


"Maksudnya apa bu Kiki, kami kok bingung dengan perkataan Bu Kiki." Endi menyahuti perkataan Bu Kiki.


Bu Kiki dan pak Wahyu berjalan mendekati beberapa orang yang sedang berkumpul itu, kemudian ikut duduk bergabung dengan mereka. Dengan tatapan kemarahan, akhirnya Bu Kiki berbicara..


"Aku kan dari tempat istrinya Prof., untuk membicarakan doa bersama kepergian Prof. Kita semua kan tahu, beliau itu kan dari Nadhatul Ulama. Tetapi istri dan keluarganya lebih ke Muhammadiyah, sehingga tidak ada acara lagi untuk doa bersama. Merasa kasihan dengan beliau, aku dan beberapa orang yang pernah dekat dengan Prof. Dahlan, ingin mengadakan khataman di rumahnya, dengan mendatangkan hafidz." Bu Kiki mulai menjelaskan maksud dari perkataanya,


"Setelah orang dari pondok pesantren kita ajak ke rumah istrinya Prof,.hafidz itu bertanya pada kita tentang penyebab meninggalnya Prof. Kata beliau, Prof. itu mau dibuat gila oleh seseorang, jadi terkesan seperti post power syndrome karena sudah tidak memiliki jabatan lagi. Karena beliau sedang lengah, nyawa beliau akhirnya yang pergi. Mneurutku sih, mending Prof. meninggal, daripada dibuat gila.." wajah Bu Kiki tiba-tiba sudah berurai air mata, ketika menceritakan hal itu.

__ADS_1


Semua yang mendengar cerita bu Kiki diam dan saling berpandangan. Mereka tidak kaget, karena sudah sejak lama di UP, perilaku klenik sudah sering banyak dilakukan. Bahkan ketika membangun gedung baru, di bawah pondasi diberi potongan kepala kerbau. Tetapi ada satu dari mereka yang tidak setuju dengan perkataan bu Kiki, karena merasa khawatir menimbulkan fitnah.


"Bu Kiki.. sudah ya, tidak perlu diceritakan hal ini pada orang lain. Cukup kita disini saja yang sudah terlanjur mendengarnya, agar tidak menjadi fitnah. Toh.., kita juga tidak bisa menunjukkan bukti bukan atas perkataan ini. AKu khawatir, jika hal ini terdengar oleh lawan Prof., ataupun orang yang tidak suka dengan kita, maka akan menimbulkan makna yang lain.." Rossi mencoba menghentikan perkataan Bu kiki.


"Iya bu Kiki.. sudah ceritanya. Cukup hanya kita saja yang tahu, apa yang dikatakan mbak Rossie benar adanya.." pak Wahyu ikut menguatkan perkataan Rossie.


*******


Seperti yang banyak diperbincangkan banyak orang, beberapa petinggi di UP terlihat memiliki muka cerah setelah kepergian Prof. Dahlan, Tampak terlihat, mereka seperti tidak lagi memiliki halangan untuk bertindak ke depan. Keberadaan orang-orang yang sudah dicap sebagai orangnya Dahlan, menjadi semakin menjadi bahan gunjingan di kantor. Akhirnya mereka memilih diam, tidak bersuara karena merasa risih dengan tuduhan yang tidak berdasar.


"Iya.. kita tinggal kotakkan saja orang-orangnya yang setia. Tidak perlu kita berikan jabatan untuk mereka, karena tidak ada manfaatnya buat kita.." Tommitius menyahuti. Wajah laki-laki yang sudah uzur itu terlihat bahagia, dan bersinar.


"Jangan terlalu keras bersuaranya, nanti jika ada yang mendengar pembicaraan kita, bisa multi tafsir." Andini mengingatkan agar obrolan mereka di ruang yayasan, tidak terdengar oleh orang yang lalu lalang di sekitar ruang itu. Karena ruang kerja mereka memang tidak dipasang peredam, sehingga jika berbicara sedikit keras saja, maka orang yang lewat di sampingnya akan mendengar pembicaraan tersebut.


"Santai saja bu Andini.. ibu kita Kartini kita yang selalu trengginas, seperti Srikandi dalam pewayangan. Kita kan tidak menyebut nama perorangan, dan bagi siapa yang berani turut campur dalam pembicaraan kita, tinggal kita kasuskan secara hukum." Yayak menimpali dengan suara keras.


"Ya sudah, jika omonganku sebagai orang tua tidak didengarkan.." akhirnya Andini memutuskan untuk diam. Bagi beberapa orang yang belum pernah mengenalnya secara dekat, Andini memang merupakan sosok perempuan tua yang masih cekatan, dan terlihat sangat fasih menjalankan agama. Perempuan tua itu sudah beberapa kali ke tanah suci, baik untuk menunaikan ibadah haji, maupun umroh. Namun, bagi yang kenal dekat dengannya, beliau tidak jauh lebih baik dari seorang koruptor, dan provokator.

__ADS_1


"Baik bu Andini.., bunda kita yang selalu cekatan dan sangat baik. Kita akan berhenti membicarakan kepergian Prof. Dahlan, agar ibunda kita ini hatinya senang.” Yayak menanggapi perkataan Andini.


Terlihat Tommitius Sahari tersenyum, dan Andini tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Tiba-tiba mbak Citra karyawan administrasi Yayasan datang mengetuk pintu, dan langsung mendorongnya ke arah dalam.


 “Ada apa mbak Citra..?” Yayak langsung bertanya pada perempuan muda itu.


“Mau memberitahukan pak, ada pak Gito pengembang yang selalu dipakai Lembaga, ingin ketemu dengan bapak.” Citra langsung memberi tahu maksud kedatangannya.


“Langsung diminta masuk saja jika begitu.., tidak perlu ada yang kita tutupi. Semuanya terbuka, siapapun bisa


langsung mengakses ke Yayasan, tidak ada yang perlu untuk disembunyikan.” Dengan suara lantang, Yayak merespon perkataan Citra.


“Baik pak.. langsung saya sampaikan pada pak Gito.” Tidak banyak bicara, Citra segera keluar dari ruang kerja, kemudian berjalan keluar untuk meminta pak Gito masuk.


Tidak lama kemudian, laki-laki paruh baya berperawakan tinggi, dengan ditemani dua anak muda berjalan masuk ke ruang kerja pengurus Yayasan.


************

__ADS_1


__ADS_2