
Renita, Cahyono dan Bayu berbicara tentang banyak hal, sampai hampir dua jam mereka berbincang. Meskipun mereka hanya terkesan berbincang sambil bersenda gurau, namun sebenarnya Cahyono seperti bisa membelah dirinya, laki-laki itu juga sempat mengancam makhluk astral yang ada di dalam tubuh Renita. Cahyono mengakui, jika kekuatan itu sangat besar, hingga dia dan kakaknya tidak memiliki kemampuan untuk memaksanya keluar.
"Bu Ren.. yang harus saya lakukan apa bu.. Saya ini tidak mau menjabat, malah dipaksa dan tidak mampu menolak, ketika harus duduk menggantikan bu Upik sebagai Divisi Career. Saya ini hanya ingin segera masuk S3 bu.., bukan menjabat seperti ini.." tiba-tiba Bayu, yang padahal belum pernah berkomunikasi sebelumnya dengan Renita, malah curhat pada perempuan itu.
"Lanjutkan mas.. sampai masa jabatan habis. Itu tanggung jawab, amanah.. akan beda ceritanya jika kita diberhentikan itu lain masalah. Tetapi jika kita sudah berada dalam posisi satu jabatan, dan kita sudah menanda tangani surat kesanggupan, pantang bagi kita untuk mundur dari jabatan tersebut mas. Karena itu yang akan diingat tentang diri kita oleh orang lain.." Renita memberikan pandangan.
"Sama kan dengan pendapatku pak Bayu.. saya saja pernah kirim wa sama atasan kok bu. Saya bilang sama pak Anind jika tidak puas dengan kinerja saya, silakan ajukan keberatan dan pengunduran diri saya ke Rektor. Saya akan ikhlas menerimanya, dan tidak akan protes. Tapi malah pak Anind bilang, tidak akan pernah.." Cahyono ikiut menceritakan kisahnya.
"Memang mas, menjabat di UP itu serba salah, seperti makan buah simalakama. Para karyawan menganggap pejabat itu mendapatkan tunjangan yang besar, padahal kalau kita selidik, semua juga tahu yang besar itu siapa. Yang besar itu hanya Rektorat, dan yayasan, bukan pejabat lain di bawah mereka. Tetapi para karyawan tidak mau tahu, dan terkadang mereka kemudian mengelompokkan diri mereka." Renita menanggapi.
"Benar bu.. saya saja mendengar dengan telinga saya sendiri bu. Karyawan bilang.. lha situ sudah mendapatkan tunjangan sana sini, menjabat lagi, take home pay jadi besar. Beda dengan kami yang hanya karyawan, hanya gedibal kelas paling bawah dalam kastanya.." Cahyono menambahkan.
"Tapi saya kan tidak menyanggupi bu.." Bayu masih berusaha membela diri,
"Mas Bayu.. dengan mas Bayu melakukan penanda tanganan Sertijab, itu namanya mas Bayu sudah sanggup mas. Harus diselesaikan amanahnya, kalau mau tahu mas.. Di awal kepemimpinan saya sebagai WR II dengan pak Umam, saya pernah kok diminta mundur dari jabatan saya, sampai diplenokan di rapat bersama semua pengurus, pembina dan pengawas. Tapi prinsip saya, jika disuruh mundur saya tidak mau, karena impact nya pada nama saya di masa depan. Namun.. kalau ada SK pemberhentian, saya akan ikhlas lillahi ta'ala," sambil tersenyum, Renita kembali menanggapi perkayaan Bayu.
"Benar pak Bayu.. dilanjutkan saja semampunya pak Bayu. Sebagai temanku di unit kerja.." Cahyono ikut memperkuat perkataan Renita.
__ADS_1
Bayu hanya tersenyum kecut, tampak jelas kekecewaan terlintas di wajah laki-laki muda itu. Masa depannya masih panjang, dan masih ingin berkarir dengan meningkatkan jenjang studi S3. Namun dengan mengemban amanah jabatan, akhirnya dia harus mengalah.
Tidak terasa ketiga orang itu mengobrol sampai jam dua siang lebih, karena masih banyak urusan, akhirnya Cahyono mengajak Bayu untuk berpamitan.
"Bu Renita.. syukur alhamdulillah bu Renita bisa kembali dan sampai di rumah dalam keadaan sehat. Jika ada apa-apa hubungan saya saja ga pa pa bu, tadi saya juga sampaikan pada bapak. Ternyata bapak itu meskipun tidak di Jogja, selalu memantau keadaan bu Renita.." Cahyono akhirnya pamitan.
"Iya mas.. terima kasih ya atas bantuannya. Dan maaf yang, hanya dianggurkan ini tadi, tidak dilayani dengan baik." sambil tersenyum malu, Renita memberikan tanggapan.
"Tidak bu.. kami pamit ya. Assalamu alaikum." sahut Cahyono. AKhirnya kedua laki-laki muda itu segera naik ke atas motor, kemudian segera menjalankan motor mereka.
Sore hari Vian berpamitan untuk pergi ke tempat budenya, sedangkan Zidan juga minta ijin untuk keluar rumah. Tinggallah Renita di rumah sendiri. Karena merasa, tadi Cahyono sudah datang ke rumah, Renita berusaha untuk mengurangi rasa takutnya, dengan menenangkan dirinya. Seperti biasa, menjelang waktu Maghrib, Renita membaca dzikir sore dengan menyetel you tube Muzammil Hasballah, selama tiga puluh menit lebih sedikit.
Baru saja, Renita melipat mukena setelah selesai dzikir sore dan dilanjutkan sholat Maghrib, perempuan itu mendengar suara pintu diketuk. Karena merasa hanya di rumah sendiri, Renita mengabaikan ketukan di pintu, apalagi saat ini Renita sedang berada di kamar lantai atas. Tidak lama berselang, ponsel Renita berbunyi, dan terlihat Noncy melakukan panggilan masuk.
"Assalamu alaikum, ada apa mak.." Renita langsung menyapa teman baiknya itu
'Wa alaikum salam, aku ada di bawah dengan mbak Is.." sahut Noncy.
__ADS_1
"Okay tunggu sebentar, aku akan ganti baju terlebih dahulu.." Renita kemudian menarik bra, karena dia terbiasa tidak mengenakan bra ketika hanya berada di rumah. Setelah mengenakannya, Renita segera lari dan turun dari lantai dua. Melihat kunci pintu ada di atas meja, Renita bergegas mengambilnya dan kemudian digunakan untuk membuka pintu dari dalam, Tetapi beberapa kali putaran, kunci itu tetap tidak bisa digunakan untuk membuka pintu tersebut.
"Tunggu mak.. kuncinya ga bisa untuk membuka pintu." Renita mencoba lagi, namun pintu tetap tidak mau terbuka. Tiba-tiba Renita mengingat pintu dapur..
"Kalian masuk via dapur saja ya, aku ga bisa membuka pintu depan." Renita segera memberi tahu Noncy dan Wati untuk berpindah menuju garasi. Pintu arah dapur memang langsung memiliki akses ke garasi yang ada di samping rumah. Hanya dengan sekali putar, pintu garasi langsung terbuka. Noncy dan Wati segera masuk ke dalam,
Begitu masuk ke ruang tamu, Noncy langsung menuju ke arah pintu depan. Perempuan itu memutar anak kunci, dan pintu langsung terbuka.
"Lha ini bisa Nyah.. tadi kenapa dirimu ga bisa..?" tanya Noncy dan Wati bersamaan,
"Ga tahu aku, tadi beberapa kali aku sudah memutarnya, ternyata tetap ga mau kebuka je.. Yah.. mungkin, pintu itu menolak kedatangan kalian.." sahut Renita sambil tertawa.
"Ha.. ha.. ha.. bener, bener. Oh ya tadi gimana ceritanya nyah.. sorry ponselku tadi dalam tas, jadi aku sama sekali tidak mendengar ada panggilan masuk. Baru jam 2 an suamimu Andri berhasil telpon aku, terus aku bilang sorean aku ke rumah.." Noncy menanyakan kejadian tadi siang.
"Iya mak.. aku juga nyangka akan menjadi seperti ini. Tadi mas Cahyo sama mas Bayu kesini sekitar dua jaman. Ternyata mas Cahyo juga ditelpon mas Andri.. panik karena sudah satu minggu, mas Andri ada event Jarum di Jakarta.." sambil tersenyum lelah, Renita menanggapi pertanyaan Noncy.
******
__ADS_1