Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 70 Berita Beredar


__ADS_3

Di kampus UP


Beberapa karyawan sedang berkumpul, karena sedang menjalankan tugas mereka sebagai panitia pengambilan toga. Sebentar lagi di UP akan ada wisuda gelombang ketiga pada tahun akademik 2021/2022. Hampir sebagian karyawan yang berada di tempat itu, adalah teman-teman dekat Renita.


"Kasihan bu Renita ya.. aku jadi ingin menangis jika melihat kejadian ketika bu Renita hari Senin kemarin di mushola. Ya Allah... betapa sangat kejam sekali kelakuan orang-orang itu. Bu Renita itu sudah diam, tidak menjabat apapun, bahkan peran kecilpun juga tidak terlibat di dalamnya. Masih ada yang berbuat dhalim kepadanya.." tiba-tiba Inda membuka pembicaraan.


"Iya ya.., aku tidak lihat sendiri sih, karena takut ditegur atau ditanya sama bu Ana. Aku hanya mendapat cerita dari mbak Rani, yang karena tidak tahu datang ke mushola untuk mengantarkan berkasnya bu Renita. Itu ceritanya gimana to mbak, sampai heboh orang-orang diam menceritakannya." mbak Yani yang dulu semasa Renita menjabat, menjadi anak buahnya.


"Kalau mau melihat bagaimana persisnya mba, lihatlah acara Mata langit di you tube mbak. Persis seperti itu yang dialami Bu Renita. Aku sebelumnya juga tidak tahu, kalau pak Bayu tidak tiba-tiba panik dan datang ke prodi untuk minta tissue. Aku berikan tissue utuh, dan dengan pak Fahran akhirnya bergegas ke musholla kampus. Aku mengikutinya di belakang, karena penasaran. ya Allah.. pingin menjerit aku  melihat kondisi bu Renita saat itu." Inda menceritakan apa yang dilihatnya.


"Aku ya hanya melihat akhir-akhir saja, ketika bu Noncy dan mas Hastho menuntun bu Renita masuk ke dalam mobil. Di depan ada mas David cleaning service, dan pak Andri menyetir kendaraan," Dhenok menimpali.


Beberapa orang turut mendekat dan sangat antusias mendengarkan obrolan itu. Inda yang sudah beberapa kali mendengarkan cerita, dan terkadang melihat perempuan itu kesakitan, menjadi sumber informasi dalam obrolan itu.


"Tapi kenapa bu Renita tidak mengirim balik saja ya santetnya, padahal katanya selama ini bu Renita punya banyak ustadz, kenapa tidak minta tolong untuk dikembalikan saja. Kalau aku, sudah aku kirimkan balik.." Dhenok menambahkan.

__ADS_1


"Itu kalau kamu Nok.., Nok.. kita tidak berada dalam pikiran bu Renita. Aku pernah tanya kepadanya langsung, dan bahkan pernah mengirimkan rekomendasi dukun yang bisa membantunya, Namun Renita tidak mau, karena Renita dan pak Andri sudah memutuskan untuk berobat syari'i, dan jika dia membalasnya, berarti dirinya dan pengirim akan sama saja." Wati ikut berkomentar.


"Ya Allah, semoga segera diberikan kesembuhan untuk bu Renita ya Allah. Calon pemimpin kita, pemimpin UP di masa depan." ucap Dhenok serius.


"Aamiin.. aamiin.. kita memang harus ikut berdoa, meskipun bu Renita tidak tahu jika kita turut mendoakannya. Bu Renita itu orang baik, suka menolong, peduli, Tidak seperti para pejabat struktural yang lain, yang hanya peduli pada dosen saja, Tapi kalau bu Renita, bu Kiki tidak, mereka selalu memikirkan karyawan juga dalam setiap kebijakan yang diambilnya." sahut Inda.


Beberapa karyawan yang bergerombol itu masih terus membicarakan perkembangan UP sekarang, kemudian membandingkan dengan keadaan UP beberapa periode yang lalu ketika Kiki dan Renita menjabat. Pemimpin UP yang sekarang, dan juga pengurus yayasan hanya memikirkan perut mereka sendiri. Pengadaan barang, pembangunan hanya dilakukan penunjukan langsung, tidak jelas nilai kontraknya dan semua hanya Ketua yayasan dan Rektor yang mengetahuinya.


**********


"Pak Cahyo... dengar-dengar kata orang-orang, kemarin pak Cahyo menolong bu Renita ya. Katanya bu Renita kesurupan," Kepala LKA atasan Cahyono bertanya pada laki-laki itu,


"Halah itu hanya omongan asal yang berkembang saja pak. Bu Renita bukannya kesurupan, hanya agak oleng, lemas karena puasa. Terus ditolong bu Noncy, kebetulan saya pas sholat dhuhur di musholla, akhirnya saya dan pak bayu ikut melihat dan menunggunya." terdengar Cahyono berusaha mengalihkan pembicaraan.


Duduk di samping Cahyono, terdengar Bayu hanya tersenyum dan diam, tetapi tidak menambahkan apa-apa. Sebagai sesama Nadhliyin, atau pejuang NU muda, mereka memang kompak untuk saling menjaga satu sama lainnya. Mereka juga akan saling menutupi dan tidak akan saling mengumbar, hal-hal yang memang harus mereka jaga.,

__ADS_1


"Oh begitu.. lha dimana-mana, topiknya sama. Bu Renita kesurupan dan sakit di musholla, yang mengobati pak Cahyo. Malah sampai hari ini, Bu Renita belum terlihat datang berkantor di prodi. Makanya kamu semakin bertanya-tanya dan semakin penasaran." kepala LKA terus pada pembicaraan awalnya.


"Sudah pak, tidak perlu terbawa arus pembicaraaan. Kebetulan pak, saya dan beberapa teman yang lain itu dekat dengan bu Renota, dalam artian dekat sebagai teman. Saya sebagai junior disini, hormat dan segan pada beliau yang  sudah senior. Bu Renita tidak datang berkantor itu, bukan karena beliau sedang sakit, tetapi setahuku memang sedang mengajukan cuti tahunan, dan sekarang sedang berlibur dengan keluarganya. Bapak punya nomor ponsel bu Renita tidak, kalau ada coba dilihat di status whattsapps beliau, pasti sedang kuliner atau menikmati pemandangan." Cahyono kembali menjelaskan apa yang sedang dilakukan Renita saat ini.


"Ya juga sih.. soalnya berita di luar seperti itu. Kasihan Bu Renita saja.." lanjut kepala LKA.


"Hmm iya pak, tetapi untung bu Renita itu beda dengan para dosen perempuan yang lain. Beliau kuat, dan tidak mudah terpuruk hanya karena omongan orang lain. Saya sendiri belum mengenal beliau dengan dekat, tetapi jujur saya kagum dengan beliau. Meskipun sudah tidak menjabat, tetap bersikap ramah pada siapapun, tidak ada rasa canggung, dan tetap rajin ke kantor seperti biasanya." Bayu malah ikut memuji Renita.


Kepala LKA yang juga berasal dari prodi yang sama malah seperti merasa terpojok oleh pembicaraan yang dibuka olehnya itu. Laki-laki itu sama sekali tidak tahu, jika Cahyono dan Bayu pernah main ke rumah Renita, dan sudah pernah mendengar hal-hal apa yang menyebabkan Renita menjadi seperti ini di UP. Tetapi kekaguman Bayu semakin bertambah, ketika Renita bilang jika tidak ada dendam sedikitpun, dan juga tidak akan membalas orang-orang yang telah berlaku dhalim kepadanya.


"Oh ya sudah jika begitu pak, karena sebagai teman sesama prodi yang sama, saya juga prihatin mendengar keadaan Bu Renita. Semoga kesabaran selalu melimpahi bu Renita dan keluarganya, Aamiin.." ucap kepala LKA akhirnya.


"Aamiin.."


***********

__ADS_1


__ADS_2