Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 23 Pembangunan


__ADS_3

Setelah pemborong bangunan datang, tanpa rencana sebelumnya Ketua pengurus yayasan segera mengajak semua pengurus untuk rapat bersama. Ketua Pengurus meminta Citra untuk memanggil Rektor UP, untuk bergabung dengan mereka membahas tentang pembangunan gedung. Sebenarnya, beberapa anggota pengurus yang lain ada yang tidak setuju dengan rencana pembangunan itu. Tetapi, jika pak Yayak sudah berkehendak, tidak ada yang dapat merubah keputusannya kembali.


"Mari segera masuk pak Rektor, silakan duduk. Pak Gito dan teamnya sudah menunggu sejak tadi, kita harus segera merealisasikan apa yang sudah kita rencanakan beberapa waktu yang lalu.." melihat kedatangan Rektor UP yang sudah berada di depan pintu, Ketua pengurus yayasan segera mempersilakan laki-laki itu masuk.


"Iya.. maaf ya pak Gito.. saya sedikit terlambat. Tadi baru koordinasi dengan LPPM, untuk membicarakan masalah publikasi dari dosen di UP. Masak dosen 200 lebih, tetapi karya publikasinya hanya sedikit.." sambil duduk di kursi, Rektor UP malah melakukan curcol.


"Mungkin karena penghargaan yang diberikan ke dosen kurang, jadi dosen hanya merasa capai sudah berpikir. Tetapi tidak memperoleh apa-apa, paling tidak, kita sudah capai meneliti, masih ada yang bisa kita bawa pulang untuk keluarga kita di rumah. Jangan hanya disuruh susah nulis, tanpa imbalan apapun.." Yayak menanggapi perkataan dari Rektor.


"Lha yayasan dong yang seharusnya mengalokasikan dana, agar peringkat UP meningkat. Masak sesama perguruan tinggi di bawah pengurus besar, kita masih berada di peringkat nomor tujuh. Terkadang malu pak, jika kita datang ke rapat koordinasi tingkat pimpinan." Umam menambahi.


"Itu WR II suruh kerja, suruh untuk buat mekanisme, mau berapa kenaikannya. Jangan seperti itu harus yayasan yang memikirkannya. lalu untuk apa, Rektor didampingi para wakil rektor, jika apa-apa masih saja harus kita yang memikirkannya." Rektor menjadi terdiam, karena perkataan ketua pengurus yayasan malah seakan mengevaluasi timnya.


"Sudah.., sudah, kapan ini kita mau membicarakan rencana pembangunan gedung lima lantai, yang nantinya akan kita lengkapi dengan lift untuk memberikan fasilitas pada mahasiswa dan dosen." Wakil Ketua Pengurus menyela pembicaraan kedua orang itu.


Akhirnya, kedua orang itu kembali diam, dan sekretaris yayasan segera memoderatori pertemuan. beberapa hal yang akan emnjadi topik pembahasan, diungkapkan oleh laki-laki itu. Tidak ada kata sambutan seperti rapat-rapat koordinasi yang lain, sekretaris langsung memberikan waktu pada Pak Gito untuk memaparkan penjelasannya.

__ADS_1


"Baik terima kasih pak Sekretaris pengurus yayasan. Jadi, kami dan tim berencana untuk memulai pembangunan dalam waktu secepatnya, mungkin jika dalam rapat kali ini sudah deal, tidak sampai satu minggu, orang-orang saya sudah mulai bekerja. Karena kita masih harus menghancurkan gedung Ormawa, dan di bekas bangunan itu harus kita beri tiang pancang." Pak Gito segera memulai penjelasannya. Dengan terencana, laki-laki paruh baya itu menjelaskan gambar yang sudaj dikerjakan oleh arsitek independen itu.


"Segera dimulai saja tidak masalah pak Gito.. Dari awal pertemuan kita, sudah disampaikan jika pembangunan ini sudah disetujui oleh para pihak di UP. Bahkan Pembina dan pengawas yayasan yang lain juga sudah menyetujuinya. Hanya saja, pak Gito menalangi dana pembangunan, dan kita akan membayarkan secara bertahap." Yayak segera menanggapi perkataan pemborong.


Wakil Ketua Pengurus dan Rektor mengangguk-angguk mendengar perkataan yang diucapkan Ketua Pengurus. Sedangkan pengurus yang lain, hanya saling berpandangan, mereka merasa bingung dari mana mereka akan mendapatkan uang untuk kegiatan pembangunan tersebut,


*********


Setelah pertemuan dengan pemborong sampai dengan sore hari, pagi harinya Rektor dan ketua yayasan mengadakan sosialisasi secara mendadak kepada civitas academica. banyak perbincangan di kalangan pegawai, jika perguruan tinggi lain sedang berlomba untuk mengencangkan ikat pinggang, tetapi berbeda dengan yang mereka lihat di depan mata mereka.


Dari sebelah ruangan, perempuan itu tersenyum. Sebenarnya Renita sudah mengendalikan dirinya untuk tidak banyak berkomentar, karena jika tanpa sadar terpancing dalam pembicaraan, maka dia akan merasa kesakitan pada anggota tubuhnya. Jadi, pilihan untuk berdiam sementara, menjadi hal yang selalu dilakukannya.


"Tidak tahu pak, dan juga aku tidak peduli. Kita lihat saja nanti, jumlah mahasiswa saja berkurang banyak, banyak berdiri prodi baru, lha kok malah menghambur-hamburkan uang. Apa tidak sebaiknya malah instropeksi dulu, kita ambil nafas dulu barang sejenak. Baru beberapa bulan selesai membangun gedung, sudah menambah bangunan baru." dari ruangannya, Renita mengomentari perkataan pak Adi.


"Lho.. ini kan seharusnya menjadi ranah bidang II, bidangnya ibu lho. Ya tidak boleh, menjawab tidak tahu, karena seharusnya bu Renita itu dilibatkan dalam pembahasan.." dari ruangannya, WR I tersenyum mengajak bercanda WR II. Bukannya laki-laki itu tidak tahu bagaimana sepak terjang Rektor dan ketua pengurus yayasan, yang sering menyembunyikan informasi di belakang para WR lainnya.

__ADS_1


"Hmm.. mending pura-pura tidak tahu saja pak, cara dan strategi cerdas untuk menghindar dari masalah. Jadi jika ada orang yang bertanya, cukup dijawab dengan senyuman dan bilang tidak tahu. Coba kalau kita diajak bicara, apakah malah tidak akan menjadi beban moral untuk kita.." Renita kembali memberikan tanggapan.


"Benar.. benar.., kita cari aman saja.." akhirnya WR I mengakhiri pembicaraan.


Sambil tersenyum, Renita kembali melanjutkan pekerjaannya. Sebelum WR I mengajaknya bicara, seperti biasa Renita sedang meneliti laporan bulanan yang dikirimkan oleh pegawai administrasi di bidang keuangan. Untung, dalam menjalankan tugasnya, biro keuangan memiliki satu orang pegawai yang sangat piawai mengoperasikan Excell, sehingga Renita snagat terbantu pekerjaannya.


"Dari mana angka sebesar ini, padahal selama ini selalu balance, tetapi kenapa ada pengeluaran sebesar ini, apakah melalui autodebet rekening..?" Renita berpikir sendiri, ketika melihat ada beberapa pos pengeluaran yang sangat besar. Sedangkan perempuan itu merasa tidak menanda tangani pengeluaran cek sebesar itu.


Kembali perempuan itu mencermati angka-angka yang tertulis dari atas secara berurutan. Jika, ditemukan keganjilan atau kebingungan, Renita akan menebalkan angka dengan menggunakan stabillo, atau mencoretnya. Perempuan itu akan melakukan konfirmasi pada kepala Biro keuangannya.


"Aduh..." tiba-tiba Renita menjerit lirih. Seperti biasa, di dada atas sebelah kiri, perempuan itu merasakan seperti tubuhnya terlempar dengan batu kecil. Sejenak Renita menghentikan aktivitasnya, dan mengucap beberapa ayat pendek untuk menenangkan hatinya.


Tidak lama kemudian, Renita berhasil mengendalikan rasa sakit itu. Terlalu seringnya, di tubuh perempuan itu muncul rasa sakit yang aneh, menjadikan Renita berusaha mengurangi rasa sakit dengan caranya sendiri. tetapi jika merasa tidak dapat mengendalikannya, barulah perempuan itu akan meminta bantuan Pak Cahyono.


*********

__ADS_1


__ADS_2