Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 31 Perjalanan


__ADS_3

Andri mengajak istrinya Renita, juga kedua putranya untuk pulang ke tempat asal Renita yaitu di kota Klaten. Kakak ipar gadis itu, akan menyelenggarakan pesta perkawinan di hari Minggu sehingga sebagai om dan tantenya, pasangan suami istri harus menghadiri acara tersebut. Setelah memastikan apa yang mau dibawa sudah siap, Andri segera meminta istri dan anaknya untuk masuk ke dalam mobil.


“Apakah sudah siap ma, kak, dik..” Andri menanyai semua anggota keluarganya satu persatu.


“Sudah yah.. voucher kamar hotel untuk dua malam, juga sudah mama pesan. Katanya mbak Nur juga minta di book satu kamar untuk Izza.” Renita menjawab pertanyaan suaminya.


“Ya sudah, kita berangkat sekarang saja agar sampai di hotel untuk meletakkan barang tidak terlalu malam. Sorenya kita menuju rumah pakdhe Puji, jadi bisa melihat persiapan pesta yang akan dilakukan.” Setelah melihat semuanya siap, Andri segera berjalan menuju ke mobil.


Vian dan Zidan mengangkat tas mereka masing-masing. Sedangkan trolly bag tempat perlengkapan Renita dan Andri sudah dimasukkan di bagasi sejak tadi pagi. Andri memang bekerja  selalu dengan persiapan, tidak mau semuanya serba mendadak persiapannya. Jadi begitu, mereka akan siap untuk berangkat, mereka tidak perlu tergesa-gesa mencari barang.


Renita duduk di kursi depan menemani Andri, sedangkan kedua putra mereka duduk berdampingan di belakang. Setelah memastikan pintu rumah sudah terkunci, mesin air sudah mati, perlahan Andri menjalankan mobilnya.


“Mah.. Zidan lapar je.. nanti kita makan dimana mah..” seperti biasanya, begitu mobil keluar dari halaman, hal pertama yang ditanyakan putra kedua mereka adalah mereka akan makan dimana. Andri melirik istrinya sambil mengulum senyum.


“Dik.. adik ga ada perkataan lain apa. Setiap kita akan bepergian, baru saja mobil keluar sudah tanya akan makan dimana. Ya makan di tempat pakdhe Puji, kita kan mau kesana..” dari samping Zidan, Vian menanggapi perkataan adiknya.


“Betul kak.. kita makan di tempat pakdhe Puji saja ya..” sahut Renita dari depan sambil tersenyum ikut menggoda putra keduanya.


“Ga mau.. kalau makan di tempat pakdhe Puji, berarti masih lama makannya. Padahal perut Zidan sudah lapar, kan sejak pulang sekolah belum makan apa-apa.” Tidak tahunya, Zidan menanggapi gurauan kakak dan mamanya  dengan nada tinggi.


“Iya .. iya…, ga bakalan dik. Mamamu membiarkan anak kesayangannya kelaparan. Sudah sabar, pasti nanti kalau lihat makanan enak, mamamu akan minta berhenti.” Dari depan, Andri menengahi perdebatan itu.

__ADS_1


“Nha begitu dong, sekarang Zidan mau tidur dulu. Kalau sudah sampai di rumah makan, jangan lupa ya mah, nanti Zidan dibangunkan. Perut Zidan sudah kosong soalnya..” merasa tenang mendapatkan jawaban, akan mampir makan, putra bungsu Renita dan Andri langsung memejamkan matanya.


Di depan, melihat hal tersebut Renita tersenyum dan geleng-geleng kepala. Sedangkan Vian, sudah mengikuti adiknya, laki-laki muda itu juga ikut tertidur. Memang pola jam tidur kedua putra pasangan suami istri bisa dikatakan


tidak teratur. Sebagai mahasiswa jurusan Animasi, dan sering mendapatkan project untuk membuat film, putra pertama Renita memang lebih terbiasa begadang di malam hari. Begitu selesai sholat Shubuh, maka Vian akan tidur lagi dan terbangun Ketika sudah menjelang sore. Hal itu terlalu sering dilakukan oleh anak itu.


“Putra-putra kesayangan mamah, selalu tidur Ketika dalam perjalanan. Begitu bangun, adanya kelaparan dan minta mampir makan.” Andri berkomentar pada dua putranya sambil melirik kea rah istrinya.


“Hmm.. yah mama ikhlas kok yah. Mereka hanya putra mamah, bukan putra ayah..” tanpa melihat ke arah suaminya, Renita menanggapi kata-kata itu dengan kesal. Andri menoleh dan tertawa terbahak-bahak melihat istrinya ngambek.


*******


“Sudah sampai ya yah.. ada parkir mobil tidak untuk kita?” Renita melihat ke arah luar, karena hotel ini hanya memiliki halaman parkir yang sempit, terkadang mereka harus rela tidak mendapatkan tempat parkir, dan harus mengalah parkir di bahu jalan.


“Itu pas di depan pintu masuk lobby, masih kosong satu tempat. Ayah akan memarkirkan mobil disitu saja..” melihat ada tempat parkir kosong, Andri mengarahkan mobil ke tempat tersebut,


Tampak security hotel mengatur dan memberi aba-aba pada Andri. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil sudah dapat diparkir dengan sempurna. Andri menengok ke belakang, dan melihat kedua putranya masih tertidur lelap.


“Kak.. dik.. ayo bangun dulu. Kita sudah sampai, bantu ayah menurunkan barang di bagasi mobil. Mamah mau mengurus check in kamar.” Andri membangunkan kedua putranya, sedangkan Renita segera keluar dan langsung menuju ke lobby untuk ke receptionis mengurus check in.


Vian dan Zidan mengucek-ucek mata mereka, dan perlahan kedua mata mereka sudah mulai membuka. Melihat ternyata mobil sudah berhenti, kedua anak laki-laki itu segera menegakkan tubuh kemudian membuka pintu mobil.

__ADS_1


“Enak ya, masuk mobil langsung tidur. Begitu dibangunkan, tahu-tahu sudah sampai lokasi.” Andri menggoda kedua putranya.


“Ya ga enak dong yah.. tadi kan Zidan pesan untuk mampir dulu cari makan. Ini sudah sampai di hotel, ternyata tidak ada mampir-mampiran.” Sambil membantu mengangkat travel bag, Zidan memprotes ayahnya.


Andri tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah si kecil. Meskipun sudah klas III SMA, putra bungsunya masih seperti anak kecil, yang selalu minta dituruti semua permintaannya.


“Tenang ga perlu ngambek dik, tunggu mamah dapat kamar dulu. Kita letakkan barang di dalam kamar, baru kit acari makan. Adik mau makan apa, ayam kampung atau bebek. Kalau ayam kampung, kita ke warung makan Bu Mayar, tapi kalau bebek kita ke bu Suwarti di Bendho gantungan.” Dengan sabar, Andri merayu anak bungsunya.


Zidan tidak menjawab, anak laki-laki itu segera memasuki lobby dan duduk di kursi tunggu sambil melihat mamanya yang sedang menunjukkan kartu identitas pada receptionis. Tidak lama kemudian, Renita sudah membawa dua kunci kamar.


“Lantai berapa ma kita,” tanya Zidan sambil mengikuti mamanya.


“Di lantai satu dik, dekat pintu lift. Kamar ayah dan mama berdampingan dengan kamar adik dan kakak. Jadi kalau ada apa-apa, kita dekat.” Sambil berjalan, Renita menanggapi perkataan Zidan.


Putra pasangan suami istri yang nomor dua itu memang sedikit antic, sedikit-sedikit marah, tapi sebentar pula sudah akrab lagi seperti tidak terjadi apa-apa. Dibandingkan dengan Vian kakaknya yang begitu cuek, Zidan memang lebih dekat dengan Renita daripada dekat Andri.


“Jadinya setelah ini kita akan makan dimana mah..”  sambil membuka kunci kamar, Zidan bertanya pada Renita, pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan kepada ayahnya,


“Lha adik mau makan apa, bebek, ayam kampung, atau menu yang lainnya. Kita menyesuaikan adik saja..” sahut Renita sambil tersenyum. Perempuan itu sudah hafal karakter kedua anaknya, sehingga memiliki treat sendiri untuk berkomunikasi dengan mereka.


***********

__ADS_1


__ADS_2