Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 67 Bertiga


__ADS_3

Hari pertama menginap di hotel Calya, tidak ada masalah terkait dengan penyanyi non medis yang dialami Renita. Kalau hanya rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk, diabaikan oleh perempuan itu, karena bisa jadi hanya karena tabrakan energi.. Mahasiswa bimbingan skripsi maupun magang SDI, tetap bimbingan seperti biasa tidak ada kendala. Jadi, dengan mengambil cuti yang harusnya fokus untuk beristirahat, tetapi malah menjadikan Renita menjadi lebih produktif, dan lebih punya banyak waktu untuk keluarganya.


"Mam... untuk nanti malam ayah tidak bisa menemani mamah ya. Biar anak-anak saja yang menginap disini. Ayah ada event sampai tiga hari, dan harus berangkat dari Subuh." pada saat breakfast di restoran hotel, Andri mau minta ijin sama Renita.


"Ya.., tapi ayah yang bilang sendiri ya sama anak-anak. Soalnya kalau sama mamah sering anak-anak datangnya ke hotel kemalaman. Mamah jadi tak ada teman menginap." sahut Renita tidak sedikitpun keberatan.


"Nanti ayah bilang sama kakak adik." ucap Andri.


Suami Renita berdiri, ternyata mengambil kopi hitam dan membawanya ke meja.


"Mamah mau roti bakar tidak, kalau mau sekalian ayah buatkan?" setelah meletakkan cangkir berisi kopi, Andri berjalan menuju roaster.


"Mau.. tapi pakai selai nanas saja ga usah pakai meses." sambil menikmati buah potong, Renita menjawab pertanyaan suaminya.


Orang yang melihat pasangan suami istri itu, mungkin mengira jika mereka sedang berlibur, atau menjalani honey moon. Karena sangat perhatian sekali dan sangat menjaga istrinya, Andri melayani Renita. Pasangan suami istri itu juga tidak terlihat jika mereka sedang menghadapi masalah yang besar. Setiap ada kenikmatan sekecil apapun, Andri dan Renita memang selalu menghadapinya.


******


Sore harinya, Vian dan Zidan datang menyusul ke hotel dengan membawa dua motor. Satu motor akan mereka tinggal di hotel, sedangkan motor satunya untuk dibawa ayah mereka. Vian dan Zidan yang sudah terbiasa keluar masuk hotel, karena sering diajak mama dan ayahnya berlibur langsung menuju pintu lift dan menuju ke lantai lima.


"Tet.. tet.. tet.." Renita dan Andri sedang baringan di kamar sambil melihat acara televisi.


"Paling kakak sama adik yah.., karena tadi kirim pesan ke mamah bilang otw ke hotel." Renita memberi tahu suaminya.


"Iya kali.." Andri segera beranjak dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu.


"Assalamualaikum.." ternyata benar dugaan Renita, yang datang adalah kedua putra mereka.


"Wa Alaikum salam, parkir dimana kak, dik?" Renita bertanya pada dua putranya.

__ADS_1


"Di belakang depan mobil mamah." sahut Vian yang langsung Duduk di atas bed.


"Mamah pesan kamar berapa?" Zidan yang lebih peduli privacy bertanya.


"Satu dik.., hemat. Ini bednya besar kok,. bisa untuk tidur bertiga." sambil menghela nafas, Renita menjawab pertanyaan putra bungsunya itu.


"Iya dik, mending uangnya bisa untuk yang lain." Andri menimpali.


"Mendingan tidur di rumah saja Zidan tadi.." sahut Zidan cemberut. Anak itu kemudian menarik bantal dan meletakkan di atas lantai. Sudah hafal bagaimana karakter anak kedua mereka, Andri dan Renita hanya diam tidak meresponnya.


Andri tiba-tiba berdiri kemudian membereskan tas dan perlengkapan pribadi lainnya. Jika Zidan sudah mulai merajuk, Andri memang cenderung mengalah. Karena kalau laki-laki itu menjawab, akhirnya hanya akan terjadi keributan.


"Mah .., ayah balik ke rumah sekarang ya." tiba-tiba Andri berpamitan pada Renita.


"Ya yah hati-hati." sahut Renita.


"Kakak.., adik.., jaga mamah. Jangan sampai tinggalkan mamah sendirian di hotel, sebagai anak kalian punya tanggung jawab melindungi mamah kalian.


Akhirnya dengan membawa tas kecil, Andri berjalan keluar dari dalam kamar.


********


Selepas Maghrib seperti biasanya, Renita melakukan ritual yaitu membaca dzikir petang dilanjutkan dengan membaca Al Baqarah beserta maknanya. Sisi positif dari kejadian mistis yang selalu menghantui Renita adalah perempuan ini menjadi lebih dekat kepada Allah secara tindakan. Sholat menjadi tepat waktu, rajin mengaji, dzikir pagi petang, mandi sebelum fajar menjelang dan banyak kebiasaan bagus lainnya.


"Mamah... malam ini kita mau makan apa?" seperti biasa makan selalu hal utama yang dipikirkan Zidan.


"Terserah kakak sama adik, mau makan apa. Kita mau keluar jalan kaki ke daerah sekitar, atau mau mencari dengan menggunakan Grab saja." sahut Renita.


"Kalau keluar mau cari apa?" terkesan jika Zidan merasa malas untuk keluar.

__ADS_1


"Banyak dik disini itu, ada sate, bakmi Godok, ayam goreng Suharti, Padang Giwangan dan masih banyak lagi." Renita menjelaskan.


"Jangan ayam goreng Suharti mah, mahal. Mendingan uang buat Zidan saja.."


Renita tersenyum, berpikir jika tumben- tumbennya Zidan berpikir harga mahal murah. Biasanya jika minta apapun, putra bungsu Renita itu tidak pernah pedulikan harga.


"Mamah cari Grab saja mah, diantarkan ke hotel. Daripada keluar, cari belum tentu langsung dapat. Nanti kalau sudah datang, Vian saja yang akan turun ke bawah." akhirnya Vian mengusulkan untuk pesan makanan via online.


Tanpa banyak tanya lagi, Renita akhirnya mengambil ponsel dan langsung membuka aplikasi Grab. Beberapa saat kemudian, tanpa menanyakan lagi pada putra-putranya Renita masuk ke warung makan bebek pak Kholiq. Tiga menu makanan dipesannya, dengan tiga paket yang berbeda.


"Sudah mah," tanya Zidan.


"Sudah,. kita tunggu saja beberapa saat lagi. Tidak boleh banyak protes, hargai setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh kita." ucap Renita yang langsung menyalakan laptop


Kedua putra Renita terdiam, tidak banyak lagi bertanya. Mereka asyik dengan ponsel mereka masing-masing. Tiba-tiba..


"Kak.. kak.., main Valorant yuk. Zidan diajak teman sekolah main nih..." Zidan mengajak kakaknya main bareng.


"Malas dik, kalau main game adik sukanya ngambek, cari masalah. Lagian lagi lihat film itu di televisi,. bagus filmnya." sahut Vian menolak ajakan adiknya.


"Ga kak ., Zidan janji ga akan marah dah.." Zidan masih berusaha mengajak kakaknya bermain.


"Gak, kalau ga mau ya tidak.." sahut Vian dengan nada tinggi.


"Sudah dik, kalau mau main, tidak perlu libatkan kakak. Bentar lagi, kakak juga harus turun ke lobby untuk ambil makan yang barusan dipesan. Nanti kalau keputus lagi mainnya, adik marah lagi." Renita membela Vian.


Perempuan itu sampai hafal dengan perilaku Zidan yang terkadang bikin jengkel tapi lucu kalau diingat-ingat. Pernah Renita dan Andri bingung karena tiba-tiba kabel penghubung Play Station putus. Mereka berdua menuduh tikus yang menggigitnya, dan Zidan juga tidak bicara apa-apa. Tapi suatu ketika ketika mereka berdua ribut, tiba-tiba Vian nyeletuk.


"Ga mau, nanti adik main gunting-gunting lagi kayak dulu. Main PS kalah kok bisa-bisanya kabel yang digunting."

__ADS_1


Jika sudah seperti itu, pasangan suami istri hanya bisa geleng-geleng kepala.


********


__ADS_2