Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 55 Thoriqot


__ADS_3

Andri kaget dalam perjalanan, ternyata medan yang mereka datangi sangat menanjak. Teringat sekitar dua tahun yang lalu, ketika istri dan kakak iparnya hanya berdua datang ke rumah Kiyai tersebut, Alhamdulillah, dengan tekad kuat istrinya yang tidak terbiasa atau bahkan belum pernah sekalipun mengemudi di area seperti itu, bisa sampai dan pulang kembali ke rumah dengan selamat.


"Aarrghhh.... mau kemana ini. Kembali.., kembali... Astaghfirullahaladzim ..." semakin naik ke atas, Renita semakin tidak terkendali. Terkadang Renita berteriak, kemudian tiba-tiba menangis, hal itu dilakukan secara berulang-ulang, seperti tidak mau untuk diajak berobat.


"Hadeh.. jalan ke depan ditutup, padahal jalannya nanjak lagi..." tiba-tiba Andri melihat ada batang bambu dan beberapa barang, tampak menutup jalan raya yang akan mereka lintasi. Jalanan itu menuju ke arah pak Kiyai Muh Dain. Andri semakin mendekati ke arah bambu tersebut, dan tertulis "Mohon ambil jalan lain, sedang ada Thoriqot sampai tanggal 10 Muharram... Harap Maklum.."


"Kenapa yah.. jalannya ditutup." Zidan bertanya pada Andri.


"Kita tunggu Om Cahyo dan Om Suryo saja, mereka pasti tahu ada jalan alternatif menuju ke pondok pesantren." sahut Andri tersenyum.


"Hi.. hi.. hi.., syukurlah tidak bisa lewat. Ayo kita kembali.." tiba-tiba Renita tertawa kesenangan, melihat jalan tidak bisa digunakan.


"Kita ambil kiri pak Andri.., kita bisa lewat belakang.." tiba-tiba terdengar suara Cahyono memberi tahu arah baru.


Motor yang dikendarai dua anak muda itu mengambil arah ke kiri, masuk ke gang sempit. Andri kemudian memundurkan mobil, dan mengikuti jalan yang dilalui Cahyono dan Suryo.


"Ada jalan lain mah.. tenang. Kalau tidak mau pergi ke rumah pak Kiyai, ya jangan ganggu mamahku.. " Vian bergurau, ketika melihat mamanya kembali menangis, karena mobil mengambil jalan lain.


"Hiks.. hiks.., ayo kembali, kembali.." Renita yang tadi sudah terlihat senang, kembali menangis.


Andri tidak menghiraukan keadaan istrinya, laki-laki itu terus memasuki gang sempit, kemudian mengambil jalan ke kanan dan terus mengikuti motor yang dibawa Cahyono. Sekitar sepuluh menit perjalanan, mereka lewat di depan pondok pesantren yang terdapat banyak anak kecil sedang bermain. Ternyata itu adalah salah satu pondok pesantren yang dikelola oleh pak Kiyai. Beberapa saat kemudian, Cahyono memberhentikan motornya, kemudian meminta Andri untuk memarkir mobil di pinggir jalan raya.


"Diparkirkan disini saja pak, kita jalan kaki saja untuk menuju rumah pak Kiyai. Karena jalan masuk sedang dipasang tenda untuk thoriqot." Cahyono memberi petunjuk.

__ADS_1


"Ya mas.." Andri segera mengikuti apa yang diperintahkan Cahyono. Setelah mobil berhenti, kembali Cahyono memegangi bahu Ranita kemudian mendampinginya berjalan,


Para santri yang sedang menjaga parkir, maupun yang sedang mengaji, melihat ke arah Ranita dan rombongan. namun mereka tidak mempedulikannya, mereka terus berjalan menuju rumah Kiyai.


"Badan bu Renita rasanya panas sekali bu.." sambil jalan, Cahyono mengomentari rasa panas yang seakan keluar dari tubuh perempuan itu. Renita sudah semakin tidak bisa mengendalikan dirinya, semakin mendekati masuk ke halaman rumah pak Kiyai, perempuan itu semakin berontak ingin melarikan diri, dan semakin menangis minta kembali dari tempat itu.


"Diam.. rasakan kamu nanti akan diajar oleh pak Kiyai. Berkali-kali aku bilang, jangan lagi mengganggu Bu Renita, namun kamu tetap ngeyel.." sambil berjalan, Cahyono berkomunikasi dengan makhluk lain yang berada di dalam tubuh Renita.


Tidak lama kemudian, akhirnya mereka sudah sampai di ruang tamu pak KIyai. Renita sudah tidak bisa mengendalikan tubuhnya, namun Cahyono tetap sabar memeganginya. Mereka kemudian duduk di gelaran tikar yang sudah ada di tempat itu.


"Ada tulisan untuk sementara tidak menerima tamu itu mas..." Renita kembali tersadar, dan menunjuk ke arah tulisan yang tertulis di dinding.


"Tidak apa-apa bu, mas Suryo kenal dekat dan sudah terbiasa kesini." cahyono menanggapi perkataan Renita.


*********


Sesaat kemudian


Renita dan rombongan menunggu di ruang tamu pak Kiyai sampai menjelang waktu memasuki Dhuhur. Tiba-tiba terdengar adzan Dhuhur berkumandang, dan Andri langsung berdiri, kemudian mengajak Zidan dan Vian untuk pergi ke masjid.


"Saya sholatnya khusus sendiri saja ya mas,." melihat Andri dan kedua anaknya berjalan keluar dari rumah pak Kiyai, mas Suryo berkomentar. Renita tersenyum mendengarnya, demikian juga Cahyono,


"Bilang saja malas mas.." Cahyono berkomentar, sejak tadi memang adik Suryo itu tidak meninggalkan Renita sendiri, selalu berada  dan duduk di dekat perempuan itu,

__ADS_1


"Suaminya rajin ke masjid ya mbak, begitu mendengar adzan langsung beranjak ke masjid." Suryo mengajak bicara,


"Ya mas.., kadang sih malah saya yang protes, Mau ajak pergi, sini sudah make up, kemudian baru berangkat. Tiba-tiba terdengar adzan, nha itu mas.. mobil langsung diparkir, dan kita dipaksa untuk sholat jamaah di masjid." Renita bercerita sambil tersenyum.


"Bagus itu mbak sebenarnya, cuma aku masih malas. Langgar di dekat rumah saja, sering mundur jam sholat jamaahnya karena yang mau menjadi imam pada malas. Jadi. terkadang sholat Shubuh di langgar itu, jam lima baru mulai, yah.. karena itu tadi, malas mbak.." Suryo menceritakan.


"Lha mbah Karto bukannya yang ditunjuk jadi imam to mas.." Cahyo menanggapi.


"Mbah Karto itu juga sama Gung... sering mangkir, dan sering memintaku untuk menggantikannya. Jadi.. sering terjadi mbah Karto berbisik padaku... Sur.. gantian yo, kamu beberapa minggu menjadi imam langgar. Aku capai soalnya.." sambil tertawa Suryo kembali bercerita.


"Manusiawi mas.. mungkin mbah Karto merasa capai, dari sisi usia mungkin sudah senja, jadi mau re generasi." Renita turut menanggapi.


Sambil menunggu pak Kiyai keluar untuk menemui mereka, ketiga orang ini mengobrol untuk mengisi waktu. Tidak lama kemudian, Andri, Zidan, dan Vian kembali dari masjid.


"Mah.. di masjid kenapa banyak orang ya, ada yang tidur, ada yang baca Al-Qur.an bahkan beberapa orang ada yang makan di teras masjid." dengan polosnya Zidan bertanya melihat sesuatu yang tidak pernah ditemuinya,


"Itu namanya i'tikaf mas, karena mereka berdoa thoriqot di masjid ini selama sepuluh hari di bulan Muharram, atau kalau orang Jawa namanya bulan Suro, Semua santri yang ada di masjid tadi, dan semua yang turut berdoa, tidak dipungut biaya apapun. Semua dibiayai oleh pak kiyai, dan pak Kiyai tidak pernah kemana-mana." Cahyono menjawab pertanyaan Zidan


"Kerjanya apa ya mas pak kiyai itu.." Vian lanjut bertanya,


"Ya hanya di rumah mas, tidak kemana-mana, tetapi Allah mencukupkan riqki keluarga, dan juga berbagi. Semua anak pak kiyai juga mengikuti jejak beliau.." Cahyono menjelaskan.


*********

__ADS_1


__ADS_2