Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 58 Menginap di Hotel


__ADS_3

Sesampainya di hotel, melihat suasana sekitar Renita dan Andri tersenyum..Ternyata hotel dengan tarif relatif murah itu merupakan kost eksklusif. Tempatnya pas di jalan turunan dan di sebelahnya jembatan. Tetapi suasana sangat tenang dan santai. Setelah mengurus proses check in, dengan ditemani suaminya yang selalu menemani kemana-mana Renita naik ke lantai dua.


"Wow ternyata samping kamar kita kolam renang mah.., nanti kita bisa renang disini." celetuk Andri.


Renita berjalan sedikit ke depan, ternyata kolam renang mini itu seperti private pool yang ada di samping kamarnya persis. Renita duduk mengamati air, tetapi airnya terlihat keruh dan ada lumut di porselin yang ada di dasar kolam.


"Kotor yah kolamnya, ga perlu aneh-aneh renang segala. Ntar malah gatal-gatal badannya." ucap Renita menasehati suaminya.


Renita kemudian berdiri dan berjalan masuk kamar yang sudah dibuka Andri terlebih dahulu. Kamar terlihat sempit, karena selain Queen bed ada satu single bed di samping ranjang utama tersebut. Namun oleh Andri single bed tersebut digunakan untuk meletakan trolly bag, dan printer yang dibawanya.


"Kalau kamar anaknya gimana mas, apa seperti ini juga..?" Renita memang pesan dua kamar dengan tipe yang berbeda, yaitu Suite room untuknya, dan deluxe room untuk kedua anaknya.


"Untuk kamar terlihat lebih luas kamar anak-anak karena lemari tidak ada hanya tempat baju simple saja. Kamar mandinya juga lebih sempit daripada kamar ini." Andri menanggapi.


Namun untuk harga dua ratusan ribu semalam, overall sebenarnya Renita merasa puas. Hanya saja memang mereka harus berada di dalam kamar saja, karena tidak ada lounge room untuk sekedar hangout. Apalagi banyak pasangan muda, yang entah itu sudah menikah atau belum keluar masuk kamar dengan pakaian ala kadarnya.


"Jangan lupa yah, di share lock anak-anak untuk datang kesini jangan malam-malam. Jauh soalnya dan agak masuk, kasihan nanti susah mencarinya." teringat Zidan terutama, Renita mengingatkan suaminya.


"Sudah mah, sejak tadi ayah urus check in, anak-anak sudah ayah share location." sahut Andri.


Andri segera mengganti celana panjang dengan mengenakan celana pendek, kemudian seperti biasa langsung membaringkan tubuhnya di pembaringan. Sedangkan Renita segera mengeluarkan laptop dari tas punggungnya, kemudian segera menyalakan. Tidak lama kemudian beberapa skripsi mahasiswa sudah menjadi fokus perhatiannya.


"Tut.. tut.. drfttt..." ponsel Renita bergetar.


Renita mengambilnya, dan setelah dilihat ternyata ada pesan chat dari mahasiswa.

__ADS_1


"Assalamualaikum Bu Renita. . mau bimbingan SDI apakah ibu ada waktu ya? Jika bisa, jam dan hari apa saja?" ternyata ada dua pesan yang sama-sama menanyakan ingin bimbingan SDI.


"Saya sebenarnya sedang cuti, dan tidak ke kampus untuk beberapa hari. Bagaimanapun jika kalian datang ke Sambisari apakah kalian keberatan?" dengan cepat Renita menanggapi pesan tersebut.


Renita memang dikenal sebagai dosen yang paling care pada mahasiswa. Terkadang jika ada mahasiswa yang kesulitan keuangan, tanpa ragu Renita akan memberikan bantuan kepada mereka. Ada mahasiswa yang dengan tepat waktu, akan mengembalikan namun ada juga beberapa yang terkesan melupakannya. Dan jika angka pinjamannya di bawah satu juta, Renita akan mengikhlaskan.


"Baik Bu.. tidak masalah. Mohon di share location ya, nanti akan saya sampaikan pada teman-teman." ternyata para mahasiswa menyanggupi untuk bimbingan di hotel ini.


Mereka kemudian membuat kesepian dan janji untuk bertemu di hotel.


*******


Menjelang adzan Maghrib ternyata Zidan belum menyusul ke hotel. Hal itu membuat Renita menjadi panik, berpikir tentang keselamatan putra bungsunya. Berkali-kali perempuan itu melakukan Miss call, namun tidak ada jawaban diterima. Chat yang dikirim ke grup keluar, maupun japri juga tidak ada balasan sejak tadi.


"Ini sejak tadi ayah juga telpon dan kirim chat, tapi belum ada respon dari adik." sahut Andri yang terus memegang ponselnya.


"Atau janjian sama kakaknya apa ya, mungkin mau kesini ya barengan?" kembali Renita bertanya.


"Mamah... ayah dan mamah sama-sama tidak tahu. Kita hanya perlu berdoa saja, agar tidak terjadi apa-apa sama adik dan kakak. Semoga chat kita belum dijawab, karena mereka sedang dalam perjalanan kemari." Andri mencoba menenangkan istrinya.


Renita terdiam dan dalam hati mengiyakan perkataan suaminya. Namun semakin hanya duduk diam, rasa khawatir itu malah terus bertambah. Akhirnya Renita masuk di grup ibu-ibu perumahan untuk menanyakan keberadaan putranya.


"Assalamualaikum ibu-ibu.. yang saat ini sedang di rumah, apakah saya boleh minta tolong?" Renita membuktikan percakapan di grup.


"Wa Alaikum salam, waduh nyah... sorry aku lagi di Klaten," Bu Wati merespon pertama kali.

__ADS_1


"Saya di rumah Bu Ren.. apa yang bisa saya bantu." Bu Jamil menjawab.


"Minta tolong ditengok rumah saya untuk dilihatkan apakah Zidan ada di rumah ya. Sejak tadi saya telpon tidak diangkat, dan saya chat belum ada balasan. Jujur Bu.. saya panik. Matur nuwun." dengan emoticon dua telapak tangan ditangkupkan, Renita mengucapkan terima kasih.


"Ya Bu Ren.. tunggu sebentar ya."


Beberapa saat menunggu, Renita membalas chat yang lain yang menanyakan keadaannya saat ini. Dengan sopan Renita menjawab jika keadaan baik-baik saja dan dalam keadaan sehat. Hanya saja Renita dan keluarga membutuhkan waktu untuk sementara melakukan muhasabah di tempat lain.


"Bu Ren... pintu sudah tak ketuk-ketuk beberapa kali, tapi tidak ada yang menjawab. Tapi lampu luar rumah sudah menyala. Di garasi adasatu motor Vario Bu Ren.." Bu Jamil akhirnya kembali.online dan bergabung dalam percakapan.


"Matur nuwun Bu Jamil, semoga Zidan sedang dalam perjalanan ke hotel. Motor Vario itu punya Vian Bu Jamil, cuman tadi pagi anaknya pakai motor ayahnya jadi motor ditinggal di rumah. Terima kasih ibu-ibu semuanya." maksud hati Renita mau mengakhiri percakapan.


"Wa Alaikum salam maaf baru join. Bu Renita sekarang tinggal dimana?" Bu Henny yang baru bergabung menanyakan keadaan Renita.


"Inshaa Allah sampai sepuluh hari ke depan saya dan keluarga tinggal di hotel ibu-ibu. Mohon doanya segera keadaan segera membaik, mohon support doa dari ibu-ibu semuanya." dengan santun, Renita menanggung chat terakhir.


"Aamiin, kita hanya bisa bantu doa Bu Renita.. cepat membaik dan terkendali." sahut ibu-ibu.


Renita menutup ponsel, dan terdengar suaminya seperti sedang berbicara dengan seseorang di depan kamar. Renita berdiri kemudian mengintip keluar. Ternyata Zidan sudah datang dan saat ini sedang bicara dengan suaminya.


"Maaf mah.. tadi Zidan ketiduran. Menjelang Maghrib baru bangun terus berangkat ke sini." Zidan menjelaskan.


"Ya ga pa pa, cuci tangan dan kaki dulu. Kalo belom sholat, sholat dulu. Sebentar lagi kita akan cari makan malam." sahut Renita sambil bernafas lega.


*********

__ADS_1


__ADS_2