Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 93 Sisi Positif


__ADS_3

Renita hanya terdiam mendengar diskusi dari teman-temanya, dan sejak awal dia memang tidak memiliki niat untuk menjadi tim pengadaan barang dan jasa. Jadi, perempuan itu merasa tidak ada perlunya dia bicara. Apalagi sejak tadi, Renita sudah merasakan ada beberapa hal yang tidak beres dalam tubuhnya. Rasa nyeri yang sudah lama tidak dirasakannya, terasa sangat mengganggu. Tangan kiri bagian lengan bawah dan lengan atas, terasa sakit seperti sedang di puntir, demikian juga dengan pundak sebelah kirinya. Sejak tadi, Renita mencoba meredakan dengan membaca doa dalam hati.


"Bagaimana bu Renita apakah ada yang mau diusulkan, dan segera memulai kegiatan pengadaan barang ini..?" WR I kembali menanyakan.


"Pak WR I dan bapak ibu yang lain, sejak tadi sudah saya katakan jika di UP ini ada tiga dosen yang memiliki sertifikat pengadaan barang dan jasa. Jadi.. bapak-bapak jangan hanya bertanya dan memaksa saya, untuk masuk dalam kepanitiaan ini. Yang saya butuhkan saat ini adalah, menyelesaikan studi S3 yang sudah sangat terbengkalai penyelesaiannya. Jadi saya harus fokus pak, tidak bisa diganggu dengan kerja berat seperti ini.." Renita kembali mengulang ketidak sanggupannya.


Sebenarnya bukan tanggung jawab pekerjaan yang harus dia pikul yang memberatkannya, namun sisi metafisik yang lebih gencar mengganggu dan menyerangnya, yang menjadikan Renita malas untuk berperan serta. Baru  saja duduk di ruang sidang Rektorat hari ini saja, sejak tadi gangguan metafisik sudah dirasakan Renita. Sehingga perempuan itu berhati-hati dalam bicara.


"Kalau saya boleh berpendapat, untuk menghadapi Inspektorat Jenderal besok hari Jum,at, jangan katakan apa yang sudah dibelanjakan tanpa prosedur, Tapi katakan saja, jika kegiatan pengadaan baru akan diadakan, dan tahapan kali ini sedang melakukan penghitungan Harga Perkiraan Sendiri, dan mengatur jadwal pengadaan." lanjut Renita. Hanya itu yang bisa disampaikan oleh perempuan itu.


"Apakah ada pedoman untuk menyusun HPS nya bu Renita?" kepala BAUK mengajukan pertanyaan,


"Ada pak, tapi saya kali ini tidak membawa laptop. Nanti jika bapak/ibu berkehendak, nanti bisa saya bantu kirimkan via email." jawab Renita.


"Baiklah.. bisa kita maknai ya perkataan bu Renita. Jadi besok Jum,at kita sepakati jika kita katakan baru menyusun HPS." akhirnya WR I mengambil keputusan. Laki-laki muda itu juga terlihat tanpa daya, karena tidak berpikir jika masalah ini akan mereka hadapi. Dan laki-laki ini juga terlupakan, jika ada persyaratan untuk pengelola dana hibah, dan pengadaan barang.

__ADS_1


"Ada tambahan lagi pak. Meskipun untuk menetapkan HPS, kita bisa menggunakan e catalog, tapi harga-harga di e catalog itu banyak yang belum di update. Jadi lembaga juga harus bersiap, jika ada selisih kenaikan harga, maka konsekuensinya harus menggenapi kekurangannya. Hanya itu yang bisa saya tambahkan pak." sebelum rapat ditutup, Renita menambahkan,


"Nanti WR II yang akan menindak lanjuti apa yang ditambahkan oleh bu Renita. Sepertinya sudah tidak ada lagi ya yang akan kita bahas untuk siang ini. Terima kasih bapak/ibu.. atas kedatangannya, sumbang sarannya, dan rapat kali ini kita akhiri." WR I segera mengakhiri pertemuan.


Semua peserta rapat kemudian berdiri dan meninggalkan ruang rapat. Sambil berjalan keluar, Renita diikuti beberapa dosen, dan melakukan konfirmasi apa yang sudah mereka lakukan. Dengan hati-hati, Renita menjawab sambil memperhatikan kata-kata yang dikeluarkannya.


"Langsung pulang bu Renita.." Andi dan krisna bertanya pada Renita, yang melihatnya sedang berjalan keluar,


"Iya dong, aku sudah dari jam tujuh pagi berada di kampus. Kan jam kerja hanya tiga jam.." Renita tersenyum, dan menggoda balik dua orang itu.


**********


Dengan menahan rasa nyeri, Renita segera keluar dari gedung A, dan perempuan itu segera menuju ke arah mobilnya diparkirkan. Tidak mau banyak membuang waktu, Renita segera masuk ke dalam mobil, dan tidak lama kemudian perempuan itu sudah menginjak pedal gas, dan meninggalkan kampus untuk menuju ke rumah.


Sekitar dua puluh menit perjalanan, karena jalanan yang dilalui tidak begitu ramai, akhirnya Renita sudah sampai di rumah. Terlihat suaminya Andri sudah berada di dalam rumah, dan ketika melihat istrinya datang, laki-laki itu segera mencegat mobil yang dikemudikan Renita. Andri membantu istrinya untuk memarkirkan mobil di carport. renita segera membawa tasnya, kemudian segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Kok tumben pulang kerja jam segini mam.. dari nongkrong di restaurant samping kampus apa?" melihat istrinya yang tampak kelelahan dan duduk di sofa, Andri bertanya pada perempuan itu.


"Rapat yah.. ga enak kalau ga datang. Tadi malam pak Adi japri mamah, jadi ga enak, paling tidak menghormati undangan WR I saja. Bagaimanapun, pak WR I pernah menjadi satu tim dalam bekerja." Renita menjawab pertanyaan suaminya.


"Hmm.. terus mamah menyetujui hasil rapat, seperti yang kemarin sempat mamah ceritakan pada ayah itu." Andri bertanya dengan nada sarkasme. Karena laki-laki ini sering merasa jengkel pada Renita, karena sering tidak bisa menolak jika ada yang meminta bantuan kepadanya. Namun ketika istrinya terkena sakit, satu keluarga ikut merasa bingung menghadapinya.


"Ya tidaklah.. memang mamah mau bunuh diri. Baru datang rapat saja, badan mamah sudah terkena serangan sejak tadi, Badan mamah merasa sakit semuanya, dan tubuh mamah sekarang terasa lelah banget." sahut Renita menjawab pertanyaan suaminya.


"Besok pagi, mamah ceritakan saja pada ustadz, apa yang dirasakan di tubuh mamah. Karena hanya mamah sendiri yang bisa merasakan, ayah juga tidak bisa membantu mamah. Ayah hanya bisa berdoa saja.. semoga keluarga kita selalu mendapatkan perlindungan dari Allah." sahut Andri. laki-laki itu juga merasa heran, kenapa orang yang selalu bertindak jahat itu, masih terus melakukan perbuatan buruk pada istrinya.


"Iya yah.. aamiin.." ucap Renita pelan. Perempuan itu kemudian mengambil tas back packnya dan menggendong di punggung, dan tangan kirinya mengangkat tas yang digunakan untuk menyimpan perlengkapan wanitanya. Tidak lama kemudian, perempuan itu meninggalkan ruang tamu, kemudian menaiki tangga untuk menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


Sisi positif yang dirasakan pada keluarga ini dengan adanya cobaan santet yang diperoleh keluarganya, tingkat ibadah dan keimanan yang dirasakan menjadi lebih meningkat. Dulu sebelum mereka menjalani pengobatan, sering kemarahan terjadi di dalam keluarga ini, dan bahkan pertengkaran antara Renita dan Andri juga sering terjadi. tetapi setelah sering mendengarkan kajian dari para ustadz, yang didengarnya lewat you tube maupun kajian secara langsung, akhirnya hal-hal diatas bisa ditekan.


Renita yang dulu sempat menderita hipertensi sampai pernah tekanan darahnya di atas 200, saat ini tekanan darahnya menjadi normal. Bahkan obat-obatan yang banyak dikonsumsi oleh Renita, semuanya sudah dibuang, dan juga tidak pernah lagi mereka pergi ke dokter.

__ADS_1


*********


__ADS_2