
Baru beberapa saat duduk di dalam ruangan sendiri, tiba-tiba Renita melihat sekelebat bayangan Cahyono melintas di depan ruang kerjanya. Merasa tidak nyaman karena terus-terusan meminta bantuan anak muda itu, tanpa bayaran apapun Renita sengaja tidak mau menemui Cahyono. Renita tetap bertahan dalam ruangan. Namun tiba-tiba terdengar ketukan pada pintu ruangan, dan ketika perempuan itu melihat ke arah pintu, ternyata Cahyono sudah berdiri di tengah pintu.
"Eh mas Cahyo... mari pak, silakan masuk!" Renita mempersilakan Cahyono masuk dengan ramah.
"Baik Bu.." dengan sopan,. Cahyono segera masuk ke dalam. Laki-laki muda itu tanpa canggung, mungkin karena didikan orang tuanya langsung menjabat tangan Renita sambil menundukkan wajah, kemudian mencium punggung tangan perempuan itu.
"Duduk mas.." Renita mengajar Cahyono untuk segera duduk.
Beberapa saat kemudian Cahyono duduk di depan Renita, dan seperti biasa laki-laki itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Namun tidak ditemukan ada hal yang aneh, kemungkinan kembali menghadap pada perempuan di depannya itu.
"Terima kasih ya mas untuk tadi malam, suami saya sudah ngrepoti mas Cahyo. Saya malah ga tahu kalau tadi mas Andri menghubungi mas Cahyo, kalau suami saya tidak cerita tadi pagi." karena merasa malu, Renita lagi-lagi mengucapkan terima kasih.
"Santai saja Bu, tidak perlu dipikirkan. Ibu ini sudah kami anggap sebagai keluarga Bu. Jadi jika terjadi apa-apa tidak perlu sungkan untuk menghubungi. Juga menjadi kewajiban kita untuk saling tolong menolong." sahut Cahyono.
"Oh ya Bu..., bagaimana kalau ibu saya ajak ke tempat Kiyai Muh Dain di lereng gunung Andong. Karena jujur Bu, kekuatan yang saat ini, saya kurang bisa mengetahuinya. Jika saya paksa untuk menariknya keluar, kami kasihan jika fisik dan energi Bu Renita tidak kuat." dengan hati-hati, Cahyono memberi informasi.
"Tidak apa-apa mas, nanti coba saya sampai ke suami saya untuk atur jadwal mas. Karena kalau berobat, saya sudah terbiasa melibatkan suami dan juga anak-anak." tanpa berpikir Renita langsung menyetujui.
"Malah bagus itu ibu... pasangan hidup kita memang harus selalu tahu apa yang akan kita lakukan. Karena pada dasarnya ridho suami merupakan kunci surga bagi seorang istri. Selain itu, juga disarankan memang sama-sama untuk berikhtiar meskipun Bu Renita yang lebih dominan merasakan sakit." Cahyono ikut menguatkan.
Kembali Renita merasa tatapan mata Cahyono semakin dalam kepadanya. Tapi perempuan itu hanya diam tidak berkomentar, karena sudah tahu dan terbiasa dengan yang dilakukan anak muda itu.. Cahyono memang sebenarnya tipe laki-laki pendiam, dan tidak banyak bicara. Sikapnya sopan dan selalu menghormati siapapun.
__ADS_1
"Jika bisa di hari Sabtu atau Minggu ya mas. Biar anak-anak keduanya bisa ikut kalau pas di hari libur." lanjut Renita.
"Baik bu.., nanti tak ngajak mas Suryo untuk sowan ke rumah pak Kiyai. Biasanya bapak yang akan ke tempat pak Kiyai duluan untuk membuat janji." kata Cahyono.
"Itu jin kiriman baru Bu, sudah diperbaharui kontrak MoU mereka dengan para dukunnya. Memang untuk kiriman santet jaman dulu berbeda dengan santet jaman sekarang. Jika jaman dulu, orang yang terkena santet, perutnya jadi besar, ada bola api yang turun ke atap rumah Untuk saat ini lebih halus, dan terkadang kita juga tidak sadar jika itu merupakan kiriman santet." Cahyono melanjutkan.
"Iya mas..., saya hanya bisa pasrah dan sebisa mungkin ikhtiar. Semoga saja bisa menjadi penggugur dosa-dosa saya di masa lalu. Aamiin. Tidak berpikir dendam, atau apapun, saya sudah mati rasa mungkin mas." Renita tersenyum kecut.
"Sabar ya Bu.. harus banyak-banyak bersabar. Inshaa Allah akan ada hikmah di balik kejadian ini." ucap Cahyono.
"Aamiin."
******
"Bu Renita mau pulang sekarang ya?" karyawan admin prodi Manajemen menyapa perempuan itu.
"Iya mbak Cici.. tidak mau memaksakan tubuh mbak.." sahut Renita menanggapi perkataan Cici.
"Iya Bu Ren... selalu jaga kesehatan. kalau sudah merasa capai langsung pulang saja. Toh jam kantor untuk dosen hanya tiga jam saja." mbak.Cici menanggapi.
"Okay mbak.., aku duluan." Renita langsung bergegas meninggalkan mbak Cici.
__ADS_1
Renita kemudahan berjalan menuruni anak tangga untuk menuju ke lantai satu. Ketika ada di pertengahan lantai, Renita merasa ada seseorang yang sedang berjalan di belakangnya. Perempuan itu kemudian mengintimidasi ke belakang, ternya Tommitius sedang berada di belakang. Renita agak berhenti, dan dari sudut matanya dia melihat laki-laki tua itu juga tidak berhenti. Padahal jika dia memang mau dan niat, laki-laki tua itu dapat mendahului Renita.
"Kenapa tidak Bu Renita datangi saja Bu.. Lihat reaksinya nanti, laki-laki tua itu tidak akan mau mengajak Bu Renita bicara Bu.. Karena itu sudah dipesan oleh dukunnya. Pak Tomm tidak akan berani'." tiba-tiba Renita teringat dengan perkataan Cahyono.
Selain perkataan Cahyono, Renita juga teringat dengan perkataan yang keluar dari mulutnya ketika dirukiyah oleh ustad Abdurrahman.
"Tommitius Sahari akan selalu menghindar dan tidak mau bertemu langsung dengan ibunya ini. Tommitius takut, karena ibu ini punya senjata yang menyakiti tubuhnya. Makanya selagi ada kesempatan, Tommitius akan berusaha menghindar." kembali ingatan itu muncul di benak Renita.
Ketika sampai dilantai bawah, di depan finger print Renita bertemu dengan salah satu dosen Bisnis Digital. Seperti biasa, dosen-dosen itu seperti bertemu dengan ibunya jika ketemu Renita. Sehingga mesti ada percakapan di antara mereka.
"Bu Ren.., sudah mau pulang ya?" Anjar dan Hazmin menyapa Renita.
"Iya mas.. sudah lelah pingin segera tidur. Pada mau kemana?" Renita balik bertanya.
"Mau ke koperasi bu, mau cari camilan." sahut Hazmin.
"Ya sudah sana duluan. Aku masih harus presensi dulu." Renita meminta kedua laki-laki muda itu untuk berjalan duluan. Perempuan itu segera menuju ke mesin presensi untuk scanning sidik jari.
Setelah melakukan presensi dan mendengar kata thank you, menandakan jika kehadiran Renita sudah terekam alat. Sambil berjalan menuju pintu keluar, Renita berpikir. Sehari dan secara logika, karena Renita sudah berhenti beberapa kali, Tommitius akan melanggarnya. Namun sampai Renita keluar dan turun dari Gedung C, laki-laki itu tidak terlihat.
"Hmmm. . . ternyata benar apa yang diucapkan masa Cahyo. Dasar licik.. lihat saja apa yang akan terjadi kepadanya nanti." gumam Renita sendiri.
__ADS_1
*********