Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 84 Kesalahan


__ADS_3

Renita kemudian mulai menguatkan hatinya, dan sambil menunggu reaksi suaminya, perempuan itu melipat mukena kemudian menyimpannya. Ada ketenangan dalam sudut hatinya, meskipun bagaimana tanggapan dari suaminya Andri, belum diberikan kepada perempuan itu. Ada batu besar yang mengganjal di hati, seperti sudah hilang terangkat pergi.


"Sudah Ayah maafkan Mah. Wa alaikum salam wr wb, dan yang penting yakin, dan Insyaa ALLAH sembuh dan hilang ganguan2nya Mah 🤲🤲🤲 Aamiin YRA." tidak lama kemudian jawaban dari suaminya terkirim dan terbaca oleh Renita.


Membaca pesan dari suaminya, seakan membaca surat cinta yang pertama kali dari pacarnya. Renita langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian bersujud tersungkur di atas lantai kamar atas. lantunan ucap syukur kepada Allah, terus diucapkan oleh perempuan itu. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat, dan ketenangan kembali merasuk di kalbu perempuan itu.


"Terima kasih ya Allah atas kesempatan yang masih Engkau berikan kepada hamba ini, hingga hamba bisa menyampaikan permohonan maaf kepada suami hamba ya Allah, Kelapangan hati suami hamba, pasti juga karena hidayah Mu ya Allah." kembali Renita mengucap rasa syukur kepada Allah.


Setelah mendapatkan kata maaf dari suaminya, Renita perlahan membaringkan tubuh di atas ranjang, dan tidak lama kemudian perempuan itu mulai memejamkan matanya. Seakan ada sebuah ganjalan di dalam hatinya telah terangkat pergi.


*********


Di tempat lain


Tommitius terlihat sedang berbincang serius dengan keponakannya Wanto, mereka memang menjadi pasangan duet yang sangat luar biasa, sangat tangguh, hanya saja pasangan duet untuk keburukan bukan untuk kebaikan manusia lain. Ambisi yang besar, namun tidak diimbangi dengan kapabilitas sudah membutakan penglihatan mereka, sehingga segala macam cara untuk menjatuhkan orang lain, selalu mereka tempuh. Padahal jika mereka mau menyadari, posisi yang mereka miliki saat ini, sudah menjadikan mereka di atas angin,

__ADS_1


"Bagaimana paklik.. apa lagi yang akan paklik bicarakan pada saya..?" tanya Wanto pada pamannya itu. Sebenarnya dalam hati, Wanto sudah menyerah dan merasa kalah atas upayanya untuk menjatuhkan Renita, karena selalu gagal. Namun gosokan dari pakliknya itu, dan ketika berurusan dengan BI checking, maupun ketegasan Renita ketika menjabat, memang sudah membutakan mata hatinya.


"Ada lagi tidak yang lainnya, karena aku melihat si Renita itu masih tetap berdiri tegak, dan malah semakin bersinar di UP. Padahal secara logika, perempuan itu sudah tidak memiliki taring, dan tidak memiliki kuasa dan jabatan. Tetapi namanya malah semakin terkenal kemana-mana, semua orang memuji dan membicarakan kebaikannya," terlihat Tommitius berapi-api, dalam menunjukkan ketidak sukaannya pada Renita,


Wanto terdiam, dalam hati laki-laki paruh baya itu ingin mengerem tindakan kejam dari pakliknya itu. Untuk menyudahi atau menghentikan, karena Wanto juga memiliki kekhawatiran jika apa yang dikirimkannya pada Renita akan membalik pada pakliknya. Padahal beberapa waktu lalu, Tommitius sudah harus rawat inap di rumah sakit sebanyak hampir tiga minggu karena gejala stroke ringan yang dideritanya. Namun sepertinya hal itu tidak membuatnya menjadi sadar atau introspeksi pada tindakannya.


"Gimana Want.. apakah ada cara untuk memberikan pelajaran pada perempuan itu. Bukan hanya sakit, sekalian saja dihabisi seakar-akarnya dari UP." dengan berapi-api, Tommitius terus menyampaikan pendapatnya.


"Atau kita kembali ke orang pintar yang dulu pernah kita pakai paklik, karena kalau yang terakhir ini kita sudah mencobanya beberapa kali, khawatir Wanto sudah lebih dari tiga kali. Paklik tahu sendiri bukan, bagaimana akibatnya untuk paklik, jika lebih dari tiga kali kita tetap memaksakan diri untuk meneruskannya lagi." Wanto mencoba strategi baru.


"Itu dulu kan sesuai paket yang paklik ambil, dan uang yang paklik bayarkan pada orang pintar itu. Kalau dulu kan paklik, hanya mengirimkan serangan melewati barang sehingga bayarnya murah. namun akhir-akhir ini kan bukan barang yang paklik kirimkan, namun sudah berupa penyakit yang secara medis ada nama penyakitnya. Gimana, hanya itu paklik informasi yang Wanto dapatkan.." Wanto yang sudah merasa malas di minta terus mencari orang pintar untuk membantu mewujudkan ambisi pakliknya, terus menekan pakliknya.


Tommitius terdiam sebentar, dan tampak sebuah halusinasi di depan wajahnya. Bagaimana terlihat Renita tersenyum dengan memberikan ejekan kepadanya, seperti jelas muncul dalam pandangannya. Rasa benci dan rasa dendam dalam hatinya tiba-tiba muncul dan terangkat kembali ke permukaan.


"Ya sudah coba itu saja, yang penting perempuan itu harus segera celaka. Tapi tanyakan dulu, jika aku tidak ikut kesana apakah bisa. Karena kerjaanku banyak, dan aku juga harus banyak istirahat setelah masuk rumah sakit terakhir kali." Tommitius langsung berjalan meninggalkan Wanto.

__ADS_1


Wanto hanya terdiam memandang punggung pakliknya yang berjalan meninggalkanya. Ada rasa jengkel laki-laki itu terhadap Tommitius, tetapi bagaimanapun mereka masih memiliki hubungan keluarga. Dirinya adalah anak dari kakak laki-laki itu.


"Aku sendiri sebenarnya malah takut dengan pembalasan dari bu Renita. Perempuan itu diam, dan tetap masih bisa bertahan sampai seperti ini. Padahal jika itu adalah perempuan atau orang lainnya, pasti dia sudah akan mati, atau mengalami sakit yang tidak akan bisa disembuhkan. Tetapi beda dengan bu Renita.. dia masih tetap kemana-mana sendiri, nyetir sendiri, dan wajahnya semakin bersinar. Aku malah takut dengan orang seperti itu, yang tidak menunjukkan emosi atau perubahan sikap kepada siapapun." Wanto bergumam sendiri.


"Hei lagi melamunkan siapa mas, siang-siang begini. Bisa-bisa kangslupan nantinya.." Wanto kaget dan tersentak, ternyata melihat mas Eri partner kerjanya tiba-tiba sudah berdiri di depannya.


Wanto mengangkat wajahnya ke atas, untung saja Eri yang datang dan bertanya kepadanya. Jika itu adalah orang lain, Wanto akan mati kutu.


"Lagi jengkel saja Er.. masak paklikku itu masih saja terus meminta tolong kepadaku. Yah.. kalau permintaan tolongnya itu masuk akal, bagiku tidak masalah. Tapi ini permintaan yang itu-itu saja, sampai panas dan bosan telingaku itu mendengarnya." secara eksplisit Wanto tidak menceritakan apa yang diminta oleh pakliknya.


"Yang sabar saja mas Wanto.. lha kalau bukan mas Wanto, mau siapa lagi. Kalau kita-kita ya gak mampu, bisa menyelami dan menerima dengan tulus perlakuan pak Tomm pada kami. Mas Wanto kan juga tahu sendiri kan, bagaimana watak dan karakter pak Tomm, semua orang di UP juga sudah membicarakannya." Eri panjang lebar berani mengemukakan penilaiannya,


Wanto tersenyum kecut, namun dalam hati laki-laki itu mengiyakannya. Akhirnya dua laki-laki itu duduk berdampingan, dan mengeluarkan rokok untuk kemudian dihisapnya di tempat itu. Banyak orang yang menghindar untuk mendekat pada Wanto, karena track recordnya di masa lalu. Namun Eri memang masih dekat dengannya sampai saat ini.


**********

__ADS_1


__ADS_2