
Terlalu lama Renita mengalami halusinasi, dan ustadz yang membantu proses rukiyah juga sudah kelelahan terserap energinya. Beberapa kali, ustadz merasakan jika jin dalam tubuh Renita sudah di tengkuk, dan tinggal mendorongnya keluar untuk dimuntahkan, namun kembali jin itu turun ke bawah mengikuti aliran darah. Renita tertawa-tawa seperti mengejek kekuatan energi ustadz. Tiba-tiba ustadz memegang kaki kiri Renita, kemudian memijat di celah antara jari kelingking dan jari manis.
"Aaaawwww... sakit... sakit.., hentikan pak ustadz sakittt.." Renita berteriak melengking kesakitan.
Daging seperti tersayat dan terlepas dari tulang-tulangnya, rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuh, dan kepala Renita juga merasa sakit kesakitan. Bahkan gadis itu tidak tahu, siapa sebenarnya yang merasakan sakit itu, apakah jin di dalam tubuhnya, ataukah Renita sendiri, Dengan tatapan prihatin, Andri menatap istrinya dengan rasa kasihan, dan ingin menggantikan rasa sakit yang diderita oleh istrinya.
"He.. he.. he.., jika kamu merasa sakit keluarlah.. jangan ganggu ibu ini, jangan ganggu keluarganya. Ibu ini orang baik, jangan kamu ganggu. Akan banyak orang yang menolong ibu ini dan keluarganya, meskipun ibu ini tidak minta pertolongan. Kamu dan dukun serta orang yang membayar dukun itulah yang jahat, syirik, dan termasuk kaum-kaum yang kafir, Maka aku nasehati.., keluarlah, ibu ini tidak akan dendam padamu, karena bu Renita dan keluarganya itu pemaaf. Ayo ikut aku.., aku pandu untuk masuk Islam.." kembali ustadz Abdurrahman menyampaikan nasehat untuk jin yang masih berada di dalam tubuh Renita.
"Tidak bisa pak, tidak semudah itu. Aku akan keluar jika ibu ini sudah mati, tubuhku diikat di dalam ibu ini pak. Aku tidak tahu dimana jalan keluarnya, dimana aku harus membebaskan diriku.. Jangan sakiti aku pak, biarkan aku tetap bertahan di dalam tubuh ini. Jika ibu ini mati, aku akan keluar dengan sendirinya.." terdengar Renita bicara sendiri.
"Kamu itu belum sadar, aku tidak akan membiarkanmu untuk terus menyakiti ibunya.." ustadz Abdurrahman kembali memijat celah antara jari manis dan jari kelingking Renita.
Kembali suasana menjadi mencekam, karena menjerit kesakitan, dan lengkingannya sangat menyayat hati. Tidak tega melihat penderitaan yang dialami istrinya, tiba-tiba Andri melihat tangan kiri Renita menepuk tengkuknya sendiri. Tanpa minta ijin terlebih dulu dengan ustadz, Andri memegang tengkuk istrinya, dengan niatan dalam hati untuk menarik rasa sakit itu agar berpindah kepadanya.
__ADS_1
"Aaawww .. berat.., berat ustadz.. sakitt..." tiba-tiba jeritan Renita berhenti. Namun saat ini terlihat Andri yang gantian berteriak kesakitan, merasa berat di pundak kirinya dan seperti tidak bisa menahannya.
Ustadz Abdurrahman dengan reflek berpindah ke belakang Andri, kemudian melantunkan ayat-ayat suci sambil kedua tangannya mendorong punggung Andri ke atas, dan diarahkan ke tengkuk laki-laki itu. Di samping Andri, Renita yang sudah memiliki kesadaran kembali tersenyum melihat apa yang dialami suaminya. Namun Renita sendiri sangsi, jika bukan dirinya sendiri yang tersenyum melihat siksaan yang dirasakan suaminya itu.
"Hoeeekkk... hoeekkk... " tiba-tiba Andri meraih tas kresek, kemudian laki-laki itu memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat, terlihat ustadz dan Andri terlihat lemas.
Renita mengambil beberapa lembar tissue, kemudian membantu suaminya mengusap keringat yang membasahi wajah laki-laki itu, sambil melihat wajah suaminya penuh keprihatinan.
"Pak Andri tadi menarik jin di tubuh ibu ya... Besok lagi, jika tidak ada pendampingan, jangan dilakukan ya pak Andri. Karena bisa berbahaya jika tidak ada yang membantu untuk mengeluarkannya.." Ustadz Abdurrahman terlihar masih bernafas terengah-engah. Energi kedua laki-laki yang membantu Renita itu terlihat sudah habis terkuras.
"Begitulah yang dirasakan ibu setiap hari pak.., yang dirasakan bapak saja baru sebagian. Jadi bapak juga bisa merasakan penderitaan ibu bukan.. he.. Tapi besok lagi, saya pesan jangan diulangi lagi jika tidak ada yang mendampingi bapak." kembali ustadz Abdurrahman menyampaikan pesan.
"Pak ustadz.., ayah.. sebenarnya dalam tubuh ini masih ada. Saya bisa merasakan dan letakknya ada dimana, tapi saya tidak sanggup lagi ustadz, jika harus dikeluarkan saat ini. Saya tidak sanggup lagi.." melihat ustadz dan suaminya yang sudah banyak kehilangan energi, begitu juga dengan tubuhnya yang juga merasa lemas, Renita memberi tahu dua laki-laki di depannya itu.
__ADS_1
"Iya bu.. saya paham, yang penting ibu dan bapak harus istiqomah., Untuk pak Andri, saya pesan untuk tidak bosan-bosan mendampingi ibu. Semoga hal ini menjadi ibadah untuk bapak dan ibu sekeluarga. Asalkan ibu dan bapak ikhlas, Inshaa Allah kesembuhan akan segera datang menghampiri keluarga bapak. Dosa ibu dan keluarga akan dihapuskan Allah dengan sarana siksaan ini.." dengan arif, ustadz Abdurrahman menyampaikan tausiyah,
"Baik ustadz.., terima kasih. Saya juga sudah pasrah ustadz. yang penting saya sudah ikhtiar, meningkatkan kualitas ibadah juga. Jika nantinya saya kalah dalam perjuangan ini, sampai Allah memanggil saya untuk kembali, Inshaa Allah saya ridho ustadz, saya ikhlas, dan semoga bisa menjadi ibadah mati sahid untuk saya nantinya.." tidak diduga, Renita menanggapi perkataan ustadz Abdurrahman.
Andri meneteskan air mata mendengarkan kepasrahan istrinya, sisi positif yang dirasakan oleh laki-laki itu adalah, berubahnya pola kejiwaan dan psikhologis yang dialami istrinya. Renita yang dulunya suka marah-marah hanya karena masalah kecil, untuk saat ini lebih bisa mengendalikan emosinya. Bahkan sering terjadi, ketika dalam rumah tangga Andri marah dengan anak-anak mereka, Renita akan mendamaikannya.
"Iya bu Renita.. pak Andri.. alhamdulillah ada kepasrahan dalam penerimaan ibu. Hal ini akan menjadi poin bagus, untuk ibdah ibu, dan membantu keluarga pak Andri untuk lebih dekat pada Allah. Mungkin Allah terlalu menyayangi keluarga bapak dan ibu, sehingga dengan caranya, beliau mendekatkan bapak dan ibu dengan Allah melalui cobaan dan ujian ini." ustadz Abdurrahman menanggapi kembali.,
Andri dan Renita berpandangan, karena memang sudah hampir empat jam, mereka berada di rumah ustadz Abdurrahman, akhirnya pasangan suami istri kemudian berpamitan pada laki-laki paruh baya itu.
"Kami mohon pamit ustadz, semoga amal bantuan ustadz memndapatkan balasan dari Allah.." Andri kemudian bersalaman sambil memberikan sekedar uang untuk berbagi, sebagai ucapan terima kasih atas bantuan dari ustadz tersebut.
Ustadz Abdurrahman mengantarkan pasangan suami istri itu sampai menuju ke mobil, yang kali ini diparkirkan di halaman samping rumah.
__ADS_1
**********