
Setelah kedua putra Andri dan Renita berangkat ke sekolah, Andri mengajak istrinya untuk berbincang-bincang. Karena jika dihitung-hitung, hari ini merupakan hari terakhir mereka berada di hotel ini. Mereka mempunyai pilihan untuk check out dan mencari hotel lain, atau tetap bertahan di hotel ini namun harus melakukan booking lagi. Tadi malam, Andri sempat menanyakan tarif menginap kepada penjaga hotel, dan ternyata tarif menginap malah lebih murah jatuhnya jika booking melalui traveloka.
"Bagaimana mah... hari ini mau pindah hotel, atau mau tetap berada di hotel ini. Karena jika harus pindah, kita harus segera bersiap melakukan packing di kamar ini, juga kamar anaknya. Nanti baru kita kasih tahu pada Zidan dan Vian jika kita sudah pindah ke hotel lain." sambil duduk melihat televisi, Andri bertanya pada istrinya.
",Mamah malah bingung yah.. Jika suasana sekitar hotel itu mamah suka yah, disini banyak pohon, jadi terasa sejuk dan asri. lagian lingkungannya juga terasa tenang dan adhem. Tapi yah.., tadi ketika mamah dzikir pagi, tiba-tiba mamah melihat seperti ada penampakan di depan pintu kamar yang ada di samping kamar adik di depan kita." Renita kemudian menceritakan apa yang dilihatnya ketika dzikir pagi.
Andri mengambil nafas panjang, kemudian mengambil keputusan tegas.
"Kita pindah saja mah.., cari hotel lainnya. Ayah merasa seperti mendapatkan firasat buruk.." ucap Andri yang spontan menyikapi hal itu. Laki-laki itu memang sangat protect, bagaimana haris menjaga keluarganya agar tidak terkena gangguan.
"Tapi sebenarnya tatapan keduanya itu tidak mengganggu yah, seperti tidak ada kemarahan dalam tatapan keduanya. Hanya seperti menyiratkan kesedihan, karena mereka menangis sambil menatap mamah. Apakah mengisyaratkan minta tolong atau apa, mamah sendiri tidak tahu yah.. Dan itu bukan pada saat mamah tidur dan bermimpi lho yah, tetapi ketika mamah melakukan dzikir pagi.." Renita kembali menambahkan.
"Mamah .. entah apapun itu mah, kita tidak tahu dan jika makhluk itu muncul lagi, kita juga tidak bisa untuk melakukan apa-apa. Dari pada ambil resiko mah, mengingat kejadian akhir-akhir ini yang menghantui mamah, kita ambil jalan aman saja. Kita berbenah, packing.., kemudian kita pindah dan cari hotel yang baru." ternyata ANdri sudah keukeuh untuk keselamatan istrinya.
Laki-laki itu kemudian langsung membenahi barang-barang dan merapikannya, kemudian memasukkan ke dalam tas yang mereka bawa tanpa minta pendapat langsung dari istrinya. Renita yang sebenarnya merasa enggan untuk berpindah dan mencari hotel yang baru, hanya mengikuti suaminya. Perempuan itu kemudian juga tidak hanya tinggal diam saja, namun juga kemudian bergegas membantu suaminya.
"Printer tidak digunakan lagi to mah pagi ini.. jika tidak mau ayah pack, dan bawa ke mobil sekarang juga untuk nyisil mengangkatnya ke mobil." tanya Andri.
__ADS_1
"Sudah tidak ada yah, angkat saja ga pa pa..": sambil menyusun pakaian dengan memindahkan tumpukan dalam lemari ke dalam trolly bag, Renita menjawab pertanyaan suaminya.
Terlihat Andri membuka pintu kamar hotel, kemudian beberapa barang yang sudah di pack, diangkat dan dibawanya turun ke bawah. Suami Renita itu memang orangnya praktis, selalu bergerak cepat untuk menyelesaikan sesuatu, dan sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh Renita. Mereka ini memang bisa dibilang sebagai pasangan hidup yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya. begitu juga dengan kedua anak pasangan ini, Zidan dan Vian juga memiliki karakter yang berbeda. Kamar Zidan terlihat rapi dan bersih, karena anak itu rajin membersihkan dan berbenah. berbanding terbalik dengan kamar Vian yang kotor dan berantakan.
*********
Jam sepuluh lebih tiga puluh menit, akhirnya Andri mengajak keluar Renita untuk keluar hotel. padahal hotel lanjutan belum dibooking oleh Renita, namun mereka sudah memutuskan untuk melakukan check out. Baru saja mau keluar dari dalam hotel, tiba-tiba Renita mengalami rasa sakit di mata dan telinganya. Perempuan itu hanya mengusap-usap dan mengoleskan peppermint untuk mengurangi rasa nyerinya. Hal itu bisa membantu meredakan untuk beberapa saat.
"Mah.. kita akan ke arah mana tujuan kita..?" Andri sambil menyetir bertanya pada istrinya.
"Mmm.. kita mampir ke kopi Ponti dulu saja yah.. sambil mamah cari hotel untuk kita nanti malam lewat aplikasi Traveloka.." jawab Renita sambil melihat-lihat aplikasi tersebut.
Laki-laki itu kemudian mengarahkan mobilnya ke arah yang dituju dan dikatakan Renita. Karena masih terlihat pagi, halaman parkir di kopi Ponti masih belum terisi penuh. Setelah menghentikan mobilnya, Andri kemudian turun dari mobil, kemudian merangkul Renita dan mengajaknya masuk ke dalam.
"Kenapa mah, sejak tadi memijat-mijat alis dan mengusap mata kiri..?" Andri bertanya pada istrinya, karena sejak mereka keluar dari hotel, Renita terlihat seperti mengalami nyeri.
"Tidak tahu yah.., sejak tadi dari arah telinga ke alis dan ke mata nyeri banget rasanya. Ini tadi sudah mamah olesi peppermint oil, sudah agak berkurang rasa nyerinya." masih sambil memijat, Renita menjawab pertanyaan dari suaminya.
__ADS_1
Andri terdiam, teringat ketika hal yang sama menyebabkan istrinya divonis dokter mata mengalami stroke mata. Tapi untuk mengurangi rasa panik pada istrinya, yang malah bisa memicu atau memperparah kondisi sakitnya, laki-laki itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Maklum mah.. itu kan sakit seperti THT, telinga, hidung dan tenggorokan. Jadi ketika salah satu bagian itu merasa nyeri, maka akan merembet ke bagian yang lainnya." sahut Andri.
"Hmm.. bisa jadi yah.." Renita sebenarnya sudah menyadari, jika rasa nyeri itu bukan timbul dari rasa sakit medis, karena dia yang mengalaminya setiap hari, sehingga bisa membedakannya. Namun perempuan itu hanya diam, tidak menanggapi suaminya.
Andri mengajak Renita untuk duduk di sisi utara, yang lumayan sepi dan kebetulan dekat dengan terminal untuk charge ponselnya. Sejak tadi, ponsel Renita memang habis baterainya karena sejak semalam lupa untuk mengisi daya. Andri kemudian memilih menu makanan, dan hafal dengan kesukaan Renita, laki-laki itu sekalian memesan roti pisang.
"Mamah mau makan apa, ayah paket ayam saja." Andri bertanya pada istrinya,
"Paket nila saja yah, mamah bosen ayam. Lagian rahang mamah masih nyeri, nanti kena makanan alot malah bertambah sakit.." Renita menjawab.
Tidak lama, selain dua menu makan siang yang mereka pesan, Andri menambahkan menu roti pisang dan tahu berontak. Untuk minuman, mereka berdua kebetulan penikmat teh manis panas. Kebetulan selama beberapa hari tinggal di hotel, teh yang biasa mereka minum tidak mereka dapatkan.
"Drttt..." tiba-tiba ponsel Renita bergetar, dan terlihat nama Suryo kakaknya Cahyono yang sedang mengirimkan pesan whattapps.
"Dari siapa mah..?" tanya Andri perlahan.
__ADS_1
"Mas Suryo yah.." ucap Renita sambil menggulir pesan tersebut.
**********