
Hari-hari terus berlalu, dan pada saat diadakan doa untuk sementara waktu, di UP tidak terdengar terjadi hal yang aneh-aneh, seperti mahasiswa kesurupan ataupun hal ekstrim, yaitu para karyawan mengalami rasa sakit. Hanya saja, beberapa orang yang mengaku bisa melihat, memberi tahu beberapa orang agar berhati-hati. Mereka mengatakan jika ada pegawai UP yang melakukan ritual dengan jin, untuk mewujudkan ambisinya mendapatkan kekuasaan di UP.
"Aku melihatnya di semua wilayah UP terutama di gedung unit 1 ini seperti jaring laba-laba, membentuk sebuah jebakan batman. Kali ini dia mencari tumbalnya secara acak, yang perlu kita perhatikan adalah efek bagi yang terkena. Tubuhnya akan menjadi lemas, dan bahayanya lagi ketika terbawa pulang, akan mengenai anggota keluarganya di rumah." Dhani karyawan dari kampus 2 memberikan informasi pada teman-temannya.
"Maksudmu bagaimana say.., aku kurang dapat untuk menangkapnya?" merasa bingung dengan apa yang dikatakan Dhani, Wati meminta penjelasan.
Nanik yang memahami apa yang dikatakan Dhani, berusaha untuk mencegah perempuan muda itu berbicara, Tetapi tiba-tiba saja mata Dhani sudah berubah, dan terlihat jika perempuan itu seperti sudah masuk ke portal dunia lain.
"Aku melihatnya sangat mengerikan, disitu ada sekitar empat gadis perawan, dan salah satunya adalah karyawan di lembaga kita. Mereka seperti terbaring dengan tidak mengenakan pakaian sama sekali, tetapi tubuh mereka terikat, dan pak Tomm membuat sebuah ritual di dalamnya. Hati-hatilah.., semua bisa terkena jika kita tidak menyiapkan pelindung untuk diri kita.." Dhani semakin berbicara tidak karuan.
Wati kaget, perempuan yang meminta penjelasan itu menjadi ketakutan melihat ekspreksi yang ditunjukkan oleh Dhani. Tiba-tiba Nanik memegang punggung Dhani kemudian mengusapnya beberapa kali ke bawah, dan itu terus diulang.
"Dhani.. Dhani.. kembalilah, tidak perlu kamu jelaskan, Aku juga bisa melihatnya.." dengan suara pelan, Nanik berusaha mengembalikan kesadaran Dhani.
Tubuh Dhani tiba-tiba tersentak, sepertinya kesadaran kembali kepadanya. Perempuan itu memang sudah pernah dipesan oleh keluarganya, untuk tidak ikut campur dengan masalah klenik di UP. Anggap saja semua hanya lewat di telinga kanan, dan akan keluar dengan sendirinya melalui telinga kiri. Tetapi ketika berkumpul dengan teman-teman baiknya, perempuan itu seperti terlena.
"Sorry ya mak.., say.. aku terbawa perasaan. Yang penting itulah, kita harus banyak-banyak membaca istighfar, kita kurangi ghibah, dan jangan lupa selalu sempatkan untuk membaca Al Fatehah ketika kita memasuki gedung manapun. Jika mau lebih aman, baca doa nabi Yunus La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin, yang artinya “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku apakah termasuk orang orang yang zalim." Dhani melanjutkan.
__ADS_1
Mereka bertiga kemudian terdiam, terlihat Dhani berusaha mengembalikan energinya yang sedikit terserap ketika tadi sempat masuk ke portal lain. Jika tidak segera dihentikan, maka energinya akan terserap habis, dan Dhani bisa menjadi lemas.
"Iya sudah, sudah.. yang penting kita harus berusaha untuk melindungi diri kita sendiri. Aku sebenarnya kasihan melihat tubuh sahabatku yang ada di Rektorat itu. Tubuhnya sering menjadi bahan diterimanya kiriman dari orang yang tidak menyukainya.." tiba-tiba giliran Nanik menerawang.
"Aku tahu makk..., mbak Ren ya.. Kita tidak usah ikut-ikut mak, itu sudah tingkat tinggi pengirimnya. Aku melihat tidak hanya satu orang dukun yang digunakan untuk menyerang mbak Renita, Namun dukunnya terlihat banyak." Dhani menambahkan.
"Benar.. tapi untung saja mbak Renita itu memiliki energi yang besar, dan juga terlihat banyak yang melindunginya. Entah dari siapa, aku tidak bisa menembusnya." Dhani menambahkan.
**********
Hari menjelang siang, kegiatan perkantoran semakin siang semakin ramai. Karena banyak mahasiswa maupun para alumni mengurus persuratan, mereka lakukan pada siang hari. beberapa karyawan yang sedang tidak banyak pekerjaan, banyak yang sedang ngerumpi ke masing-masing unit kerja. Tiba-tiba tanpa mereka ketahui, terdengar suara..
"Ada apa tuh, kalian mendengarnya tidak.." karyawan Biro Sarana Prasarana yang memiliki ruangan berdampingan langsung dengan lokasi pembangunan gedung baru pada bertanya-tanya.
"Iya .. aku juga mendengarnya. Apa ada tukang atau buruh pembangunan yang jatuh ya, coba kita lihat.." karyawan yang lainnya menyahuti.
Beberapa karyawan kemudian berlari mendekati jendela untuk mengintip apa yang terjadi di luar. Terlihat beberapa orang sedang mengerubungi suatu tempat, dan tampak terlihat kepanikan di wajah mereka. Tidak lama kemudian, seseorang sepertinya digotong pergi dan dimasukkan ke dalam mobil yang sudah menunggu di pinggir jalan. Tampak genangan darah terlihat di lokasi pembangunan, ketika ada seseorang yang digotong, dan dimasukkan ke dalam mobil.
__ADS_1
"Ya Tuhan.. siapa orang itu. Kasihan sekali keluarganya, semoga saja masih bisa diselamatkan.." beberapa karyawan yang melihat kejadian tersebut terduduk lemas. mereka kemudian duduk sambil mengusap dada mereka. Tampak kepanikan membersit di wajah mereka.
"Apakah itu pembangunan minta tumbal ya, seperti waktu pembangunan di auditorium dulu. Ada satu pegawai bangunan yang terjatuh dari lantai tiga, dan akhirnya tidak bisa diselamatkan. Masak pembangunan gedung ini, juga memakan korban.": sahut karyawan lain.
Seketika mereka terdiam dalam pikiran mereka sendiri-sendiri. Jika mereka tidak melihat sendiri bagaimana korbannya, mungkin mereka tidak akan menjadi shock seperti itu. Tetapi masalahnya, mereka sudah terlanjur melihat korban dipindahkan ke mobil, dan melihat genangan darah yang ditinggalkan, Meskipun selanjutnya terlihat para rekan pekerja segera mengambil air untuk menyiram darah tersebut,
"Kita harus banyak-banyak berdoa saja, semoga jika pekerja bangunan itu wafat, arwahnya tidak akan mengganggu kita. Aamiin.." Saef Kepala BSP mengajak anak buahnya di Biro Sarpras untuk melakukan doa bersama. Sejenak orang-orang itu tampak bertafakur, mereka menundukkan kepala ke bawah, dan mulai memanjatkan doa keselamatan untuk mereka.
********
Berita tentang jatuhnya pekerja bangunan akhirnya menyebar di UP. Namun anehnya, dari pihak yayasan maupun pihak rektorat terkesan menutupi kejadian itu. Tidak ada pemeriksaan, dan bahkan tidak ada polisi sama sekali yang melakukan pemeriksaan. Bahkan pihak pengurus yayasan dan pemborong, melakukan takziah ke keluarga korban yang berasal dari Purwodadi tanpa mengajak pihak lainnya.
"Bagaimana bu Renita.. apakah ibu juga mendengar cerita tentang pekerja bangunan.." mas Andi bertanya pada Renita.
"Iya mas.., saya juga sudah mendengarnya. Tapi memangnya apa yang bisa saya lakukan mas, pak Rektor saja terkesan menutupi kejadian itu. Ga tahu, ada apa di belakang semuanya itu." Renita tampak pasrah tidak mau menyoroti kejadian.
"Tidak usah ikut bicara saja bu, takut malah kita menjadi pihak yang disalahkan. Tidak tahu kejadian persisnya, masak kita akan berbicara seperti kita melihat sendiri kejadiannya." Niken ikut menambahkan.
__ADS_1
"Iya.. kita berdoa saja untuk keselamatan kita sendiri, dan orang-orang terdekat kita." ucap Renita sambil mengambil nafas dalam.
**********