Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 49 Kepanikan


__ADS_3

Melihat istrinya sudah bisa menguasai keadaan, Andri meninggalkan Renita di lantai satu. Beberapa saat kemudian, Renita menyusul Andri ke lantai atas, dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Namun baru beberapa saat, Renita merasa dadanya sesak susah bernafas. Perempuan itu berpikir jika dingin AC yang menyebabkan rasa sesak itu datang.


"Yah.. gimana jika AC di off kan dulu, dada mamah terasa sesak yah, susah untuk mengambil nafas." ucap Renita sambil duduk di pinggir ranjang.


Dengan sabar Andri memenuhi keinginan istrinya, tetapi sorot mata laki-laki itu seperti curiga ada sesuatu dengan istrinya. Beberapa saat Andri melihat istrinya memegangi dadanya, dan terlihat jika Renita kembali mengalami sesak. Namun Andri mendiamkannya, tetapi tiba-tiba Renita kembali berdiri dan berjalan keluar dari dalam pintu., Perlahan Renita menuruni tangga, kemudian duduk dan membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruang tamu. Tidak lama kemudian, Zidan keluar dari dalam kamarnya dan ketika melihat mamanya tidur di atas sofa, anak muda itu merasa ada sesuatu yang salah dan sedang terjadi pada mamanya.


"Mah... jangan tidur di situ, mamah tidur di kamar Reynard saja mah.." tidak tega melihat keadaan mamanya, Zidan meminta Renita untuk masuk ke dalam kamar. Putra bungsu Renita dan Andri itu memang hatinya sangat sensitif dan peka, dan terlalu sayang pada mamanya.


"Tidak dik, mamah disini saja. Dada mamah terasa sesak dik, sejak tadi susah untuk bernafas.." sahut Renita sambil memegangi dadanya. Perempuan itu kemudian mengambil peppermint essential oil, kemudian mengusapkan di leher dan dadanya, dengan harapan akan dapat melonggarkan pernafasannya. Namun tidak juga ada perubahan, perempuan itu masih merasa sulit untuk bernafas. Renita meneteskan oil ke masker, kemudian mengenakan masker tersebut, namun ternyata juga tidak berarti banyak.


"Kring.. kring.." tiba-tiba ponsel Renita berdering, dan terlihat Noncy sedang mengirimkan pesan kepadanya. Secepat kilat Renita mengambil ponsel, dan menggulir layar.


"Bagaimana kondisinya nyah, aku tiba-tiba saja merasa ada yang janggal dalam pandanganku." Noncy menanyakan keadaan Renita. Membaca isi pesan itu, jantung Renita menjadi berdebar, karena sahabatnya itu memiliki pandangan mata yang tajam. Dalam artian, orang lain tidak akan dapat melihatnya, tetapi Noncy sering bisa melihat dengan jelas.


"Ga tahu makkk.., sejak tadi aku merasa sesak dadaku, untuk nafas saja rasanya sesak banget. Sampai naik turun aku mencari rasa agar longgar dan bisa tidur." Renita menceritakan apa yang dirasakannya.


"Hmm.. ya jelas sesak Nyah.. Aku melihat pak Tomm sedang membuat asap pekat, aku saja sampai tidak bisa melihatnya dengan jelas. Pasti dong kamu akan mengalami rasa sesak.." tanpa diminta, Noncy menyampaikan hasil penglihatannya.

__ADS_1


Renita terdiam sebentar, tiba-tiba muncul rasa was was pada dirinya. Muncul rasa takut, jika malam ini adalah malam diambil nyawanya sama Allah. Semakin perempuan itu berpikir, ternyata rasa sesak kembali datang, dan semakin mencengkeram dadanya.


"Nyah.. santai ya, hilangkan kecemasan. Karena dari rasa takut dan cemas itu, jin akan mudah masuk dan mempengaruhi jalan pikiran kita. Aku membaca jika saat ini kamu dalam keadaan panik nyah, kendalikan dirimu, istighfar ya nyah. Perbanyak dzikir.." dari seberang ponsel, Noncy terus memberikan nasehat pada perempuan itu.


"Iya mak.. mauku juga begitu, tapi aku ga bisa menolak datangnya rasa  was was ini. Doakan aku ya makk, jika aku ada salah, maafkan dan ikhlaskan ya makk..." tiba-tiba Renita berbicara tidak masuk akal.


"Kamu bicara apa nyah.., jangan ngelantur, fokus doa, Kuasai dan kendalikan dirimu, jangan sampai sukmamu menjadi rebutan, jadi mainan orang dhalim. Kendalikan dirimu.." Noncy berbicara dengan nada tinggi.


Renita tersentak mendengar kata keras dari sahabatnya itu, seketika Renita mengucap istighfar berkali-kali.


"Sudah sekarang istirahat saja nyah, fokus berdoa, dan ingat selalu panggil nama lengkapmu jika kamu merasa ada yang akan mengendalikanmu. Jika perlu minum obat tidur, agar kamu bisa tidur nyenyak." Noncy terus memberikan arahan pada perempuan itu.


********


Merasa tidak nyaman, karena berkali-kali Zidan keluar kamar untuk meminta Renita tidur di kamarnya, akhirnya perempuan itu memutuskan untuk kembali ke kamar atas. Terlihat Andri sedang melihat cinema melalui gadget di tangan, sambil tiduran. Renita segera merebahkan tubuhnya di samping laki-laki itu.


"Astaghfirullahaladzim, La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin..." tiba-tiba dengan suara keras Renita mengucap doa sambil memegangi dadanya, seperti menahan rasa sakit.

__ADS_1


Andri sontak meletakkan ponselnya, kemudian mendatangi istrinya kemudian membacakan surat-surat pendek untuk membantu istrinya. Namun beberapa saat, laki-laki itu melakukan hal itu, belum ada tanda-tanda jika istrinya akan kembali kesadarannya. Tiba-tiba saja Andri merasa panik, kemudian melakukan panggilan telpon pada Cahyono, dan juga mengirim chat pada ustadz Abdurrahman untuk turut mendoakan istrinya.


"Saya bantu untuk doa dari sini ya pak, tolong bapak dan putra-putranya baca Allahu akbar terus berulang-ulang di telinga bu Renita, juga beberapa ayat yang saya kirimkan via pesan di whattsapps." terdengar suara Cahyono di ujung telpon. Untungnya laki-laki muda itu selalu dalam keadaan ready, dan membantu Renita beserta keluarga tanpa pamrih dan harapan apapun,


"Bismillahilladzi laa yadlurru ma'asmihi syaiun fil ardli wa laa fissamaai wahuas samii'ul 'aliim.." terdengar berkali-kali Andri membacakan ayat di telinga istrinya, namun tetap belum ada perubahan membaik dari kondisi istrinya.


Tiba-tiba Zidan dan Vian masuk ke kamar, karena melihat kepanikan di mata ayahnya. Biasanya di antara orang yang ada di rumah, ayahnya yang paling tenang. Namun kali ini terjadi secara kebalikan, yang menandakan jika mama mereka dalam keadaan genting. Tidak diduga kedua putra Renita dan Andri itu menangis meneteskan air mata, melihat reaksi kesakitan mamanya.


"Adik.., kakak.. bantu ayah. Baca An nas sebanyak-banyaknya, di mix dengan Allahu akbar.." sambil tetap mengucapkan doa, Andri memandu kedua putranya.


Sesaat suasana kamar di lantai atas itu diliputi kepanikan. Ayat-ayat doa melantun, dan terlihat Renita berjuang keras untuk mengendalikan dirinya. Dalam kepanikan di depan mata suami dan putranya, terlihat tubuh Renita tiba-tiba melengkung dan terangkat ke atas sampai tinggi.


"Astaghfirullahaladzim, La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin.," sambil menahan sakit dan nyeri, Renita terus berjuang untuk mempertahankan dirinya.


"Mama.. mama .. istighfar mah.." Zidan terus memanggil mamanya.


"Jangan panggil mama dik, panggil nama mama, Renita.," Andri berusaha mengarahkan putra bungsunya.

__ADS_1


"Tidak mau... mamah... mamah.. istighfar mah..." Zidan terus berteriak memanggil mamanya, dan Vian hanya berdoa dan menatap mamanya dengan tajam.


**********


__ADS_2