Ambisi Dan Sihir

Ambisi Dan Sihir
Chapter 37 Opportunis


__ADS_3

Di gedung FST


Terlihat Nancy sedang bertemu dengan Cahyono, untuk menanyakan kondisi putri bungsunya. Nancy kebetulan adalah seorang janda, dengan tiga putri yang masih remaja, Sama dengan dirinya, ketiga putri Nancy memiliki bakat indigo sejak lahir, sehingga terkadang terkena gangguan dari makhluk tak terlihat itu, atau terkadang juga bisa menjadi penolong untuk keluarganya.


"Itulah pak Cahyo.. aku bingung dengan apa yang dialami Pipin.. Sikapnya seperti sikap dan perilaku anak SD, padahal saat ini seharusnya dia sudah klas XI di SMU favorit di kabupaten Bantul. Aku bingung pak.. hal apa yang terjadi putriku. Bahkan terkadang, Pipin tidak mengenaliku, juga pada kedua kakak perempuannya.." wajah Nancy terlihat lemah, karena memikirkan kesehatan putri-putrinya.


Cahyono terdiam sebentar seperti menerawang. Laki-laki itu terlihat seperti menatap mata Nancy dengan tajam, tetapi beberapa saat kemudian mulai mengedipkan mata. Beberapa waktu kemudian, Cahyono menghembuskan nafas perlahan.


"Kalau yang saya lihat Bu.. sepertinya putri ibu dalam keadaan aman. Berubahnya perilaku mbak Pipin, bukan karena dijahati oleh orang lain Bu.., melainkan karena mbak Pipin ini mengalami salah gaul. Tetapi bukan gaul dengan manusia seperti kita dan lainnya, namun bergaul dengan kaum astral. Ibu memang harus bersabar menghadapi mbak Pipin.." dengan suara lirih, seperti khawatir jika didengar oleh orang lain, Cahyono menjelaskan.


"Maksud pak Cahyo.." tidak mampu menangkap maksud dari perkataan Cahyoni, Nancy mempertegas pertanyaannya. Perempuan yang memiliki jin nasab dari keluarganya itu juga merupakan sahabat baik Renita, dan tidka jarang memberikan pertolongan kepadanya jika Renita terkena masalah. Namun.. Nancy merasakan kesulitan untuk menyelesaikan masalah diri dan keluarganya.


"Mbak Pipin sepertinya memiliki teman dari makhluk astral, dan belum bisa memilih teman-teman yang baik. Ada teman yang baik, namun juga juga banyak teman anak kecil yang sering membuat kekacauan, Saat ini, kita memperbaiki kondisi psikhologis mbak Pipin, agar mentalnya lebih kuat, tidak terombang-ambing oleh pengaruh dari manapun." ucap laki-laki muda itu.


Ketika berbicara, Cahyono terlihat memiliki wajah serius. Sangat berbeda dengan kesehari-harian yang dilakukan oleh laki-laki itu. Tampak jika laki-laki itu bisa masuk dan menembus energi makhluk astral tersebut. Nancy bisa melihatnya, dan perempuan kembali terdiam. Bayangan tentang tindakan putrinya yang sering bertindak sendiri, dan bicara sendiri seperti memiliki teman sering terlihat di depannya. Tidak menyangka hal itu akan bisa nebjadi hal seperti ini.


"Jika boleh tahu.. apakah keluarga bu Nancy memiliki keturunan, yang pada masanya busa melihat atau berkomunikasi dengan makhluk dari dimensi lain. Karena jujur melihat sesuatu dalam keturunan garis leluhur dari keluarga bu Nancy" Cahyono melanjutkan.

__ADS_1


Nancy terkejut, tapi-tapi perempuan kemudian tersenyum kecut, kemudian melihat ke depan


"Benar pak.., kakekku sebenarnya dukun santet ikmu hitam. Beberapa kali kakekku bisa membunuh orang, hanya dengan menulis nama orang yang akan dihabisi, kemudian menggorengnya di atas wajan,Tidak menunggu lama, maka orang-orang yang diinginkan mati akan mati semua." sahut Nancy dengan tertunduk.


Cahyono terkejut, tidak menyangka jika perempuan di depannya itu memiliki garis keturunan yang pelik. Karena bisa jadi, jin atau khodam dari kakeknya menurun dan mengikuti perempuan itu, Hal itu akan sangat sulit dihilangkan, karena poerjanjian di masa lalu..


"Jika begitu, kita harus mengarahkan mbak Pipin pelan-pelan bu.. Bu Nancy dan keluarga juga harus bekerja sama, jangan sampai membuat hati mbak Pipin terluka. Nanti saya juga akan mendampingi mbak Pipin dari jauh bu.." akhirnya Cahyono menawarkan solusi pada perempuan itu.


Terlihat Nancy kembali menghela nafas, kemudian..


********


Suasana kampus  semakin lama bertambah panas, tinggal dua hari akan dilakukan pemilihan kabinet baru. Tanpa meminta konfirmasi pada senat universitas, yayasan sudah mengeluarkan kebijakan dan keputusan sepihak dengan mengajukan pemilihan pejabat struktural maju satu bulan ke depan. Terlihat sekali, mereka ingin segera mengganti pejabat struktural yang lama. DanRektor yang masih berada saat ini, tanpa membantah sedikitpun malah tertarik ke dalam lingkaran tersebut. Pemilihan belum diadakan, namun sudah memanggil orang-orang untuk mendampinginya.


"Siapa Ken.. yang barusan datang ke ruang pak Rektor.." Andi yang sudah tidak memiliki sedikitpun rasa hormat pada Rektor saat ini, bertanya pada partner kerjanya.


"Hmm.. itu para penjilat, yang hanya bisa merendahkan teman yang lain. Padahal dia sendiri kinerjanya zonk.. ga terlihat hasil kerjanya. Ga tahu... kenapa Rektor sekarang berani gambling dengan nasib UP ke  depan.  Apa yang ada dan terlintas di pikiran pak Rektor.." tanpa sadar Niken menanggapi pertanyaan Andi.

__ADS_1


Akhir-akhir ini memang pak Umam melakukan sesuatu yang terkesan sangat menjijikkan, Seperti tidak memiliki rasa malu sedikitpun, tidak berusaha menjaga nama dan harga dirinya. Orang-orang  yang masuk golongan opportunist, suka mengadu domba dan berkinerja buruk malah disupport untu menduduki kepemimpinan berikutnya.


"Tagor, Fitri.., Bowi.. itu kan Ken.. karena tidak hanya sekali aku melihatnya datang dan masuk ke ruangan Rektor. Apakah pak Umam itu sedikitpun sudah tidak punya pikiran baik. Sudah tahu mereka berkinerja jeblok, dan pernah ditegurnya karena pelanggaran. Kenapa sampai terbersit niat untuk menjadikan mereka pejabat., Parah.. parah..." Andi mengomentari.


Niken hanya tersenyum, tidak bisa mengatakan sesuatu. Dia tahu bagaimana perasaan Andi, jika laki-laki itu sudah tidak suka atau tidak berkenan dengan kebijakan. Andi tidak akan takut atau bertindak frontal untuk mengatakan ketidak sukaannya. Tiba-tiba pintu ruang kerja pak Adi terbuka, dan sepertinya laki-laki itu mendengar apa yang digunjingkan oleh dua pegawai admin di unitnya itu.


"Kenapa mas Andi.., mbak Niken.. aku dengar lho gunjingan kalian berdua,.." ucap pak Adi menggoda keduanya.


"Tidak masalah pak, memang begitu bukan kenyataannya. Masak di masa depan, UP akan dipimpin oleh orang-orang seperti itu. Mau jadi apa UP nantinya, tidakkah ada lagi di hati Pak Umam itu sedikit kebaikan, tidak malah seperti mengombang ambingkan nasib UP di tangannya." Niken yang memang berani berbicara, menyampaikan kekesalannya.


"Sudahlah mbak Niken.. tidak perlulah dipikirkan seperti itu. Mungkin itu sudah menjadi pikiran pak Rektor, kita lihat saja nanti bagaimana akhirnya. Aku mau ke FST dulu mbak, mas, nanti jika ada yang nanya saya kemana.," ujar pak Adi sambil tersenyum.


"Ya pak.." sahut Niken singkat.


Sepeninggalkan pak Adi, Niken dan Andi saling berpandangan. Mereka paham, bagaimana sikap pak Adi yang sering menghindar seperti tidak mau bergesekan dengan siapapun. Tetapi hal itu berkesan, jika pak Adi itu terkesan hanya mencari selamat, mencari aman untuk dirinya sendiri.


*********

__ADS_1


__ADS_2