
Renita hanya bisa meredam kemarahan teman-teman dalam prodinya dan tidak juga memberi masukan kepada mereka. Karena dengan melihat peta dosen SDM yang ada di prodi Manajemen, memang lebih dari 75% dari jumlah dosen memiliki usia di bawah 30 tahun, yang tentunya masih memiliki tingkat idealisme yang tinggi versi mereka. Tetapi di satu sisi, bagaimana keadaan kebutuhan akan SDM dengan kualifikasi S3 yang sudah untuk didapatkan sering tidak menjadi sudut pandang mereka, untuk itu Renita tidak akan menyinggung dari hal tersebut, agar tidak menimbulkan konflik.
"Kemudian bu.., sepertinya ada sesuatu yang dibawa oleh salah satu dosen baru itu bu yang namanya pak Anggi.., apa pak Anggi itu menggunakan jasa dukun atau kekuatan lain ya bu, karena begitu kita berkomunikasi dengannya, kita akan merasa tidak enak di badan." mbak Cici admin prodi menceritakan.
"Iya bu.. makanya bu Renita harus bertemu dengan beliau untuk memastikannya. Tolonglah bu... karena kami sangat penasaran bu." Ella ikut menambahkan,
Dari tempat duduknya bu Putri Kaprodi Manajemen tersenyum ikut menguatkan celotehan dua karyawan adminnya.
"Hmm... ya nanti kapan-kapan aku tak silatutahmi ke ruang sebelah. Ya tidak mungkin kan, jika tiba-tiba aku nongol di ruangan tersebut. Aku bukan pejabat, dan juga tidak begitu dekat dengan dosen-dosen yang ada di ruangan itu. Nanti kalau pas ada Nana, aku tak pura-pura tebar pesona disana.." akhirnya Renita menyanggupi untuk menenangkan mereka.
"Alhamdulillah.., semangat bu Ren.." mbak Ella berteriak menyemangati bu Renita.
Renita tersenyum, kemudian membuka laptop di meja panjang yang ada di ruang admin prodi. Perempuan itu kemudian membuka file dan Google Drive, dan melihat tugas-tugas tagihan untuk menghadapi visitasi akreditasi yang belum dikumpulkannya. Tetapi Renita sebenarnya selalu mengirimkan hasil luaran dari setiap tugas dosen yang dilakukannya, seperti mengikuti seminar, conference, artikel, pengurusan HaKi dan semua tugas lainnya,
"Bu Putri.. tugas yang perlu aku kumpulkan untuk persiapan visitasi sudah semua ya bu.." agar tidak multi tafsir, Renita menanyakan tugas yang belum ada,
"Secara keseluruhan sih sudah untuk bu Renita. Tapi untuk sertifikasi kompetensi kita masih kurang bu, mungkin bu Renita pernah ikut kegiatan sertifikasi, jika ada bisa dikumpulkan bu.." Bu Putri menanggapi pertanyaan Renita.
__ADS_1
"Aku ada bu sertifikasi Pekerti AA, kemudian Tim Pengendali Internal Keuangan, dan sebagai Tim Pengadaan Barang dan Jasa. Nanti aku kirim kan ke email mbak Cici untuk soft filenya," sahut Renita sambil membuka file pada folder yang ada di laptopnya, siapa tahu memiliki soft filenya.
"Alhamdulillah ada juga akhirnya.. Dari kemarin kita berpikir, untuk nilai ini bisa kosong ga ada isinya. Untung ada tambahan dari Bu Renita." Bu Putri terlihat senang mendapatkan tambahan sertifikat.
Setelah membuka-buka folder dan file, akhirnya Renita menemukan sertifikat yang dimaksud. Untuk mencegah kelupaan, saat itu juga Renita mengunggah file tersebut ke Google Drive dan juga mengirimkan ke email mbak Cici.
"Untuk rapat persiapan visitasi akan diadakan kapan Bu Putri.., semoga pas tidak berbenturan acaranya," untuk mengatur jadwalnya Renita menanyakan agenda rapat.
"Yang mengagendakan rapat fakultas bu.. karena untuk akreditasi sekarang kan yang handle UPPS, pelaksana program studi kan fakultas, Jadi kita sekalian ikut dengan agenda fakultas saja sekalian." sahut bu Putri.
"Hmm.. okaylah, kita hanya tutwuri saja bu. Ikut kemauan pimpinan, tetapi saya sampaikan di awal ya. Kalau jadwal rapat tabrakan dengan aku kuliah, aku ijin nantinya." untuk tidak menimbulkan pertanyaan, Renita sudah menyampaikan informasi di awal.
********
Renita masih duduk di ruang admin prodi, karena ketika duduk di situ tubuhnya bisa beradaptasi, sangat beda jika duduk di ruang dosen. Tanpa diketahui, tiba-tiba Noncy sudah berada di belakangnya, dan memegang kedua bahunya. Renita menengok ke belakang..
"Nyah.. pulang yuk.., kamu tidak boleh lama-lama disini, harus segera berpindah tempat untuk netralisasi." dengan suara pelan Noncy mengingatkan Renita.
__ADS_1
"Jangan dulu bu.., masih banyak yang harus dibicarakan dan dibahas dengan bu Renita. Kami belum pernah menghadapi visitor bu.., kalau bu Renita kan sudah sangat sering." Bu Putri merasa keberatan.
"Iya saya tahu.. nanti Bu Renita biar membuat pemetaan apa-apa yang harus segera disiapkan. Tetapi banyak medianya, tidak harus bertemu langsung. Nanti bisa dikirim bu Renita via whattsapps ataupun via email, jadi bua renita harus segera pergi dari ruangan ini." Noncy tetap bersikeras mengajak Renita untuk meninggalkan ruangan.
Beberapa orang yang berada di dalam ruangan itu, yang sudah mendengar ketika perempuan itu mengalami reaksi pada minggu lalu, akhirnya terdiam. Mereka akhirnya tidak dapat lagi memiliki alasan untuk menahan keberadaan Renita di ruangan itu.
"Oh ya bu.. maaf ya.." dengan cepat Bu Putri mengijinkan Renita untuk meninggalkan ruangan tersebut,
Renita segera digandeng Noncy, dan diajak pergi untuk meninggalkan ruangan tersebut. Noncy yang sering menangani dan menyaksikan bagaimana sahabatnya itu terpuruk dan tidak bisa mengendalikan dirinya ketika reaksi, harus segera membawa pergi Renita dari tempat itu.
"Nyah.. kenapa sih tidak mendengarkan kata-kataku. Sudah lupakan kerjaan akreditasi untuk sementara. Itu bukan tugas loe lagi, sudah banyak dosen baru yang lebih pintar, dan lebih cekatan. Masa kita sudah habis Nyah.., cobalah lupakan sementara sampai dirimu kembali fit, segat 100%. Ini bukan pilihan kok, sama ketika ada orang ngirimi loe santet, loe juga tidak bisa memilih untuk tidak menolaknya." sambil berjalan Noncy terus mengingatkan Renita.
"Maksudku juga begitu mak,. tapi aku lahir di prodi, dari awal prodi itu berdiri di tahun 1997. Mau akreditasi, semua masih santai, tidak ada action siapapun ga akan tega makk.." Renita membuat alasan untuk membela diri,
"iya aku paham dan ngerti nyah..., tapi ingat fisikmu, kondisi tubuhmu.. Aku tadi ga tahu nyah, kenapa tiba-tiba aku bisa datang ke ruang admin prodi Manajemen. Jika tadi aku tidak datang, aku yakin kamu akan mengalami reaksi lagi," sahut Noncy dengan ketusnya.
"Hmmm.. memang benar makk.. Tadi mata kananku sudah nyeri, dan harus segera aku tetes dengan ruqyah Sidr. Untung ada loe di belakang gue, jadi sebagian tertarik ke badan loe. Iya deh mak,. aku tak cuek dulu, ga usah usul-usul dengan mereka." akhirnya Renita menyadari kondisi tubuhnya.
__ADS_1
"Bagus.. ingat itu, bukan tugas dan tanggung jawab kita lagi. Sudah ada generasi penerus yang akan melanjutkan tongkat estafet kita, tidak kita terus yang secara usia dan masa kerja sudah tua." Noncy masih terus mengingatkan Renita, karena sering Renita ngeyel dan terlena. Tingkat hasrat membantu Renita pada orang lain memang sangat tinggi, bahkan terkadang akan membalik ke Renita sendiri.
**********